Menghargai Kebersamaan
"Aku bersyukur kepada Tuhan setiap kali aku mengingat kamu"
Sore ini seorang sahabat harus kembali ke Semarang, pergi meninggalkan Jakarta dan orang-orang di dalamnya serta pulang kepada teman-teman satu perjuangan almamater yang juga tidak sabar menunggu kedatangannya.
Perihal datang dan pergi bukan pengalaman pertama bagi saya, tapi kenyataannya hal tersebut tidak menjadikan saya akrab dengan mereka. Ditinggalkan oleh sahabat meski untuk tujuan pendidikan selalu berhasil membuat saya terpojokan, merasa sendiri, kesepian dan tidak memiliki teman. Ada rasa takut yang besar setiap kali saya mengetahui jadwal keberangkatan mereka.
Lalu, bagaimana saya melalui itu semua? Bagaimana melunakan setiap pikiran-pikiran yang kerap kali diakhiri dengan tangisan? Saya adalah orang yang senang mengabadikan, baik melalui foto, tulisan dan tentunya merekam dalam ingatan. Yang saya lakukan ialah mencoba menghargai setiap pertemuan yang ada, menghabiskan waktu bersenggama dengan mereka di sudut kedai kopi di bilangan selatan dan timur Jakarta.
Mengobrol dimulai dengan hal yang paling remeh untuk menghancurkan tembok-tembok canggung akibat tidak bertemu berbulan-bulan.
"Apa kabar?"
"Gimana kuliahnya?"
"Di sana dapet apa aja?"
Kemudian beralih kepada sesuatu yang mulai sensitif.
"Udah ada yang nemenin belum?"
"Udah tahu semester depan mau ngapain?"
Juga harapan serta impian.
"Duh kapan yaa bangun kedai kopinya?"
"Doain gue ya bisa dapet tenpat PKL yang bagus"
"Duh waktu cepat banget, gue masih gak tahu harus ngasih judul apa ke dospem gue"
Dan masih banyak lagi percakapan-percakapan sederhana dan rahasia yang mulai tumpah bersamaan dengan segelas cangkir kopi di atas meja. Tidak ada story di instagram, tidak ada tweets di twitter, tidak ada post di Whatsapp, semuanya saya nikmati dengan kedua mata saya dan berusaha saya rekam dalam ingatan.
Semenjak mengetahui sahabat dan saya sudah tidak lagi dalam rutinitas yang sama, kebersamaan menjadi hal yang begitu langka, padahal saat masih memakai seragam putih abu-abu setiap hari bisa bertemu. Tapi memang benar apa yang dibilang oleh pepatah, manusia baru bisa menghargai sesuatu setelah terlepas dari genggamannya.
Mereka bukan lepas dari saya, bukan juga hilang dari kehidupan saya, hanya waktu-waktu kebersamaan kami yang tidak lagi sebanyak dulu. Tapi tak mengapa, saya bersyukur karena setidaknya selalu ada hal yang bisa menjadi pembelajaran. Ternyata berkat tidak melulu berbicara mengenai harta, kebahagiaan tidak melulu tentang pencapaian, tapi ada hal kecil lain yang keberadaannya sangat berarti untuk kehidupan saya selanjutnya yaitu kebersamaan bersama orang-orang tersayang, bisa orang tua, saudara, dan tentunya sahabat.
Tertawa dan menangis bersama mereka memang tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya saya tahu bagaimanapun keadaannya saya tidak pernah menjalani kehidupan ini sendirian.
Terima kasih jarak, karenanya saya belajar arti kebersamaan. Sebab apa artinya kesedihan, bila ia tak mampu mendewasakan? Apa arti kehilangan, jika tak mampu menggugah kesadaran?
Sampai jumpa sahabat, sampai bertemu kembali mungkin di bulan Desember atau mungkin di musim-musim liburan kuliah lainnya.
Jakarta, 11 Agustus 2018.
