Tentang Hari-Hari yang Berat, dan Orang-Orang yang Tidak Berhenti Bergerak
Hari ini adalah genap tiga minggu sejak badan saya ambruk yang membuat saya perlu banyak beristirahat di rumah. Sebelumnya keadaan memang masih mengharuskan saya untuk pergi, dan saat ini menghabiskan hari demi hari hingga berminggu-minggu dengan berada di rumah saja membuat saya seperti terkukung dalam sebuah bangunan dari semen, dengan penghuni yang itu-itu saja.
Masih berkabung karena patah hati, deadline skripsi, serta pandemi yang mengubah gaya hidup adalah duet maut paling sempurna yang bisa membunuh saya pelan-pelan dalam kesendirian, kesuntukan, dan kebosanan. Satu minggu pertama saya habiskan hanya dengan minum vitamin, makan dengan nutrisi yang cukup, serta tidur dengan jam yang lebih panjang dari pada biasanya. Tidak ada aktivitas yang menarik selain mengecek lini masa twitter dengan harapan ada cuitan-cuitan lucu yang bisa menghibur.
Disaat aturan tidak lagi mengizinkan setiap orang untuk berkumpul, internet memang menjadi satu-satunya alat untuk menyambung kehidupan. Sebagai orang yang tidak nyaman mengobrol lama-lama melalui telepon, atau chatting yang terlalu intens, twitter bisa membuat hidup saya lebih ramai tanpa perlu berinteraksi langsung dengan orang-orang di sekeliling saya. Hanya membaca kegelisahan, caci maki, dan kadang kala ucapan syukur mereka dalam 280 karakter rasanya sudah lebih dari cukup. Sampai pada suatu siang di hari Minggu, saya menemukan utas dari seorang ibu yang memutuskan untuk berkebun di rumahnya setelah sistem work from home diberlakukan. Utas tersebut seperti angin segar di tengah sesaknya informasi tentang COVID19 yang tidak pernah berhenti diberitakan dari pagi, siang, dan malam. Sebagai seorang followers yang baik yang terberkati dengan utas tersebut, saya membalasnya dengan mengucapkan terima kasih karena sudah berbagi hal lain yang menyenangkan mata. Tidak diduga, pesan saya di-reply oleh sang empunya dengan sebuah kalimat yang kira-kira begini bunyinya "Turut senang ada yang ikut membaca kegiatan baru saya. Ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.”
Kalimat tersebut mengingatkan saya pada sebuah lagu yang dinyanyikan oleh band lokal asal Bali-Semoga Ya dari Nosstress.
Semoga ya hari ini lebih baik dari hari kemarin
Yang lewat begitu saja tanpa lakukan apa-apa
Semoga ya pagi ini lebih cerah dari pagi kemarin
Mungkin bisa bangun lebih dini tuk bergegas siapkan diri
Yang lewat begitu saja tanpa lakukan apa-apa
Semoga ya pagi ini lebih cerah dari pagi kemarin
Mungkin bisa bangun lebih dini tuk bergegas siapkan diri
Semoga ya hari ini
Semoga ya semoga
Ya semoga tak ada guna bila kumasih hanya diam saja
Semoga ya semoga
Ya semoga tak ada guna bila kumasih hanya diam saja
Yang bosan dan dilingkupi ketakutan tidak hanya saya. Yang menginginkan pandemi ini segera berakhir juga tidak hanya saya. Menyadari bahwa semua mengalami badainya sendiri, dan tahu masing-masing berusaha untuk membuat kapalnya tetap seimbang, mendorong saya untuk turut mengambil aksi setidaknya demi kewarasan diri saya sendiri.
Setelahnya, saya menyusun beberapa kegiatan yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Seperti olahraga di rumah dengan mengikuti instruksi sekelompok orang sehat yang ada di Youtube. Rasanya seperti bertemu dengan mata kuliah baru di semester yang baru. Tidak memiliki pengetahuan sama sekali, tapi ada semangat untuk memulainya. Saya jadi teringat kepada seorang kawan yang disisa harinya selalu ia gunakan untuk berolahraga. Pada waktu itu ketika kami masih sering mengobrol, saya iseng bertanya perihal apa yang membuatnya rutin berolahraga? Teman saya menjawab dengan tawanya yang khas "Tentu saja postur tubuh yang ideal. Motivasinya mungkin salah, tapi setidaknya aku bergerak untuk mencapai apa yang aku mau."
Ia mengingatkan saya pada adik laki-laki di rumah, yang berusaha keras mendapatkan sepatu bola baru meski harus membantu Ibu menjaga toko satu hari penuh. Menyadarkan bahwa beberapa hal hanya bisa dicapai dengan membayar harga yang mahal, bukan saja soal uang, tapi keseriusan, waktu, dan ketekunan.
