Berguru pada sepi

Bhumi Coffee
Senin, 29 Oktober 2018
Pukul 20.19


Apa yang kaubayangkan ketika harus pergi sendirian? Sosok dirimu yang akan dicap tidak memiliki teman, mendapatkan ketenangan, atau justru menemukan bagian dirimu yang sebenarnya kesepian? 
Awalnya saya adalah orang yang anti pergi sendiri. Tidak pernah terbesit dikepala untuk beli baju ke mall sendiri, makan di kantin kampus sendiri, menonton bioskop seorang diri, hingga duduk berjam-jam di kedai kopi tanpa orang lain yang menemani. Aneh sekali, memilih-milih pakaian, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya seorang diri, disaat orang lain justru pergi bersama teman supaya bisa berbincang dan saling memberi saran.  
Bagaimana mungkin pergi ke rumah makan seorang diri ketika orang lain justru berlomba-lomba mengisi bangku supaya bisa bercanda gurai sambil menikmati hidangan? Ah ini lebih aneh lagi, kalau harus mengantre membeli tiket bioskop untuk satu orang saja, di saat kebanyakan orang justru memanfaatkan momen ini untuk menikmati hiburan bersama. Dan hal-hal lainnya yang terasa janggal jika membayangkan melakukan semuanya dengan sendirian. 
Saya masih belum memahami, dan teguh pada prinsip beramai-ramai itu lebih baik, bersama-sama itu jauh lebih menyenangkan. Entah sudah berapa lama saya ditipu oleh pikiran saya sendiri, kekeliruan yang menyatakan sendiri berarti sepi, sendiri berarti sunyi. 
Pada suatu waktu yang saya lupa kapan dan dalam keadaan seperti apa, mama pernah berkata bahwa kehilangan adalah mula dari segala pembelajaran. Tidak melulu berbicara lapang, tapi menyadari pada akhirnya manusia harus berdiri di atas kakinya sendiri. 
Beranjak dewasa saya kembali dihadapkan pada situasi yang memaksa saya untuk belajar tidak bergantung kepada orang lain. Melihat teman yang sudah berbeda jurusan, ditinggal teman karena berbeda tempat kuliah, bahkan kehilangan teman karena sudah semakin sedikit garis kehidupan yang saling bersinggungan. Karena keadaan, mau tidak mau saya harus mencoba. Pertama-tama rasanya memang aneh. Tidak ada yang bisa diajak ngobrol, tidak ada yang bisa untuk dimintai saran, kemudian canggung karena di samping kiri kanan adalah orang lain yang datang bersama kerabat-kerabatnya.  
Tetapi setelah dilakukan, saya menemukan ternyata sendirian tidak terlalu menakutkan. Dengan pergi sendirian, pusat perhatian saya bukan lagi diri saya sendiri, tapi lingkungan di luar kehidupan saya.  
Dalam prosesnya saya dipaksa kuat, dan dalam prosesnya pula saya belajar menjadi seorang pengamat. Dimulai melihat dan menerka-nerka apa yang sedang dialami oleh mba-mba kasir yang sedang melayani, bagaimana bisa setiap saat selalu tersenyum? terpaku dengan mas-mas yang sedang bekerja membersihkan lantai dengan begitu giat, menyaksikan interaksi sepasang kekasih yang sedang berduaan, hingga tanpa sengaja mendengar perbincangan orang-orang yang tidak saya kenal, mereka dengan umpatannya, mereka dengan kekesalannya, mereka dengan cerita bahagianya.
Sendirian memang bukan mimpi buruk. 
Justru setelahnya saya begitu menikmati saat-saat menyendiri. Dengan mengasingkan diri, saya semakin memahami diri saya sendiri. Seringkali dengan kesendirian membuat saya berkaca apa yang telah saya miliki dan apa yang telah saya capai patut saya syukuri. Seringkali dengan kesendirian membuat saya berpikir betapa banyak persoalan yang sudah terlewati dibandingkan satu kesusahan yang saya alami hari ini. Seringkali dengan kesendirian menjadi bahan refleksi pribadi, mengapa diri ini perlu cemburu jika orang lain juga memiliki perkaranya sendiri?  
Pada sepi saya belajar berlega hati. Bahwa hidup semestinya begini, bahagia dengan apa yang dimiliki, meski itu diri saya sendiri. 
Mencintai memang membutuhkan orang lain untuk melengkapi, tapi hati-hati, jangan kau dibuatnya mati sewaktu-waktu dia pergi. Orangtua, teman baik, pacar tidak lebih dari orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan kita, semacam orang yang bertemu di perempatan jalan, bersama sesaat kemudian berpisah karena berbeda tujuan. Dari mama saya belajar banyak hal perihal sebenar-benarnya arti mandiri, dan bergantung pada kekuatan sendiri. Mengurus anak sendiri, bekerja seorang diri, membereskan ini itu sendiri, semua harus bisa dilakukan oleh kedua tangan sendiri.  Suatu keterpaksaan yang dilakukan sejak bapak lebih dulu pergi. 





Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup