Kota yang Lama Tidak Ada Kita
Aku menulis tentang asap yang menguap yang olehnya langit menjadi memudar kau membacanya sebagai kehilangan kemudian kau tawarkan aku sebuah pandangan bahwa tak selamanya abu menggantung di udara tetapi berganti menjadi biru yang cerah demikian juga dengan hidup yang kehilangan akan segera menemukan Aku menulis tentang bapak tua yang berjualan yang dengan diam menawarkan dagangannya dipinggir jalan ibu kota kau membacanya sebagai ratapan kemudian kau meminta kesediaan agar kau dizinkan masuk dan kita sama-sama saling memulihkan Aku menulis sebuah kedai dengan banyak jendela di sana tampak pula bangku yang belum terisi juga cangkir yang belum diteguk pemiliknya kau membacanya sebagai kesepian kemudian kau tawarkan aku percakapan agar lebur semua kesenyapan kau juga bersenandung ingin menunjukkan bahwa lagu mampu menyembuhkan Aku menulis tentang riuh pasar yang didalamnya ribuan orang ada saling menyerobot saling menyikut...