Sore ini seorang sahabat harus kembali ke Semarang, pergi meninggalkan Jakarta dan orang-orang di dalamnya serta pulang kepada teman-teman satu perjuangan almamater yang juga tidak sabar menunggu kedatangannya.
Perihal datang dan pergi bukan pengalaman pertama bagi saya, tapi kenyataannya hal tersebut tidak menjadikan saya akrab dengan mereka. Ditinggalkan oleh sahabat meski untuk tujuan pendidikan selalu berhasil membuat saya terpojokan, merasa sendiri, kesepian dan tidak memiliki teman. Ada rasa takut yang besar setiap kali saya mengetahui jadwal keberangkatan mereka.
Lalu, bagaimana saya melalui itu semua? Bagaimana melunakan setiap pikiran-pikiran yang kerap kali diakhiri dengan tangisan? Saya adalah orang yang senang mengabadikan, baik melalui foto, tulisan dan tentunya merekam dalam ingatan. Yang saya lakukan ialah mencoba menghargai setiap pertemuan yang ada, menghabiskan waktu bersenggama dengan mereka di sudut kedai kopi di bilangan selatan dan timur Jakarta.
Mengobrol dimulai dengan hal yang paling remeh untuk menghancurkan tembok-tembok canggung akibat tidak bertemu berbulan-bulan.
"Apa kabar?"
"Gimana kuliahnya?"
"Di sana dapet apa aja?"
Kemudian beralih kepada sesuatu yang mulai sensitif.
"Udah ada yang nemenin belum?"
"Udah tahu semester depan mau ngapain?"
Juga harapan serta impian.
"Duh kapan yaa bangun kedai kopinya?"
"Doain gue ya bisa dapet tenpat PKL yang bagus"
"Duh waktu cepat banget, gue masih gak tahu harus ngasih judul apa ke dospem gue"
Dan masih banyak lagi percakapan-percakapan sederhana dan rahasia yang mulai tumpah bersamaan dengan segelas cangkir kopi di atas meja. Tidak ada story di instagram, tidak ada tweets di twitter, tidak ada post di Whatsapp, semuanya saya nikmati dengan kedua mata saya dan berusaha saya rekam dalam ingatan.
Semenjak mengetahui sahabat dan saya sudah tidak lagi dalam rutinitas yang sama, kebersamaan menjadi hal yang begitu langka, padahal saat masih memakai seragam putih abu-abu setiap hari bisa bertemu. Tapi memang benar apa yang dibilang oleh pepatah, manusia baru bisa menghargai sesuatu setelah terlepas dari genggamannya.
Mereka bukan lepas dari saya, bukan juga hilang dari kehidupan saya, hanya waktu-waktu kebersamaan kami yang tidak lagi sebanyak dulu. Tapi tak mengapa, saya bersyukur karena setidaknya selalu ada hal yang bisa menjadi pembelajaran. Ternyata berkat tidak melulu berbicara mengenai harta, kebahagiaan tidak melulu tentang pencapaian, tapi ada hal kecil lain yang keberadaannya sangat berarti untuk kehidupan saya selanjutnya yaitu kebersamaan bersama orang-orang tersayang, bisa orang tua, saudara, dan tentunya sahabat.
Tertawa dan menangis bersama mereka memang tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya saya tahu bagaimanapun keadaannya saya tidak pernah menjalani kehidupan ini sendirian.
Terima kasih jarak, karenanya saya belajar arti kebersamaan. Sebab apa artinya kesedihan, bila ia tak mampu mendewasakan? Apa arti kehilangan, jika tak mampu menggugah kesadaran?
Sampai jumpa sahabat, sampai bertemu kembali mungkin di bulan Desember atau mungkin di musim-musim liburan kuliah lainnya.
Jakarta, 11 Agustus 2018.
Terimakasih telah mewakili perasaan saya☺
ReplyDeleteSama sama Shafiraaa! semoga lekas pulih setelah ditinggal teman dekat!
Delete