Posts

Showing posts from February, 2019

sebuah pemahaman

sebut saja ada tembok besar berlapis awan yang mengungkung kita dari dunia luar. membuatku hanya bisa bergantung kepadamu dan kau hanya tahu seorang aku. tidak ada petir yang mampu meruntuhkan tembok besar itu, karena ia tahu, kau juga aku masih akan terus berjalan berirama dan menjadi padu. kita tidak saling memiliki, tapi tembok besar berlapis awan membantuku mengerti, kalau kau dan aku tidak perlu saling memiliki untuk bisa menikmati hujan malam ini, sekali lagi, dan seterusnya.

Barangkali

barangkali yang kau suka bukan teman untuk berdialog melainkan apa saja  yang membuat heningmu hilang barangkali apa-apa dariku   akan selalu kurang meski telah banyak waktu yang kubuang untuk memastikanmu tenang barangkali gunung dan laut tertawa karena aku melamunkan  ketidakmungkinan rasa berubah wujud nyata barangkali aku yang mudah cemburu dengan apa-apa yang kau lakukan dengan apa-apa yang kau genggam aku tidak punya sabar barangkali aku yang tidak tahu diri meminta banyak perhatian atas kita yang bukan siapa-siapa barangkali seperti burung gereja yang pergi melalu terbang esok hari dan seterusnya aku takkan melihatmu pulang mari sudahi saja barangkali kita sama-sama lega mari sudahi saja barangkali memang bukan kamu memang bukan kita ditulis di Saturasi Kopi, Tebet, Jakarta Selatan

kamu dan hal-hal yang tidak pernah terjadi

pada hari-hari yang biasa aku mengeluhkan pertemuan kita yang sebentar menyesali waktu yang melerai kau dan aku karena malam sudah mulai pada hari-hari yang biasa gelak kau dan aku masih jelas dalam ingatan mata yang berbinar-binar membuat hati berdebar-debar pada hari-hari yang biasa wajah kau dan aku kadang muram karena harus berpisah meski esok atau lusa sudah kembali bertukar cerita pada hari-hari yang biasa kau dan aku masih sama-sama berlari untuk kemudian kau lupa cara kembali atas kesedihan yang tidak pernah kurencanakan aku dan kau begitu pandai menjadikannya perayaan seperti pencuri di malam hari; sembunyi-sembunyi aku mengerti, kau tidak pernah ada lagi pada pagi yang semakin biasa-biasa kita tidak lagi berada pada kisah yang sama kau menolak berbagi tawa dan ogah memikul lara bersama setidaknya kita pernah belajar berbagi rasa mengecap arti kata bermakna meski pada akhirnya kau berkelana dan menyisakan luka belaka untuk kesekian kalinya, ...