Posts

Showing posts from December, 2019

Mencintai Kehilangan

Cinta itu termasuk kehilangan, engkau. Aku tidak bisa melihatmu lagi, tetapi kenangan punya mimbar yang selalu bisa memperdengarkan khotbahmu yang berapi syahdu. Aku tidak bisa memelukmu lagi, tetapi ingatan punya panggung yang senantiasa luas untuk memperdengarkan persembahan pujianmu yang manis didengar. Kehilangan itu, termasuk cinta engkau. Tuhan mengamuk karena ular mesti menjadi ular dan bisa-nya mesti menjadi racun untuk membuat adam tergoda. Air bah menghancurkan peradaban karena kenyataan mesti menjadi kenyataan dan kematian mesti menjadi peringatan pada kesementaraan hidup. Maka, kehilangan mesti dicintai juga dengan adil seperti seharusnya mencintai diri sendiri, sebab hanya luka yang bisa memanusiakan pikiran manusia. Merelakan yang berharga, tidak diukur dengan dinar, kecuali kebesaran hati untuk menerima sebab kita bukanlah yang memberi perasaan cinta. Aku bahkan tidak memahami arti dari kehilangan, sebab kau tetap tinggal dengan cara yang tidak masuk akal. Aku mau ...

Tentang Kesedihan

Untuk kekasih, kesalahan terbesarmu yang paling benar bagiku sekarang adalah, membiarkanku disiksa rindu dan kau tak ada. kupaksakan diriku menjadi robot yang tidak mengenal kata tidur. kuhukum diriku dengan hujan pekerjaan. kurelakan diriku menjadi bagian dari sunyi yang tidak terelakkan. kuberikan diriku menjadi bulan-bulanan perasaan. aku telanjang. semua orang mengasihani, semua orang berempati, semua orang meninggalkan. kebenaran terbesarmu adalah meninggalkan aku sebagai sepi tanpa api di dapur yang tidak bisa lagi mengepulkan asap. kulakukan semua yang kubisa saat ini sayang, merasaimu lewat angin dan memandang jalan-jalan beraspal yang ditinggalkan bayang-bayang. aku sakit. perlahan-lahan, patah dahan, patah pula kesabaran. aku gila, perlahan-lahan, tertawa keras-keras, menangis dalam-dalam. aku mati, perlahan-lahan, tidak punya keinginan, kehilangan harapan. untuk kekasih, bukan kau. bukan karena kau. bisikku kepada diri sendiri.