Tentang Hari-Hari yang Berat, dan Orang-Orang yang Tidak Berhenti Bergerak
Hari ini adalah genap tiga minggu sejak badan saya ambruk yang membuat saya perlu banyak beristirahat di rumah. Sebelumnya keadaan memang masih mengharuskan saya untuk pergi, dan saat ini menghabiskan hari demi hari hingga berminggu-minggu dengan berada di rumah saja membuat saya seperti terkukung dalam sebuah bangunan dari semen, dengan penghuni yang itu-itu saja. Masih berkabung karena patah hati, deadline skripsi, serta pandemi yang mengubah gaya hidup adalah duet maut paling sempurna yang bisa membunuh saya pelan-pelan dalam kesendirian, kesuntukan, dan kebosanan. Satu minggu pertama saya habiskan hanya dengan minum vitamin, makan dengan nutrisi yang cukup, serta tidur dengan jam yang lebih panjang dari pada biasanya. Tidak ada aktivitas yang menarik selain mengecek lini masa twitter dengan harapan ada cuitan-cuitan lucu yang bisa menghibur. Disaat aturan tidak lagi mengizinkan setiap orang untuk berkumpul, internet memang menjadi satu-satunya alat untu...