Posts

Showing posts from September, 2018

Kota yang Lama Tidak Ada Kita

Aku menulis tentang asap yang menguap yang olehnya langit menjadi memudar kau membacanya sebagai kehilangan kemudian kau tawarkan aku sebuah pandangan bahwa tak selamanya abu menggantung di udara tetapi berganti menjadi biru yang cerah demikian juga dengan hidup yang kehilangan akan segera menemukan Aku menulis tentang bapak tua yang berjualan yang dengan diam menawarkan dagangannya dipinggir jalan ibu kota kau membacanya sebagai ratapan kemudian kau meminta kesediaan agar kau dizinkan masuk dan kita sama-sama saling memulihkan Aku menulis sebuah kedai dengan banyak jendela di sana tampak pula bangku yang belum terisi juga cangkir yang belum diteguk pemiliknya kau membacanya sebagai kesepian kemudian kau tawarkan aku percakapan agar lebur semua kesenyapan kau juga bersenandung ingin menunjukkan  bahwa lagu mampu menyembuhkan Aku menulis tentang riuh pasar yang didalamnya ribuan orang ada saling menyerobot saling menyikut...

Percakapan Kecil di Pertengahan September

Pertemuan itu bernilai,   percakapan itu berharga, karenanya aku mau merekam mereka  melalui cerita, dengan kata-kata yang sederhana. Sepekan yang lalu aku bertemu dengan seorang teman lama di sebuah kedai kopi di bilangan selatan Jakarta. Sebelumnya, sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke handphoneku. "Li" Keningku berkerut. Aku yakin mengenal karakter dan gaya penulisan pesan tersebut. Hatiku berdebar beberapa detik setelahnya. Satu nama yang tidak ingin kuingat justru berteriak-teriak di dalam kepala. Aku mencoba tenang, padahal di dalam hati sangat mempertanyakan maksud dan tujuan dari pesan singkat yang ia kirimkan kepadaku hari itu. Maka berawal dari sapa, setelah satu tahun tidak bersua akhirnya memutuskan untuk benar-benar berjumpa. Tidak ada yang benar-benar berubah dari dirinya kecuali ketenangan dan kegelisahan yang tampak dari sorot matanya yang lelah. Tidak ada pertanyaan "apa kabar" di awal perjumpaan. Aku dan dir...

Cerita Akhir Pekan

Sore ini setelah menyelesaikan tugas-tugas kuliah, saya berniat untuk menulis. Apa saja, mengenai apapun. Tiba-tiba saja ingatan saya kembali kepada kisah yang baru saja teman saya ceritakan, ia sedang jatuh cinta katanya. Ah, bukan-bukan.  Ia tidak menyebut perasaannya dengan kata 'cinta', katanya ia mulai menyayanginya, terbiasa melalui hari bersamanya, gelisah bila tidak berjumpa, dan sedang rajin-rajinnya berdoa, apakah orang tersebut adalah orang yang tepat untuk kembali memulai sebuah hubungan setelah bertahun-tahun sendirian. Aku tertawa sepanjang teman saya bercerita. Yang ia tahu, saya adalah orang yang tepat untuk diajaknya berbicara. Yang ia tidak tahu, ada hati yang diam-diam patah seiring nama orang lain disebut olehnya. Yang ia tidak sadari, ada mata yang diam-diam tidak lagi memancar seperti biasa, yang selalu melihatnya sebagai orang yang berbeda. Ironi, saya kehilangan, bahkan sebelum benar-benar memilikinya. Ternyata hidup hanya seputar lati...