Apa yang saya temukan di rumah?

Beberapa minggu yang lalu saya menemukan satu unggahan di Instagram dari akun milik Romansa Melankolia. Begini bunyinya: Apa yang kamu temukan di rumah?

Sebenarnya, saya tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu, layaknya tugas-tugas dari dosen yang memiliki tenggat waktu untuk dikumpulkan. Tapi kalimat tersebut seperti punya sihir yang membuat siapa saja yang membaca untuk diam sejenak demi menemukan jawabannya, tanpa harus menulis di kolom komen unggahan.

Saat itu, sudah dua bulan sejak Jakarta menerapkan PSBB karena pandemi, yang membuat saya atau kalian harus di rumah demi mencegah penularan virus. Bagi beberapa orang, di rumah adalah kesempatan untuk beristirahat, atau barangkali sebagai momentum untuk beres-beres, mengelap meja yang sudah penuh debu, bermain dengan kucing peliharaan, menyiram tanaman yang mulai layu, dan merasakan kembali kumpul-kumpul makan bersama keluarga karena sebelumnya terbiasa menghabiskan hari bersama tumpukan pekerjaan, dan macetnya Jakarta.

Tapi bagaimana dengan mereka yang kehilangan sukacita di rumah?

Patah hati dan pandemi adalah duet maut paling sempurna yang bisa membunuh saya perlahan-lahan dalam kesepian dan kebosanan, ditambah lagi ketidakpastian untuk bisa kembali hidup dengan normal. Diam di rumah saja mengingatkan saya pada kekasih yang memutuskan pergi. Saya muram melihat pagar rumah yang warna cokelatnya mulai luntur. Dulu, selalu ada kekasih yang tidak rela melambaikan tangan karena ia harus pulang. Saya kecewa menyaksikan anak-anak kucing berkumpul di teras rumah saya. Dulu, selalu ada kekasih yang sengaja membeli whiskas untuk kucing-kucing tetangga. Saya menangis setiap kali harus melihat meja makan yang rapi namun tidak dihuni. Sebab dulu, selalu ada kekasih menemani makan, membuka percakapan.

Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang seharusnya sudah dikubur dalam-dalam semenjak kekasih mengucapkan kata selesai tanpa pernah memberikan alasan. Seharusnya kenangan-kenangan itu sudah tidak lagi muncul dalam pikiran, semenjak kekasih bungkam.

Tembok-tembok rumah seolah mengadili saya dengan bayang-bayang masa lalu. Mengurung saya, membuat saya terpojokkan. Atapnya yang kokoh tidak lagi melindungi, justru seperti layar tancap yang menampilkan adegan demi adegan waktu saya masih bersama kekasih. Ia yang mengaku cinta namun meninggalkan. Menghadirkan kembali perasaan kesepian, sendirian, meski kejadian itu sudah berlangsung cukup lama.

Di rumah saja adalah masa-masa terberat bagi saya, tapi saat yang bersamaan, yang juga memaksa saya untuk berhadapan dengan kenyataan. Kenyataan bahwa tidak ada lagi kekasih dalam keseharian saya, kebenaran bahwa saya ditinggalkan, realita bahwa saya tidak selalu mendapatkan jawaban atas setiap pertanyaan.

Di rumah saja mendesak saya untuk mengakui bahwa saya masih seringkali merindukan kekasih,
menangis atas kepergian kekasih namun masih terus berjalan, menghidupi kehidupan.

Kembali ke rumah berarti berdamai dengan masa lalu.

Jadi, apa yang saya temukan di rumah?
tentu saja, diri saya sendiri.







Journey of Healing, Day 21
Jakarta, 02 April 2020.





Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup