Kota yang Lama Tidak Ada Kita
Aku menulis tentang asap yang menguap
yang olehnya langit menjadi memudar
kau membacanya sebagai kehilangan
kemudian kau tawarkan aku sebuah pandangan
bahwa tak selamanya abu menggantung di udara
tetapi berganti menjadi biru yang cerah
demikian juga dengan hidup
yang kehilangan
akan segera menemukan
Aku menulis tentang bapak tua yang berjualan
yang dengan diam menawarkan dagangannya
dipinggir jalan ibu kota
kau membacanya sebagai ratapan
kemudian kau meminta kesediaan
agar kau dizinkan masuk
dan kita sama-sama saling memulihkan
Aku menulis sebuah kedai
dengan banyak jendela di sana
tampak pula bangku yang belum terisi
juga cangkir yang belum diteguk pemiliknya
kau membacanya sebagai kesepian
kemudian kau tawarkan aku percakapan
agar lebur semua kesenyapan
kau juga bersenandung
ingin menunjukkan
bahwa lagu mampu menyembuhkan
Aku menulis tentang riuh pasar
yang didalamnya ribuan orang ada
saling menyerobot saling menyikut
kau membacanya sebagai kesesakan
kemudian kau tawarkan aku genggaman
agar aku tidak merasa kesepian
kau juga menawarkan kedua kakimu
untuk beriringan menyusuri jalan
agar aku kembali merasa lapang
Aku menulis tentang gedung di selatan Jakarta
dengan lampu-lampu orange yang temeram
kau menyebutnya degan harapan
kemudian kau berlisan
dengan aku, kau
menjadi kita di masa depan
Aku menulis tentang anak kecil
yang berlarian memeluk sang ibu
setelah puas bermain
kau membacanya sebagai tujuan
kemudian matamu menatap dengan sorot keyakinan
bahwa kemanapun aku pergi
kau adalah segalanya tentang pulang
Aku menulis tentang taman-taman di tengah kota
dengan kupu-kupu indah menari di sana
aku menunggu suaramu
tapi tak ada satu kata pun yang kudengar
Pada halaman terakhir
aku menulis tentang jejak-jejak kita
yang tertinggal di sepanjang sudut kota
namun kau membacanya sebagai sementara
yang bisa hilang oleh angin dan hujan
yang kemudian menjadi tidak ada.
LFA // Kuningan, 13:38
Comments
Post a Comment