Menjadi Lebih Baik
Malam ini saya baru saja
menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan teman saya. Dia
adalah teman baru yang cukup unik dan sangat kontras dengan saya perihal
kepribadian. Saya ekpresif, dia cenderung menyimpan semuanya sendirian. Saya
sangat frontal dalam mengungkapkan perasaan saya, dan dia bukan lah seorang verbal.
Jika kalian bertanya mengapa kami
bisa berteman, hey bukankah pertemanan terjadi tanpa direncanakan?
Beberapa waktu silam kami sepakat
untuk bertemu di satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan pada Jumat ini.
Kami berjanji untuk bertemu pukul empat sore. Tetapi karena ada urusan mendadak
ia bilang akan datang terlambat. Saat mendapat pesan tersebut saya sudah berada
di jalan menuju lokasi, dan akhirnya memutuskan untuk mampir ke kedai kopi saja
yang dekat dengan lokasi tujuan sambil menunggu kepastian darinya.
Hampir tiga jam saya menuggu tanpa
kabar. Untung saja saya selalu membawa buku ke mana pun saya pergi. Jadi setidaknya untuk
urusan tunggu menunggu bukan menjadi suatu masalah besar bagi saya. Sampai pukul tujuh
malam, sebuah pesan masuk dan mengabarkan bahwa teman saya sepertinya
tidak bisa hadir karena satu dan lain hal mendesak yang tidak bisa ditinggalkan.
Setelahnya, saya memutuskan untuk pulang usai membalas pesannya bahwa saya
baik-baik saja.
Bohong.
Kenyataannya saya tidak dalam
keadaan baik. Dijalan menuju rumah saja, saya sudah menangis. Meski saya tidak
mengerti apa yang membuat saya perlu menangis. Waktu saya yang terbuang kah
karena rela menunggu dirinya selama berjam-jam tanpa kepastian, atau kecewa
karena gagal berjumpa? Saya tidak tahu jelas atau karena saya tahu betul
alasannya mengapa, namun saya menyangkal.
Keesokan harinya saat saya bangun,
saya mendapati satu pesan minta maaf dan perasaan menyesal darinya karena
membuat saya menunggu. Saya termenung akan sikapnya yang berbeda dari dia yang
saya kenal. Saya takjub dan heran sejak kapan teman saya yang kaku dan tidak
verbal ini berani mengucapkan kata maaf? Biasanya dia hanya diam. Rasa kecewa
saya perlahan-lahan akan sembuh dengan sendirinya dan saya yang akan memulai
percakapan.
Diluar dugaan. Sore ini dia kembali
mengirim pesan hingga mencoba menelpon saya.
“Kau masih marah ya?” pesan pendek
yang membuat saya kembali menangis.
“Engga, Cuma sedih aja” aku membalas
pesannya
“Kenapa sedih?” ia membalas pada
menit yang sama
Setelahnya saya kembali menangis
sejadi-jadinya. Menangis karena kecewa dengan diri saya sendiri yang terlalu sentimentil
terhadap hal-hal kecil seperti ini. Menangis karena orang lain dengan mudah
mengetahui bahwa saya bersedih, tetapi jauh di atas semuanya, saya menangis
karena terlalu senang akan perubahan baik teman yang baru saya kenal.
Saya selalu membunuh ekspektasi saya
akan perubahan sikapnya. Saya menerimanya sebagai teman karena saya sangat
mengasihinya, tanpa embel-embel apapun.
Ternyata saya baru menyadari, bahwa
pertemanan yang baik adalah pertemanan yang menyegarkan jiwa. Kesegaran itu
perlu dirawat dengan hal-hal konyol dan banyak pengorbanan. Konyol karena mau meluangkan
bukan menyisakan waktu di tengah padatnya aktivitas, berkorban untuk berani
menjadi bukan kita yang berbeda dari biasanya, berkorban membiarkan orang lain tahu kelemahan-kelemahan yang kita punya.
Pertemanan yang baik turut mengubah kita menjadi lebih baik juga.
“Kau berubah jauh lebih baik.
Akhirnya kau mau berbicara mengenai hal-hal sensitif seperti ini, mau minta
maaf, mau menanyakan keadaan orang lain, kau takut orang lain marah karena
sikapmu, kau jauh lebih peka terhadap perasaan orang lain. Terus seperti ini” balas saya mengakhiri percakapan dengannya.
Comments
Post a Comment