Aku anggap saja ini sajak
Pada pagi, saya menghabiskan waktu dengan menghamba kepada ketergesaan. Tergesa-gesa mandi, tergesa-gesa makan pagi, tergesa-gesa mengejar kereta, tergesa-gesa membaca buletin, tergesa-gesa merapalkan harapan. Saya menyambut hari baru dengan cara yang tidak ada nikmat-nikmatnya. Kadang-kadang, saya terkantuk-kantuk saat angkot yang saya tumpangi belum berhenti di tempat tujuan. Seringnya, saya mengunyah roti di tengah perjalanan. Namun, dalam satu masa ketika kekasih masih ada, waktu melambat. Langkah kaki saya menjadi lebih tenang. Bibir kita masih sempat bertautan. Apa mentari lebih bersinar di masa lalu ketimbang masa sekarang? Pada siang, saya seperti robot dengan baterai yang baru saja selesai dipulihkan. Hidup untuk bekerja. Bahu boleh kaku, punggung boleh nyeri, kaki biar saja keram, tapi pulang bukan lah pilihan. Kemudian, seperti insan ibu kota, saya membeli kafein sebagai bahan bakar meski jantung berdebar tidak karuan. Sementara itu, ketika isi kepala dipenuhi target-target ...