Merayakan Luka
"Pulanglah, berdamailah" bisik sebuah suara sore ini
suara yang sejak lama berbicara
mengarah-ngarahiku agar
jangan terbuai harapan
sebab manusia mengecewakan
setelah petang menjelang
dan ingatan terus mengenang-mengenang
tentang bangku kayu
taman-taman kota
genangan air
lampu jalan
halte pemberhentian
bus kuning
percakapan yang tiada tara
dan kau
wajahmu terus berkelebat
seperti arwah-arwah di udara
menghantui tidurku
membayang-bayangi
selepas jam tidurku
parasmu tak bisa lesap
memburuku hingga sesak
di kantin kampus
pojok-pojok ruang kelas
ruang tunggu kereta
membuatku terjaga
dengan kelebat cinta
harap, dan doa
kau telah
menjadi pemeran utama
yang menjadi biang dari segala karut
yang menjadi sebab dari segala kusut
dan aku
hanya menjadi tokoh figuran
yang tak kasat mata
sebab hanya dia yang paling kau pinta
nb : teruntuk yang membuat luka, tetaplah berbahagia.
suara yang sejak lama berbicara
mengarah-ngarahiku agar
jangan terbuai harapan
sebab manusia mengecewakan
setelah petang menjelang
dan ingatan terus mengenang-mengenang
tentang bangku kayu
taman-taman kota
genangan air
lampu jalan
halte pemberhentian
bus kuning
percakapan yang tiada tara
dan kau
wajahmu terus berkelebat
seperti arwah-arwah di udara
menghantui tidurku
membayang-bayangi
selepas jam tidurku
parasmu tak bisa lesap
memburuku hingga sesak
di kantin kampus
pojok-pojok ruang kelas
ruang tunggu kereta
membuatku terjaga
dengan kelebat cinta
harap, dan doa
kau telah
menjadi pemeran utama
yang menjadi biang dari segala karut
yang menjadi sebab dari segala kusut
dan aku
hanya menjadi tokoh figuran
yang tak kasat mata
sebab hanya dia yang paling kau pinta
nb : teruntuk yang membuat luka, tetaplah berbahagia.
Comments
Post a Comment