Selama masa pemulihan, selain rajin berolahraga saya juga memiliki hobi baru, yaitu mengonsumsi buah-buahan. Saya memang bukan orang yang disiplin, tapi dalam sebuah obrolan dengan seorang teman lama, membuat saya berpikir untuk serius memerhatikan kualitas hidup saya. "Tuhkan, gue udah khawatir lihat pola hidup lu sejak begadang dan ngopi terus" begitu pesannya ketika mengetahui saya jatuh sakit. Jika diingat-ingat, Hikmah satu-satunya orang yang rutin saya ajak bercerita meski hanya melalui pesan Whatsapp. Dengannya saya bisa bertanya banyak hal, dan ia selalu punya jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan. Seperti buah-buahan yang harus saya makan agar cepat pulih, menyusun jadwal minum jus, hingga bertukar cerita tentang aktivitasnya untuk membunuh waktu seperti memasak, bermain game, sampai mencoba membuat video di Tiktok. Salah satu hal yang membuat saya semangat agar segera pulih adalah janji untuk mengunjungi rumahnya, dan melakukan home photoshoot. Jika ia membaca tulisan ini, tentu saja ia akan berteriak dan menagih janji saya.
Pernah dengar sebuah kalimat bahwa kadang kala ada sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara? Saat ini saya dikelilingi oleh orang-orang baik. Tidak hanya satu, melainkan dua, empat, bisa sampai sepuluh. Bertemu dengan Saka dengan cara yang tidak disengaja di tikungan kelas pada semester 5 kuliah, merupakan awal dari hari-hari penuh canda karena kami sibuk untuk menertawai kehidupan kami sendiri. Meski tidak selalu berkabar, ada saja satu waktu yang membuat kami harus saling mengontak yang lain.
Pertanyaan yang sama juga saya ajukan kepadanya, apa yang ia lakukan untuk mengisi hari demi hari? apalagi saat ini ia tinggal disebuah kota kecil di Jawa Tengah, tidak ramai seperti Jakarta. Banyak hal bisa dilakukan di rumah, katanya pada suatu waktu. Mengobrol dengan Ibu, berdikusi dengan adik, dan membuat banyak hal. Rumah adalah inspirasi bagi mereka yang mau berdamai. Bagi beberapa orang, rumah memang bukan sebuah tempat untuk bekerja, atau menghasilkan karya. Tidak semua orang mengalami hal yang menyenangkan di rumah. Tapi kalimatnya tidak pernah sekadar basa-basi, ada kejujuran di sana yang coba ia bagikan.
Disuatu waktu, Saka akan bercerita tentang podcast yang baru dibuatnya, atau deretan artis yang baru saja menyukai unggahan barunya di akun Romansa Melankolia. Atau dilain hari lagi, ia akan bercerita tentang dunia pemasaran seperti waktu kami berada di ruang kelas kuliah. Melihat seorang teman yang sungguh-sungguh melakukan sesuatu, selalu berhasil menularkan semangat yang sama untuk ikut turut berkarya. Sepertinya memang seperti itu cara sukacita bekerja, ia menular bahkan tanpa perlu bertatap muka.
Di waktu yang lain, setelah permintaan tolong untuk mengisi kuesioner skripsi, saya berkesempatan mengobrol banyak hal dengan seorang kaka tingkat yang saya kenal baik. Saya bercerita kejadian-kejadian penting yang cukup memengaruhi hidup saya, membuat saya terpuruk dan bersedih terlalu lama. Setelahnya ia mengaku bahwa saya tidak sendirian. Katanya, ia juga sedang bergumul dengan banyak hal, dan belajar untuk menerima keadaan. Kesedihan, merelakan, dan menyadari bahwa diri perlu dicintai bukan lagi bicara soal usia. Ia menyarankan saya untuk terus mengerjakan hal-hal yang saya suka, mengisi hari dengan energi positif sambil pelan-pelan merelakan pengalaman-pengalaman yang tidak melulu baik.
Hari-hari ini memang bukan hari yang mudah untuk dijalani, tapi berdiam diri tanpa melakukan apa-apa juga bukan sebuah solusi. Oleh karena itu, saya juga mau belajar dari mereka yang terus bergerak mengerjakan sesuatu, menghasilkan karya, berdamai dengan keadaan.
Saya akan terus melakukan hal-hal yang suka; membaca buku di dekat jendela, bermain ukulele sambil mengangkat pujian, menulis tentang kesedihan, mengabadikan apa saja.
Mungkin, langit memang tidak selalu biru, jalan memang tidak melulu lurus, tapi selalu ada hari untuk dijalani bagi mereka yang percaya.



Comments
Post a Comment