Mencintai Kehilangan
Cinta itu termasuk kehilangan, engkau. Aku tidak bisa melihatmu lagi, tetapi kenangan punya mimbar yang selalu bisa memperdengarkan khotbahmu yang berapi syahdu. Aku tidak bisa memelukmu lagi, tetapi ingatan punya panggung yang senantiasa luas untuk memperdengarkan persembahan pujianmu yang manis didengar. Kehilangan itu, termasuk cinta engkau.
Tuhan mengamuk karena ular mesti menjadi ular dan bisa-nya mesti menjadi racun untuk membuat adam tergoda. Air bah menghancurkan peradaban karena kenyataan mesti menjadi kenyataan dan kematian mesti menjadi peringatan pada kesementaraan hidup. Maka, kehilangan mesti dicintai juga dengan adil seperti seharusnya mencintai diri sendiri, sebab hanya luka yang bisa memanusiakan pikiran manusia.
Merelakan yang berharga, tidak diukur dengan dinar, kecuali kebesaran hati untuk menerima sebab kita bukanlah yang memberi perasaan cinta. Aku bahkan tidak memahami arti dari kehilangan, sebab kau tetap tinggal dengan cara yang tidak masuk akal.
Aku mau percaya, bahwa setiap mimpi menemukan artinya, layaknya pengawas minuman dan pengawas roti, tentang hidup dan mati, seperti rindu dan kasih. Keduanya ialah kekuatiran dan kekuatan yang masih tetap memotivasi manusia untuk menjalani kehidupan, sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya.
Aku mau yakin, setelah melihat kaki-kaki telanjangmu pergi, Eden hadir di taman hatiku. Indah sekali. Air sungai Tigris mengalir deras dan setiap jejak langkahmu menjadi buah iman yang aku kunyah setiap pagi. Bahwa Tuhan begitu romantis saat menyiapkan jalan bagiku. Pesta dengan iringan kecapi, mengairi kehampaan menjadi sungai harapan.
Ini seperti natal bukan? Kita merayakan kelahiran; kau senantiasa hidup kembali, dan aku menyambutnya dengan bersuka hati.
Ditulis di Teras Koepi, Jakarta Barat
Tuhan mengamuk karena ular mesti menjadi ular dan bisa-nya mesti menjadi racun untuk membuat adam tergoda. Air bah menghancurkan peradaban karena kenyataan mesti menjadi kenyataan dan kematian mesti menjadi peringatan pada kesementaraan hidup. Maka, kehilangan mesti dicintai juga dengan adil seperti seharusnya mencintai diri sendiri, sebab hanya luka yang bisa memanusiakan pikiran manusia.
Merelakan yang berharga, tidak diukur dengan dinar, kecuali kebesaran hati untuk menerima sebab kita bukanlah yang memberi perasaan cinta. Aku bahkan tidak memahami arti dari kehilangan, sebab kau tetap tinggal dengan cara yang tidak masuk akal.
Aku mau percaya, bahwa setiap mimpi menemukan artinya, layaknya pengawas minuman dan pengawas roti, tentang hidup dan mati, seperti rindu dan kasih. Keduanya ialah kekuatiran dan kekuatan yang masih tetap memotivasi manusia untuk menjalani kehidupan, sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya.
Aku mau yakin, setelah melihat kaki-kaki telanjangmu pergi, Eden hadir di taman hatiku. Indah sekali. Air sungai Tigris mengalir deras dan setiap jejak langkahmu menjadi buah iman yang aku kunyah setiap pagi. Bahwa Tuhan begitu romantis saat menyiapkan jalan bagiku. Pesta dengan iringan kecapi, mengairi kehampaan menjadi sungai harapan.
Ini seperti natal bukan? Kita merayakan kelahiran; kau senantiasa hidup kembali, dan aku menyambutnya dengan bersuka hati.
Ditulis di Teras Koepi, Jakarta Barat
Comments
Post a Comment