Aku anggap saja ini sajak
Pada pagi, saya menghabiskan waktu dengan menghamba kepada ketergesaan. Tergesa-gesa mandi, tergesa-gesa makan pagi, tergesa-gesa mengejar kereta, tergesa-gesa membaca buletin, tergesa-gesa merapalkan harapan. Saya menyambut hari baru dengan cara yang tidak ada nikmat-nikmatnya. Kadang-kadang, saya terkantuk-kantuk saat angkot yang saya tumpangi belum berhenti di tempat tujuan. Seringnya, saya mengunyah roti di tengah perjalanan.
Namun, dalam satu masa ketika kekasih masih ada, waktu melambat. Langkah kaki saya menjadi lebih tenang. Bibir kita masih sempat bertautan. Apa mentari lebih bersinar di masa lalu ketimbang masa sekarang?
Pada siang, saya seperti robot dengan baterai yang baru saja selesai dipulihkan. Hidup untuk bekerja. Bahu boleh kaku, punggung boleh nyeri, kaki biar saja keram, tapi pulang bukan lah pilihan. Kemudian, seperti insan ibu kota, saya membeli kafein sebagai bahan bakar meski jantung berdebar tidak karuan. Sementara itu, ketika isi kepala dipenuhi target-target atasan, mata saya tidak berhenti menatap jarum jam. Berharap segala perjalanan panjang ini berakhir secepat membalikkan telapak tangan.
Di suatu masa silam, kita sudah duduk manis di sebuah kedai milik seorang tua. Mengunyah donat kampung yang diselimuti gula halus dan meneguk secangkir kopi. Atau barangkali hanya mampir di kantin hanya untuk minum jus mangga dan makan gorengan.
Pada petang, nyaris habis segala tenaga. Saya merenggangkan badan, minum sedikit air putih, dan berkaca. Merapikan anak-anak rambut yang tidak lagi pada tempatnya. Saya nyaris tidak pernah merasakan senja. Seolah-olah langit orange terlalu cepat pudar digantikan cahaya bulan. Lagipula, siapa yang peduli dengan langit yang berwarna merah kekuning-kuningan? Hidup sudah terlampau sesak seperti kereta Sudirman-Depok tiap pukul enam.
Pada malam, saya mati suri. Terjebak dengan sisa makan malam yang terlanjur dingin, ditemani suara radio yang tak lagi diisi oleh penyiarnya. Menyisakan lagu-lagu pupus yang ditujukan untuk raga yang kesepian. Rasa-rasanya ingin berhenti dan menyerah, tapi esok masih akan tiba. Lagipula sia-sia jika berputus asa, sedikit lagi akan tiba hari gajian yang langsung habis dimakan cicilan.
Ingatan saya kembali pada kekasih. Hidup terlalu singkat jika malam hanya berdiam, bukan? Kau ingat tidak lampu warna-warni di pasar malam? Bianglala yang tidak pernah berhenti berputar, dan Ombak Banyu yang bikin mual. Mengapa mimpi yang terlampau indah begitu mengerikan dibandingkan mimpi yang paling buruk? Apakah yang baik seringkih itu? Sebab tidak ada lagi yang tersisa, selain jiwa yang penuh kekhawatiran.
Comments
Post a Comment