Ingatan-Ingatan yang Mulai Samar

Jangan hujan dulu, aku belum cerita. Tentang tenda-tenda warung makan di sepanjang jalan pusat Jakarta itu. Kamu ingat kan ketika malam-malam yang tampak biasa menjadi riuh karena kita makan nasi uduk dengan teh manis, menu yang tidak spesial tapi bisa jadi memorial. Aku mengagumi konsistensimu, makan dua dada ayam, meski sesekali menyuap nasi milikku. Nanti, di penghujung sisa makananmu, tetes-tetes keringat mulai berjatuhan karena sambal yang terlalu pedas dari yang kauperkirakan. Apakah kau menyadari, kau juga salah satu orang yang paling keras kepala sepertiku! Tapi tak apa, aku tak pernah keberatan untuk selalu mengambil tisu dan mengelap dahimu, kemudian menyaksikanmu mengulangi hal yang sama.

Jangan hujan dulu, aku kan belum cerita. Tentang kedai kopi yang selalu menjadi tempat kita pulang. Kali ini letaknya di selatan Jakarta. Kau dengan kopi hitammu, aku dengan apa saja tergantung mood-ku pada saat itu. Tapi yang tidak berubah, kentang goreng dengan taburan keju yang menjadi kesenangan kita berdua. Atau jika kita tidak tahu harus memesan apa, kopi susu mereka tidak pernah gagal untuk memanjakan lidah-lidah kita.

Jangan, jangan hujan dulu, aku kan belum cerita. Tentang lagu yang diam-diam kau suka, dan tanpa sengaja kau senandungkan. Lagu-lagu yang kau setel di parkiran mobil saat sedang menunggu kedatanganku. Lagu-lagu yang membuatku menemukanmu di sepotong lirik, untuk kemudian, tanpa sepengetahuanmu akan kudengarkan ketika aku sudah di rumah. Jauh dari itu, lagu-lagu yang menyadarkanku dengan satu pertanyaan "sudah seberapa jauh aku mengenalmu?"  lalu kau akan tertawa, dan berkata "aku tidak merasa bahwa hal-hal seperti ini patut kuceritakan." semenit setelahnya aku akan marah dan membalas ucapanmu dengan gusar "kau ini! ketika kau menjalin sebuah hubungan, kau perlu belajar untuk berbagi dirimu dengan orang lain." yang kau sambut dengan usapan lembut di atas kepalaku.

Iya, jangan hujan dulu, aku belum cerita. Mungkin salah satu tempat yang akan selalu memanjakan matamu. Wajahmu akan berbinar ketika membicarakan salah satu serial film yang sudah lama kau nantikan. Kita akan pergi ke salah satu teater independen di pusat kota, membeli popcorn asin, dua gelas minuman, dan tahu isi yang kini menjadi menu favoritku. Semoga kau tak lupa, kau salah satu orang yang berhasil mengajakku duduk diam selama kurang lebih dua setengah jam di ruangan gelap dengan layar besar di depannya. Sisanya aku lupa, aku rasa teater bukan menjadi rumahku, tapi asal bersamamu, aku mau.

Tunggu, jangan hujan dulu, aku belum selesai bercerita. Selama ini yang aku tahu, aku mencintaimu, tanpa pernah memikirkan bagaimana jika suatu hari nanti kau memutuskan untuk pergi? kurasa, aku bersyukur tak pernah memikirkan hal tersebut sebelum aku benar-benar mengalaminya. kau harus tahu, ini terlalu berat, namun kesedihanku tak mengubah keputusanmu. Kau tetap pergi, barangkali dengan sisa-sisa perasaan yang tak pernah kau suarakan.

Mungkin, memang hujan perlu turun, karena akhirnya itu membuatku sadar, bahkan bumi pun bisa  bersedih, bukan hanya aku.



Journey of Healing (Day 24)
Jakarta, 01 Mei 2020.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup