Tidak ada judul.


Bhumi Coffee
Di ambil pukul sembilan malam.

Beberapa dari kita seperti api, orang-orang membutuhkan mereka tetapi tidak pernah berpikir untuk mendekat, apalagi mendekapnya erat. Beberapa orang seperti garis-garis lurus yang kecil, kemudian perlahan-lahan menyatu, melengkung, berbelok, dan orang akan melihatnya sebagai simbol kasih sayang.

Tapi aku melihat sesuatu, yang berada diantara garis-garis yang memagarinya. Yang kosong, yang berada dalam sorot matamu.

Barangkali memang begitu kehidupan. Ada pagi dan ada malam. Hitam ada karena putih tercipta. Salah ada karena benar mendahuluinya. Cinta juga begitu adanya, menemukan setelah lebih dulu hilang. Menemukan setelah lebih dulu tersesat. Aku kehilangan kendali diriku sesaat setelah menemukanmu. Dan satu-satunya yang bisa menuntunku adalah kenyataan bahwa kau teramat angan.

Kau bukan lautan namun teramat luas untuk kukenal. Kau juga bukan benteng namun terlalu sulit untuk digapai. Tatapanmu yang guram membawaku jauh dari sisimu. Sudah kuketahui sejak awal, kau bukan orang yang mudah. Namun aku kembali dengan tatapan yang sama sekali lain, meski kelam yang masih kutemukan di sana. Aku mulai menyadari, sejatinya tidak ada seorang pun yang berhak, seorang pun tidak ada yang tepat memiliki cahaya selain kegelapan sebagai kekasihnya. 

Tatapanmu bukan kosong.

Aku ingin bertanya "Apa yang memenjarakanmu di masa lalu?" Tapi urung kutanyakan. Seperti yang baru menjadi kebiasaanku, aku dengan pikiranku, aku, aku, aku dan sekarang perihal dirimu.




Bhumi Coffee, Tebet.
Pukul 21:10

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup