Percakapan-percakapan yang terekam diingatan

Pada suatu hari yang direncanakan, aku pergi bersamanya ke sebuah kawasan wisata di utara Jakarta. Kami duduk di pinggiran pantai, yang dibuat dengan semen menyerupai warna pasir, menghadap ke arah laut, melihat air, dan langit.

Di depan kami anak-anak kecil sedang bermain. Ada yang membuat istana pasir, ada yang sedang mengubur diri mereka sendiri dengan pasir, ada yang bermain kejar-kejaran bersama ombak.

Aku tidak ingat, kapan terakhir aku mengunjungi pantai. Mungkin satu tahun yang lalu, bisa jadi dua hingga tiga tahun yang lalu. Yang aku ingat, aku senang ia mau menemaniku berjumpa dengan angin pantai, memijak pasir, bercumbu dengan bau amis laut.

Aku berkata kepadanya bahwa pantai seperti membawa kedamaian tersendiri bagiku.

"Apa sebelumnya kau tidak dalam keadaan damai?" ia bertanya setelah menghembuskan uap dari vape yang ia pegang. Asapnya pelan-pelan menghilang, menyatu dengan alam.

Aku tertawa mendengar pertanyaannya. "Tidak. Aku baik-baik saja." lalu ia bertanya lagi "Jadi apa yang membawamu ke sini?"

Aku menggeleng. "Tidak ada. barangkali hanya bosan dengan suasana kota."

Ia diam, dan mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Kami duduk dalam hening. Ia dengan vapenya, dan aku dengan pikiran-pikiranku.

Setelah duduk cukup lama, aku mengajaknya kembali berjalan, mencari spot-spot lain. Kami berjalan di atas pasir, lebih tepatnya aku, karena sepatu sendal yang kupakai membuat langkahku berat jika terus kugunakan.

"Aku seperti sepasang kekasih yang romantis mengajak pasangannya pergi ke pantai." katanya tiba-tiba. Aku tertawa mendengar gurauannya, lalu berkata: "Memangnya kamu tidak romantis?"  "Menurutmu bagaimana? aku tidak pandai menulis puisi sepertimu yang membuat hati pasangannya menghangat ketika membaca buah karyanya. Tidak juga pintar bermain musik seperti orang lain yang membuat pasangannya tersanjung ketika mendengar melodi yang mereka mainkan."

Aku menggenggam tangannya erat, tanda tidak setuju dengan kalimatnya. "Cinta adalah bahasa yang universal, sayang. Kau tidak perlu menjadi pujangga jika kau tidak suka menulis, tidak juga perlu memaksa mahir menggunakan alat musik jika itu tidak membuatmu senang. Kau tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk menunjukkan perasaanmu. "

"Lalu, apa yang kau lihat dari diriku?"

Aku menggumam panjang. "Apa ya, wajahmu? Ya, kau cukup tampan dibandingkan dengan yang lain." Ia menjitak kepalaku pelan. "Maksudmu, satu-satunya hal yang kupunya hanya wajahku saja?"

Aku tertawa mendengar penolakannya. "Kau, aku menyukaimu, karena kau menjadi dirimu sendiri." ucapku sambil menjitak kepalanya pelan sebagai balasan.

Ia terdiam, dan tersenyum malu. "Kau memang pujangga ulung. Kita cari kopi saja yuk." ajaknya.

Aku semakin tertawa melihat kekikukannya, lalu berkata: "Dalam hidup di tengah-tengah panggung sandiwara ini, kita memang membutuhkan orang lain yang mau menerima kita tanpa perlu membuat kita memakai topeng. Sekaligus, mendukung kita untuk terus bergerak maju, berproses, dan berubah tanpa pernah memaksa kita untuk menjadi pribadi yang tidak kita kenal. Kita akan mudah jatuh cinta dengan orang yang seperti itu."

Ia tersenyum, mungkin baru mengerti bahwa aku mengatakan kebenaran.





Journey of  Healing, Day 22
Jakarta, 19 April 2020.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup