Percakapan Kecil di Pertengahan September

Pertemuan itu bernilai,  percakapan itu berharga,
karenanya aku mau merekam mereka melalui cerita,
dengan kata-kata yang sederhana.

Sepekan yang lalu aku bertemu dengan seorang teman lama di sebuah kedai kopi di bilangan selatan Jakarta. Sebelumnya, sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke handphoneku.

"Li"

Keningku berkerut. Aku yakin mengenal karakter dan gaya penulisan pesan tersebut.

Hatiku berdebar beberapa detik setelahnya.

Satu nama yang tidak ingin kuingat justru berteriak-teriak di dalam kepala. Aku mencoba tenang, padahal di dalam hati sangat mempertanyakan maksud dan tujuan dari pesan singkat yang ia kirimkan kepadaku hari itu. Maka berawal dari sapa, setelah satu tahun tidak bersua akhirnya memutuskan untuk benar-benar berjumpa.

Tidak ada yang benar-benar berubah dari dirinya kecuali ketenangan dan kegelisahan yang tampak dari sorot matanya yang lelah.

Tidak ada pertanyaan "apa kabar" di awal perjumpaan. Aku dan dirinya sama-sama menyadari tidak perlu lagi bersikap basa-basi untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur kaku ini.

'Jadi apa yang ingin dibicarakan?' aku membuka percakapan setelah menyesap minuman yang kupesan.

'Aku cuti kuliah' jawabnya.

Aku kembali dikagetkan dengan kata-katanya. Sebagai informasi, temanku ini adalah salah satu orang yang sangat dekat dan juga sangat kukenal, diapun juga demikian denganku. Bahkan Mamaku sudah berteman baik dengan dirinya, begitu juga ia sebaliknya dengan Mama. Rumahku dan rumahnya bukan lagi tempat asing bagi kami masing-masing. Tapi kemudian dirinya menghilang, tanpa memberikan aba-aba sebelumnya. Membuatku bertanya-tanya kesalahan apa yang telah kulakukan hingga membuatnya ingin pergi begitu saja.

Setelah lamanya menyembunyikan diri, ia kembali datang, dan kali ini dengan berita yang tidak kalah mengagetkan.

Tidak bolehkah aku marah? Tidak tersinggungkah aku hanya dijadikan tempat singgah? Aku kira berteman juga memiliki tata krama, tidak bertindak semaunya.

Tapi semuanya aku simpan rapat-rapat. tak ingin memulai pertengkaran yang sia-sia.

'Kenapa? Bukannya lagi semangat-semangatnya belajar?'

'Iya, tapi semesta sepakat ga ngedukung' jawabnya.

'Jangan bicara seolah aku tahu semuanya. Ceritakan dengan sederhana' aku memaksa.

'Keuangan lagi gak lancar, dan aku gak mau memaksakan kehendak. Belakangan ini aku juga lagi magang, tapi aku gak suka dan gak nyaman. Jadinya memutuskan untuk berhenti'  jelasnya.

Aku terdiam

"Rasanya ingin kembali ke masa-masa SMA saja, semua serba mudah. Semua serba ada. Lucu ya, bagaimana roda berputar dengan cepat, dulu aku gak pernah kepikiran mengalami hal seperti ini, tapi nyatanya sekarang malah kejadian” ceritanya

Aku tersenyum getir, takut salah dalam menanggapi

'Terus apa rencanamu ke depan?' akhirnya itu yang aku utarakan

'Aku mau pulang ke rumah Mama'

'Kapan?'

'Besok. Gak tahu sampai kapan'

'Terus, mau ngapain di sana?'

'Mau liburan. Mau jalan-jalan. Aku cuma mau menikmati apa yang kupunya sekarang, berjalan tanpa rasa ketakutan'

'Jadi bagaimana rasanya terus berlari?' aku menanyakan hal itu

'Melelahkan. Terlebih ketika tahu tidak ada seorang pun yang mengejar dan bodohnya kau tidak memiliki tujuan' Aku bertanya bagaimana caranya ia bisa bertahan dan baru mengakuinya sekarang? Katanya dengan berpura-pura yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia mengalihkan pembicaraan. 'Kau tampak biasa. Apakah hidup memperlakukanmu dengan sangat baik?'

Kujawab dengan gelengan dikepala. Setiap orang punya badainya masing-masing, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kata-kata yang ku rasa sudah ribuan kali kuucapkan kepadanya.

Matanya menerawang, pandangannya tidak lagi tertuju kepadaku.

'Jadi apa yang kau lakukan?' tanyanya

'Setidaknya dengan tidak berlari sepertimu' aku terdiam sebelum benar-benar melanjutkan kalimatku. 'Berhentilah menganggap bahwa semuanya bisa kau kendalikan, cobalah untuk diam sejenak dan melihat semuanya. Kau tidak akan kehilangan teman hanya karena kau sedang berkekurangan. Kau tidak akan dianggap lemah hanya karena sedang berduka. Belajarlah untuk menjadi manusia'

Dirinya terdiam.

'Maaf, aku tidak tepat untuk berbicara demikian. Aku seharusnya mendengar lebih banyak, dan mendukungmu melalui kata-kata"

Dirinya menggeleng seolah berkata tidak masalah.

Setelahnya kami melepas percakapan itu, dan berganti dari satu topik ke topik lainnya. Di ujung perbincangan aku melepasnya dengan pelukan. Mencoba memberikan kekuatan yang aku punya dan menggantikan kata-kata kasih yang sulit kuucapkan. Tapi di atas segalanya, aku ingin melepasnya tanpa takut kehilangan dirinya seperti yang sudah-sudah. Aku tidak mau berharap banyak untuk bisa berkomunikasi tanpa rasa takut seperti dulu, yang aku mau dia hanya baik-baik saja.





*percakapan ini sudah mendapat izin dari orang yang bersangkutan.


LFA // Jakarta, 00:26


Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup