November dan Percakapan yang Belum Usai

Kofitiere
Semarang, Indonesia

Sedang mencoba mengingat sebuah kesempatan yang membawa aku dan kau pada percakapan yang tak pernah ada muaranya. Entah, aku lupa kapan, dan malam ini di tengah-tengah tersiksanya badan karena tugas, aku memilih menuliskannya untuk tujuan yang kutaktahu apa. 

Mungkin untuk sebuah konten belaka, atau (lagi-lagi) untuk menyembuhkan luka dengan cara yang bijaksana.


Sore itu, aku datang menghampirimu seusai kelas. Kau sedang duduk dimeja favoritmu *setidaknya menurut anggapanku*. Aku bermain dengan handphoneku dan kau dengan buku yang menjadi teman favoritmu. Kau memang bukan seorang verbal, sulit sekali membuka percakapan. Aku pun hanya diam, tak mau memulai. Hingga beberapa menit setelahnya, raut wajahmu mulai gelisah, dan kau bertanya "Apakah cinta bisa membuat orang lain tersiksa?"

Aku tersenyum mendengar pertanyaan bodohmu. Di depan mataku, kau pertama kalinya tersiksa oleh cinta. Sebentar, aku hanya ingin memastikan. Adakah cinta membuatmu tersiksa? Iya, katamu. Karena tidak tahu cara memulainya dan jika tidak bisa bersama.

Aku tersenyum semakin lebar, dan menghembuskan napas perlahan-lahan.

"Cinta akan membuatmu tahu cara berkata-kata dan bertindak" aku menjawab

"Apakah benar?" 

"Ya tentu saja. Cinta yang baik turut mengubahmu menjadi lebih baik. Memaksamu untuk belajar berkorban, menjadi dirimu yang bukan seperti biasanya"  Jika pada akhirnya tidak bisa bersama, cinta memberikanmu pemahaman bahwa ia pada dasarnya indah, dan tidak pernah menuntut balas.

"Aku masih tidak percaya"

"Hey, lihat dirimu. Perasaanmu telah mengubahmu menjadi orang yang 180 derajat berbeda dari kau yang sebenarnya. Kau jadi lebih berisik dan berani memulai sebuah obrolan saat di depannya"

Kau berpikir keras dan tersenyum setelahnya. 

Aku menelan setiap kata yang kuutarakan, tertegur atas setiap kalimat yang seharusnya aku bicarakan kepada diriku sendiri.







Selamat jatuh cinta, kekasih. Aku pun belajar banyak hal, melihat cinta dari sudut yang paling sederhana. Hitam putih saja, dan aku menjahitnya dengan doa. Semoga kau selalu berbahagia.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup