Tomas dan Elina.
Cerita ini merupakan potongan dari sebuah tulisan lama yang
sepertinya tidak akan pernah selesai.
Perjalanan Kelima
Museum Layang-layang.
Aku dan Tomas sampai pada pukul satu siang. Jika dilihat dari
gerbang masuk, museum ini tidak terlau besar, tetapi jika sudah masuk ke
dalamnya, terdapat halaman yang luas dan asri. Museum ini begitu unik, lantai
yang terdapat di halaman dibuat berwarna-warni dengan berbagai bentuk layang
dan juga berbagai warna.
Selesai membayar tiket, aku dan Tomas ditemani
oleh seorang pemandu yang membantu kami dalam menjelaskan sejarah dan latar
belakang layang-layang. Berdasarkan informasi dari Pak Toto⸺sang pemandu, Museum
Layang-layang ini memiliki empat bangunan tradisional khas Jawa yang memiliki
fungsinya masing-masing, dan dikelilingi dengan pepohonan besar yang menambah
kesejukan. Aku dan Tomas terus mengikuti Pak Toto. Saat memasuki area museum,
terdapat sebuah bangunan yang disebut dengan pendopo putih. Bangunan tersebut
digunakan sebagai ruangan untuk menyaksikan pemutaran video mengenai latar
sejarah layang-layang, ruang untuk membuat kaos suvenir, serta tempat untuk
memamerkan barang kreasi pribadi ataupun kelompok.
Di sebelah kiri, terletak bangunan memanjang
yang difungsikan sebagai kantor, kantin, serta mushala. Setelah itu di bagian
paling dalam, terdapat bangunan utama yang merupakan museum layang-layang itu
sendiri.
Selama kurang lebih empat puluh menit aku dan
Tomas mengitari semua bagian yang ada di museum ini ditemani dengan cerita dari
Pak Toto. Berbagai macam layang-layang khas dari seluruh provinsi di Indonesia
dipajang di tempat ini. Aku dan Tomas begitu menikmati bagaimana Pak Toto
menyelipkan cerita dibalik layang-layang tersebut. Seperti layangan pengantin, yang
diterbangkan ketika upacara adat pernikahan, sehingga penduduk sekitar bisa
mengetahui bahwa ada acara pernikahan di desa tetangga ketika melihat pasangan
layang-layang itu terbang di udara.
Aku dan Tomas bahkan berebutan
bertanya mengenai latar belakang setiap layang-layang yang unik menurut
pandangan kami. Ternyata tidak hanya layang-layang tradisional, di sini juga terdapat layang-layang
dari mancanegara seperti Malaysia, Cina, Jepang, Korea, Italia, hingga Belanda.
Berdasarkan informasi dari Pak Toto, Bu Endang⸺pemilik museum sendiri
yang membawa dan menyimpan semua koleksi layang-layangnya.
Selesai mengitari setiap bagian dari museum,
aku dan Tomas ditawari untuk membuat dan mewarnai layang-layang. Tapi akhirnya
aku dan Tomas memutuskan untuk mewarnai layang-layang saja. Aku dan Tomas
diantar ke sebuah pendopo dekat lapangan yang digunakan untuk pengunjung
membuat karya-karya seni.
“What
do you think, Tom?” tanyaku selepas kepergian Pak Toto membiarkan aku
dan Tomas untuk menghias layang-layang ini.
“Menarik,
seumur-umur baru kali ini liat layang-layang sebesar dan sebagus yang ada di
sini. Jujur, gue belum pernah main layang-layang, El”
Aku
yang sedang mewarnai layang-layang melonjak kaget mendengar pengakuan Tomas.
“Serius? Lo waktu kecil beneran cuma main bulu tangkis sampe gak pernah main
layangan?” tanyaku.
“Ya
engga El, cuma kebetulan gak pernah main aja” jawab Tomas. “Have you
ever visited this place, El?” tanya Tomas tanpa perlu melihatku.
Perhatiannya masih kepada layang-layang, tangan kirinya memegang layang-layang
agar tidak bergerak, sedangkan tangan kanannya bergerak maju mundur mewarnai
kertas layang-layang yang masih putih itu.
“No,
I haven’t” jawabku.
“This
place reminds you of your past, right?”
