Cerita Akhir Pekan
Sore ini setelah menyelesaikan tugas-tugas kuliah, saya berniat untuk menulis. Apa saja, mengenai apapun. Tiba-tiba saja ingatan saya kembali kepada kisah yang baru saja teman saya ceritakan, ia sedang jatuh cinta katanya.
Ah, bukan-bukan.
Ia tidak menyebut perasaannya dengan kata 'cinta', katanya ia mulai menyayanginya, terbiasa melalui hari bersamanya, gelisah bila tidak berjumpa, dan sedang rajin-rajinnya berdoa, apakah orang tersebut adalah orang yang tepat untuk kembali memulai sebuah hubungan setelah bertahun-tahun sendirian.
Aku tertawa sepanjang teman saya bercerita.
Yang ia tahu, saya adalah orang yang tepat untuk diajaknya berbicara. Yang ia tidak tahu, ada hati yang diam-diam patah seiring nama orang lain disebut olehnya. Yang ia tidak sadari, ada mata yang diam-diam tidak lagi memancar seperti biasa, yang selalu melihatnya sebagai orang yang berbeda.
Ironi, saya kehilangan, bahkan sebelum benar-benar memilikinya.
Sebagai penutup, ada sebuah puisi yang terlampau lama tersimpan dibuku catatan harian saya. Sebuah tulisan yang masih sangat relevan.
Ada yang tengah menanggung duka
sehingga lupa seperti apa rasa suka
ada yang tengah dirujam hampa
meski tampak baik-baik saja
Mengagung-agungkan diri kepada semesta
bahwa berdua bukan berarti bahagia
yang bersama belum tentu merasa sukacita
akhirnya aku menyerah atas nama kerinduan
kerinduan untuk bisa kembali merasa
Yang ia tahu, saya adalah orang yang tepat untuk diajaknya berbicara. Yang ia tidak tahu, ada hati yang diam-diam patah seiring nama orang lain disebut olehnya. Yang ia tidak sadari, ada mata yang diam-diam tidak lagi memancar seperti biasa, yang selalu melihatnya sebagai orang yang berbeda.
Ironi, saya kehilangan, bahkan sebelum benar-benar memilikinya.
Ternyata hidup hanya seputar latihan pergi. Berlari dari satu kota ke lain kota, singgah dari satu rumah ke lain rumah, mengenal satu orang ke lain orang, sebelum pada akhirnya kita benar-benar menemukan dan memutuskan untuk tinggal.Demikian tulisan ini hadir, supaya saya bisa melanjutkan akhir pekan dengan lega. Tidak mungkin segera lupa,tapi setidaknya saya memutuskan untuk menerima, dan ingin kembali menjadi baik-baik saja.
Sebagai penutup, ada sebuah puisi yang terlampau lama tersimpan dibuku catatan harian saya. Sebuah tulisan yang masih sangat relevan.
Ada yang tengah menanggung duka
sehingga lupa seperti apa rasa suka
ada yang tengah dirujam hampa
meski tampak baik-baik saja
Mengagung-agungkan diri kepada semesta
bahwa berdua bukan berarti bahagia
yang bersama belum tentu merasa sukacita
akhirnya aku menyerah atas nama kerinduan
kerinduan untuk bisa kembali merasa
LFA // Jakarta, 18:02
Comments
Post a Comment