draft 1
“Apakah
wanita itu baru saja datang?” Aku menunjuk seseorang yang sedang duduk di sudut
jendela.
“Ya, tuan.
Sekitar lima belas menit yang lalu, persis saat hujan mulai turun.”
Aku
menyerahkan selembar uang 100 ribu rupiah.
“Apakah
nona tersebut telah merebut tempat favoritmu?”
Aku
tersenyum dan menerima uang kembalian yang ia berikan.
“Duduk lah
di sampingnya, ia tidak pernah singgah terlalu lama.”
Aku mengangguk
mengikuti saran sang barista. Wanita itu tidak terganggu saat aku menggeser
bangku yang dibuat rapat dengan meja. Aku mengeluarkan laptop hendak membaca
jurnal saat namaku terdengar di udara. Kopiku telah siap. Aku hampir meletakkan
cangkir yang kupegang dengan sempurna ketika wanita itu tiba-tiba saja berdiri
dan menyenggol tanganku.
“Maaf,”
katanya. Dia segera mengeluarkan tisu dan memberikannya kepadaku. “Akan
kuganti.”
“Tidak
perlu.”
“Tapi
bajumu jadi kotor dan kopimu tidak lagi utuh.”
“Sungguh,
tidak perlu. Aku bisa pergi ke toilet dan membersihkannya dengan tisu basah.”
“Sekali
lagi, maaf.”
“Santai
saja.”
Wanita itu
sedang membaca saat aku kembali. Ia melirikku hendak ingin mengatakan sesuatu
tetapi urung diungkapkannya. Aku duduk dan menggeser kursor laptopku, melanjutkan
membaca jurnal yang sempat tertunda. Jam menunjukkan pukul tujuh malam saat aku
merenggangkan badan. Aku tidak pernah bisa terlalu lama bertatapan dengan layar
meski sehari-hari aku berteman dengannya. Aku melirik wanita di sampingku. Ia
tidak kunjung pergi meski sudah dua jam berlalu. Keningku berkerut menyadari
betapa bodohnya aku mempercayai pernyataan barista tadi.
“Apa?”
Aku
tersadar dari lamunanku.
“Ada yang
salah?”
Aku
menggeleng dengan cepat. “Maaf membuatmu terganggu.”
Ia tidak
menjawab permintaan maafku.
“Buku apa
yang sedang kau baca?”
Ia menoleh
dan membalikkan buku yang sedang ia pegang. Sampulnya berwarna hijau, di sana
tertera nama sang penulis Pramoedya Ananta Toer. “Apakah kau menyukai sejarah?”
“Hey, kau
juga membacanya?”
“Siapa manusia
di tanah Indonesia ini yang tidak membaca buku legendaris itu? Bahkan manusia
di negeri Belanda pun juga membacanya.”
Ia
terkekeh. “Apa yang tadi kau lakukan dengan laptopmu?”
“Aku
membaca sebuah jurnal.”
Mulutnya
membentuk huruf o tanda mengerti. “Apa pekerjaanmu?”
“Aku
bekerja di kantor pemerintahan sebagai seorang konsultan.” kataku. “Kau?”
“Aku
penulis.”
“Wow.” aku
terkejut. “Buku apa yang biasa kau tulis?”
Ia meneguk
kopinya yang tinggal setengah sebelum menjawab pertanyaanku. “Aku menulis apa
saja. Mengenai pemikiranku, perjalanan. Kota-kota yang pernah aku kunjungi
bersama orang terkasih. Banyak sekali.”
“Apakah kau
sedang menulis untuk buku barumu?”
“Tidak. Aku
tidak membaca buku ketika berada dalam proses pembuatan novelku. Aku tidak
ingin terpengaruh dengan gaya kepenulisan orang lain yang sedang kubaca bukunya”
Aku
mengangguk tanda mengerti. “Kau sedang mencari ide atau sedang istirahat?”
“Tidak
keduanya. Aku sudah lama tidak menulis”
“Kenapa?”
“Aku
kehilangan sumber ceritaku.” Ia menjawab setelah sebelumnya menghela napas
panjang.
“Delapan tahun yang lalu, kekasihku memutuskan hubungan satu minggu
sebelum hari pernikahan kami.” ceritanya.
Aku
bertanya dengan hati-hati. “Apa alasannya?”
“Ia
menyukai orang lain. Ia mencintai laki-laki lain.”
Aku
tersentak. Ingin kembali bertanya memastikan jawabannya tapi urung kutanyakan. “Kau
baik-baik saja?”
“Dulu, jika
aku ditanya seperti ini aku menjawab dengan sebuah kalimat ‘waktu akan
menyembuhkan’, nyatanya tidak demikian. Luka tidak pernah sembuh seiring
berjalannya waktu. Ia hanya membantu meredakan sakitnya untuk kemudian kembali
memunculkan kenangan pahit itu.” Ia mengakhiri kalimatnya. “Apa kau pernah
kehilangan?”
“Ya. Aku
sangat terpukul ketika ibuku meninggal pada usiaku yang ke tujuh tahun.”
“Semua
orang pernah kehilangan. Hanya respon yang membedakan kita. Aku berkabung
selama bertahun-tahun. Membenci kekasihku karena ketidak jujurannya, kemudian merasa
takut untuk memulai. Bersikap waspada kepada siapa pun yang mencoba merobohkan benteng
yang kubuat untuk menjaga diriku sendiri. Yang kulakukan ternyata hanya sia-sia,
aku tidak pernah bahagia.” Ia diam sejenak. “Jika kau bertanya mengapa aku bisa
menceritakan hal ini, itu karena aku sudah memaafkan kekasihku dan berdamai
dengan masa lalu” ia tersenyum kepadaku saat kalimat terakhir diucapkan.
Aku diam,
tidak mengerti harus merespon seperti apa.
“Maaf telah
membuatmu bingung. Hujan telah berhenti, aku harus pergi.” Ia segera memasukkan
bukunya ke dalam tas. “Terima kasih untuk malam ini, semoga kita bertemu
kembali.” Ia pergi tanpa menunggu jawabanku.
Sesaat
wanita itu pergi, wanita lain masuk dan duduk di sebelahku. Cangkir kotor bekas
wanita yang belum kuketahui namanya telah diangkat oleh barista, digantikan
cangkir baru pesanan wanita di sebelahku. Ia adalah orang yang menemaniku kurang
lebih lima tahun belakangan. Menantiku tanpa pernah benar-benar memaksa. Menungguku
sembuh dari rasa takut kehilangan. Menungguku untuk bisa menerima kenyataan,
dan memulai kehidupan baru.
Comments
Post a Comment