“How
did you know, Tom”
“I’m
just guessing. Setidaknya itu yang
gue dapat setelah kita pergi ke beberapa tempat di Jakarta”
“Tomas,
itu kata-kata gue” aku mendorong bahunya pelan karena dirinya mengutip
kata-kataku.
Tomas
tertawa. “Tell me” Tomas meminta.
“Dulu
bokap sering banget ngajak keluarga ke Monas, nyokap bakal gelar tikar yang dia
bawa dan setelahnya kita makan apapun yang lagi di jual di sana. Terus kalau
udah selesai makan bokap bakal beliin layang-layang dan kita bakal nerbangin
layang-layang itu bareng-bareng” ceritaku.
“Makanan
apa yang sering kalian makan?”
“Hmmm….kerak
telor, es kelapa, rambut nenek”
Tomas
diam sejenak.
“Why
do you bring me to this place?” tanya Tomas.
“What
do you mean?”
“Why
do you bring me to all the places that reminds you of your Father?”
“Gue gayakin Tom, mungkin untuk memastikan
apakah gue benar-benar sudah sembuh atau masih terperangkap dalam luka masa
lalu"
“Then,
what do you get?
“Setelahnya gue tersadar, tidak ada yang
benar-benar sembuh, tidak ada yang benar-benar terjebak. Gue gak benar-benar
terjebak karena gue berhasil melewati hari demi hari. Gue juga gak benar-benar
sembuh, karena setiap kali ada hal yang mengingatkan gue dengan bokap gue
kembali sedih. Mereka semua hadir untuk menguatkan, Tom ”
“Kembali
ke masa lalu justru menguatkan” aku mengulang kalimat terakhirku.
“How
about you? Why do you tell me your secret?” aku bertanya.
Tomas
mengangkat salah satu alisnya, yang aku tangkap sebagai kebingungan.
“Tentang
perceraian Ayah dan Mama, tentang pertengkaran besar kalian. Gue melihat itu
sebagai hal pribadi untuk diceritakan ke orang yang untuk pertama kalinya
justru berbicara sama lo”
“Itu
hanya satu dari antara rahasia yang lainnya, El”
“Wow,
masih banyak? Kalau gitu kasih tahu gue tiga lainnya” Aku menantang Tomas.
Tomas
menghentikan aktivitas mewarnainya.
“Pertama, kalian adalah orang
pertama yang bisa gue percaya. Galuh, Benji, Aldi, dan lo adalah lingkaran
pertemanan pertama buat gue, yang dengan bebas gue cerita apapun yang gue mau”
“Serius?
Terus temen-temen sd lo dan klub lo?”
“Gak tahu
temen sd gue kemana, gue juga udah hampir lupa sama mereka semua. Kalau
teman-teman klub beda El, gimana ya gue sendiri bingung jelasinnya” Tomas
menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Ya lingkaran pertemanan kita sebatas
saling dukung supaya bisa maju sama-sama”
Aku
mengangguk-anggukan kepalaku mengerti apa maksud dari Tomas.
“Kedua….gue
merokok”
“Really,
Tom? Ayah tahu tentang ini?”
“Kadang-kadang,
El. Gak sering kok, gak bakal ngaruh juga. Gak, ayah gak tahu tentang ini. Gue
ngerokok kalau lagi sendirian dan lagi mumet aja” ujar Tomas.
Aku
menggeleng-gelengkan kepalaku, belum memercayai perkataan Tomas.
“Yaudah
yang terakhir apaya….” Tomas terlihat bingung. “Can I call you as my
secret?”
“Me?
What do you mean?”
“Ummm,
nevermind” Tomas enggan
menjelaskan lebih lanjut. “What about you? What are your secrets?”
Aku menatap Tomas lekat-lekat, dan memutuskan
untuk tak memaksanya menjelaskan. “Okee, yang pertama lo tahu botol kecil untuk
minum susu bayi kan Tom? Nah, gue berhenti nge dot itu kelas enam sd”
“Serius?
Lo kelas enam sd masih nyusu pake botol, El?” tanya Tomas tidak percaya.
“Iya,
gue berhenti karena semua botolnya dibuang sama nyokap, terus pelan-pelan gue
minum pake gelas”
“Terus…terus……”
"Hmm you
told me that I’m your secret. So are you Tom. I think you will be my secret”
Tomas tersenyum saat mendengar ucapanku, Ia tak mengusik, sebab aku tahu dia
mengerti tanpa perlu kujelaskan lebih lanjut.
Comments
Post a Comment