Memaknai Hidup

Beberapa hari ini saya digelisahkan oleh hal yang sebenarnya sudah lama bertengger dikepala, tapi enggan untuk saya cari dan temukan jawabannya. Perihal makna hidup. Saat ini saya sedang dalam masa liburan semester kuliah. Untuk mengisi waktu, saya memilih berdiam di rumah, bersitirahat, dan mempersiapkan diri sebelum memasuki kuliah yang saya yakin semakin berat tantangannya. 

Di sela-selanya, saya juga bertemu dengan teman-teman kuliah, karena kebanyakan teman-teman SMP dan SMA saya masih dalam masa ujian akhir dan bahkan sebagian sudah sibuk dengan tugas akhir sebagai syarat kelulusan universitas. Setiap bertemu dengan mereka kami terlibat dalam pembicaraan seputar apa yang sedang kami kerjakan di tengah-tengah liburan semester yang tergolong sebentar ini. Satu teman saya sedang dalam masa magang, satu teman lainnya sedang mengurusi kepanitiaan besar di fakultas, teman saya yang lain sedang pkl, dan sebagai-sebagainya. 

Saya menyadari, selama pertemuan saya lebih banyak mendengar. Bukan, saya bukan tidak mau mendengar, hanya saya saja saya tahu, satu-satunya alasan saya tidak banyak bicara karena saya tidak punya apa pun untuk dibagikan kepada mereka. Pengalaman baru dan seru yang bisa diceritakan, lelahnya, rencana-rencana ke depan, sesuatu hal yang tidak biasa dari kehidupan belajar di kelas. Hal tersebut membuat saya sangat terpukul dan ingin sekali menghindari pertemuan-pertemuan dengan mereka. 

Kepala saya dipenuhi pertanyaan, "apa yang sudah saya kerjakan?" "apakah saya menggunakan waktu saya dengan sebaik-baiknya?" ya pertanyaan ini lahir hasil dari perbandingan diri saya dengan sebagian teman-teman saya. Dipertemuan terakhir kami, saya pulang dalam keadaan menangis karena melihat diri saya rendah dengan menghabiskan waktu liburan hanya dengan hal-hal yang menurut orang lain mungkin tidak berguna. 

Saya hanya membaca buku, menulis, dan pergi dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya.

Hal yang tidak dilakukan oleh teman-teman saya, dan mungkin bagi sebagian orang tidak bernilai.

Hingga kemarin saya harus bertemu dengan dua teman saya yang lainnya, yaitu Irfan dan Jona karena sudah direncanakan dari seminggu sebelumnya. Saya pergi dengan keadaan yang juga belum baik. Hingga akhirnya pada saat kami makan siang, saya memutuskan untuk bercerita apa yang sedang saya gelisahkan.

'kebetulan gue juga sedang mengalami hal yang sama’ Irfan bercerita. Bagi sebagian besar anak ekonomi, khususnya mahasiswa akuntasi, mereka akan dihadapkan pada dua piliihan yaitu skripsi atau magang. Teman saya Irfan adalah mahasiswa ekonomi tingkat akhir. Pada akhirnya ia memilih untuk melakukan skripsi dibandingkan harus menyusun laporan magang.

Pada saat itu, pilihan teman saya untuk menyusun skripsi adalah sesuatu yang bodoh bagi sebagian mahasiswa akuntansi. Tidak realistis.  Terlalu idealis, dan sebagai-sebagainya. Orang-orang melihat bahwa tujuan wisuda adalah untuk bekerja. Kemudian untuk apa memilih skripsi jika melalui magang, peluang kerja dan direct hiring sangat jauh lebih besar.

Teman saya menjelaskan bahwa ia memiliki alasan mengapa memutuskan untuk mengambil skripsi. Di samping karena pengalaman skripsi tidak akan ia dapatkan selain di sarjana, ia juga memiliki alasan khusus. Sebagai seorang laki-laki, menulis dan membaca adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Dan melalui skripsi, ia bisa belajar hal tersebut, hal yang sudah ia rencanakan dari awal tahun 2018 namun tak kunjung terlaksana.

Jona lain lagi. Ia bilang, liburannya dihabiskan tidak kalah buruk dibandingkan orang lain. Ia memutuskan hanya di rumah, nyapu, ngepel, mencuci, dan membereskan rumah. Setelah selesai melakukan pekerjaan rumah, ia akan menghabiskan waktu dengan menonton serial tv sebanyak-banyaknya, kadang pergi bermain bersama teman-temannya.

"Kemudian, apakah itu bermakna dan bernilai?" Jona tersenyum saat mengajukan pertanyaan itu

Sebagian orang mungkin akan menjawab tidak. Tetapi apakah benar? Jona bilang, apa yang menurut orang lain tidak bernilai, justru bernilai bagi dirinya. Saat orangtua nya pulang dan melihat rumah dalam keadaan rapi, mereka akan senang dan tidak stres karena melihat rumah yang berantakan. Kami jadi punya waktu untuk mengobrol banyak hal di malam hari, tanpa perlu marah-marah sebelumnya. Sesuatu hal yang sulit terjadi jika saya sudah masuk kuliah. Itu bermakna, setidaknya bagi keluarga saya sendiri. 

Saya teringat kalimat teman saya, Irfan yang berhasil menyentil pikiran saya "Pisang bukan satu-satunya buah" Apa yang dikerjakan oleh kebanyakan orang lain tidak harus selalu dikerjakan oleh kita juga.

Setelah sampai di rumah saya kembali menceritakan perbincangan saya dan teman-teman kepada salah satu adik tingkat saya. Bagaimana kekhawatiran dan ketakutan ini membuat saya tenggelam dalam pemikiran yang justru merugikan saya.

Ternyata dewasa memang bukan perkara usia. Tidak bermaksud menggurui saya, ia bilang "Setiap orang memiliki takaran sendiri untuk menilai seberapa berharga diri mereka" Ia bilang, kali ini saya mengukur dari segi kegiatan, tetapi tidak semua orang menjadikan pengalaman sebagai ukuran dari pertemanan. Seharusnya saya tidak perlu minder karena menganggap diri saya tidak punya pengalaman yang wow dibandingkan dengan orang lain.

Pada kasus ini, kami (dirinya, dan teman-teman saya) berteman bukan karena apa yang kau punya, tetapi karena kau yang sebenarnya, dan apa adanya. Ia terus mencoba meyakinkan saya.

Saya menyetujui apa yang dikatakan ketiga teman saya.  Seringkali, kita menilai ukuran ‘bermakna’ dengan ukuran kita sendiri. Yang tanpa kita sadari ukuran itu juga yang akan digunakan orang lain untuk menilai apa yang kita kerjakan. Dan jika pendapat mereka tidak sesuai dengan kita, hal itu justru berakhir dengan kekecewaan pada diri kita sendiri.

Padahal setiap orang memiliki peran yang berbeda-beda. Tidak semua yang kita lakukan dapat dibandingkan dengan apa yang orang lain kerjakan.

Karena yang terpenting bukan seberapa baik dan bagus penilaian orang terhadap ‘kebermaknaan’ kita, karena jika kita memandang hal tersebut, justru kita kembali berfokus pada diri kita sendiri, supaya memiliki nilai yang baik di mata orang lain, tetapi seharusnya seberapa besar kita benar-benar menyadari bahwa kita didesain ada di tengah-tengah dunia bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk menjadi penolong dan bermakna bagi sesama manusia.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali