Mengapa Kedai Kopi?

Pada beberapa kesempatan, saya mendengar penilaian tentang diri saya yang cukup mengagetkan. Orang yang belum mengenal saya dan mengobsevasi saya melalui instagram selalu bertanya-tanya mengapa saya begitu suka pergi ke kedai  kopi. Tidak jarang juga orang lain berpendapat bahwa saya adalah orang yang gaul, kekinian, yang setiap minggunya pergi, dari satu café ke café lainnya dengan tujuan sekadar mengambil foto atau untuk keperluan konten instagram belaka.

Padahal jauh diluar itu semua, saya memiliki alasan khusus yang mungkin tidak terima bagi sebagian orang. Saya sudah bergerilya dari satu kedai kopi ke kedai kopi lain sejak tahun 2014. Ketertarikan saya terhadap minuman hitam pekat ini, sebenarnya dimulai dari kebiasaan bapak yang dulu sering menyuruh saya ikut minum kopi yang ia buat sendiri. Mama sebenarnya juga seorang peminum kopi garis keras, yang selalu mengaku pusing jika tiap harinya belum menyeduh minuman itu. Kopi yang biasa diminum mereka hanyalah kopi bubuk yang saya lupa namanya yang mereka beli di carrefour, atau kopi sidikalang yang dibawa dari kampung halaman. Mereka tak pernah mengenalkan secara khusus apa itu kopi, hanya sebuah budaya yang dipertontonkan setiap harinya kepada saya sehingga lambat laun saya belajar untuk mencari tahu dan mencoba sendiri.

Proses saya mengenal kopi juga dipengaruhi salah satu teman lama—Michael,  yang mengajak saya untuk pergi ngopi pertama kalinya. Hingga saat ini kedai kopi adalah tempat pertama pelarian kami. Lambat laun entah bagaimana caranya saya sudah jatuh cinta pada kedai kopi dan minuman kopi itu sendiri. Saya begitu menyukai bagaimana sang owner menata dan memilih setiap interior yang ada, bahkan saya menebak-nebak kepribadiannya karena saya percaya setiap kedai kopi adalah gambar diri sang empunya. Lambat laun juga saya sudah begitu akrab dengan suara mesin kopi dan bisik-bisik obrolan yang mampir ketelinga saya.

Pergi berkunjung ke kedai kopi membuat saya menemukan hal-hal baru dari dunia saya sebelumnya. Saya belajar untuk kreatif dengan melihat setiap interior kedai kopi yang saya kunjungi, saya belajar mengambil gambar yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh sama sekali. Hanya dengan di kedai kopi saya bisa melakukan banyak hal, belajar, baca buku, ngobrol dengan teman hingga berjam-jam lamanya, atau sekadar bengong menikmati suasana yang disuguhkan kedai saat itu. 

Saya juga menjadi mengerti alasan saya tergila-gila dengan minuman pekat ini, karena saya tahu bahwa kopi tidak pernah mendiskriminasi setiap penikmatnya. Ada beberapa gurauan yang sering saya dengar dari orang lain. Yang pertama, perihal nikmatnya minum kopi dengan tidak menggunakan gula, dan yang ke dua yaitu cara menikmati kopi yang benar hanya ketika ia masih panas, dan hal-hal lainnya. Tapi saya sendiri tidak setuju. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menikmati kopi. Mau dikasih gula, dikasih es, dikasih susu, mau dikasih es krim, semua tergantung masing-masing penikmatnya.

Sama dengan orang yang memilih menikmati kopi saat ia masih dalam kondisi panas atau sudah dingin, semua tergantung mereka, tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang salah.

Dan hal yang paling menarik adalah keadaan dibalik membuat kopi itu sendiri. Saya sangat kagum dengan seorang barista, bagaimana mereka menyajikan kopi dan ingin memberikan kesan personal bagi setiap penikmatnya. Kita tidak bisa menyamaratakan pengalaman setiap orang dalam menikmati kopi, tapi satu hal yang pasti, efeknya seperti rasa rindu. Pahitnya yang terasa dipangkal lidah tidak ingin membuat kita menyisakan bahkan tetesan yang terakhir sekali pun. Mereka berhasil membangkitkan rasa rindu supaya setiap orang yang pernah meresapi mau kembali datang menuntaskan rindu yang mereka simpan atas kopi itu sendiri.

Bagi saya, kopi bukan sekedar minuman, tapi ada passion dan rasa peduli.

Sebagai bonus, saya ingin berbagi kedai kopi yang sampai saat ini masuk dalam 3 top list kedai kopi terbaik menurut versi saya sendiri.


Fillmore Coffee









Copper Club Coffee







But  First Coffee

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup