Karena Amigdala
Dalam satu pekan terakhir saya berkesempatan kembali menikmati lagu-lagu, setelah kebiasaan itu sudah tidak pernah saya lakukan meski sedang dalam masa liburan. Sambil membereskan rumah, membaca buku, selalu ada lagu yang menemani saya. Ibaratnya setiap aktivitas yang saya lakukan selalu punya soundtracknya sendiri. Dari banyaknya lagu yang saya dengar, Amigdala dari debut singlenya yang berjudul Ku Kira Kau Rumah begitu mengusik pikiran dan hati saya. Betapa saya memahami apa yang ingin disampaikan oleh sang penyanyi, setidaknya ini menurut versi saya sendiri.
Maka lahirlah sebuah kalimat-kalimat pendek, sesuai dengan isi lagu band baru indie itu. Tentunya tidak terlepas dari bayang-bayang masa lalu. Tunggu dulu...siapa sebenarnya masa lalu itu? Jangan, jangan dibahas lebih lagi, mari baca dulu sebentar puisi dadakan ini.
Kau dan ketidakhadiranmu
adalah puisi yang tidak pernah usai
Kakimu adalah sungai yang kutelurusi
namun tak kunjung menemukan muaranya
sampai tanganku berkerut
dan kau belum mau menyambut
Punggungmu adalah padang
yang tak habis-habisnya kuputari
sampai patah kaki
dan kau masih memilih bersembunyi
Aku adalah penulis amatir
yang masih tidak mampu menerjemahkan
kata yang kau bagi melalui matamu
Takutkah atau risau
tidak pernah kulihat renjana
tidak ada rumah
tidak kutemukan tempat untuk bersisa
Denah tidak mampu membaca alamatmu
Jalanmu terlalu berliku
rutemu terlalu berbelit-belit
Jadi,
kau yang hanya singgah
atau aku yang terlalu sungguh?
Comments
Post a Comment