Puisi di Tengah Malam
sudah tiba waktunya, acuhmu tidak mengenal kata iba. saat itulah tubuhmu berlabuh ke arah yang salah. kau lupa cara mengucap sapa, sengaja memancing amarah, meniduri malam tanpa cinta, dan aku adalah si tolol karena tak bisa melihat tanda baca dari matamu yang berpura-pura. saat aku berdalih, yang tertinggal dibibirmu hanya sunyi. lalu aku harus belajar sendiri untuk tidak mengingat apa-apa lagi. sekadar foto kita di galeri, percakapan-percakapan mesra di memori, dan hubungan baik karena kau terlanjur benci. aku marah, jiwaku berdarah, namun kau tak kuasa, untuk memperbaiki segala, malah menyaksikan kumati perlahan-lahan tak bersisa. Journey of Healing, Day 23 Jakarta, 23 April 2020.