Selamat Ulang Tahun
sebentar lagi ulang tahunmu
entah sejak kapan
aku mulai ambil andil untuk merayakannya
menjadi salah satu momen penting dalam hidupku
katamu kau tidak suka kue tart
yang biasa terpajang dietalase-etalase kaca
rasanya terlalu manis, membuatmu mual
lalu apa yang harus aku berikan?
piza dengan empat potongan sama besar
begitu usulmu dulu
lalu kau bercerita mengapa
pada potongan pertama kau akan menyisihkan
untuk orang yang paling kau kasihi
yang mengingatkanmu
betapa menyenangkannya masa kecilmu dulu
potongan kedua masih tetap kau sisihkan
untuk rentang waktu yang tidak bisa kau jelaskan
masa-masa gamang, terangmu
sunyi yang kau jadikan teman
cita-cita yang gagal kau gapai
dan cinta yang susah payah kau kejar
justru hanya menjadikanmu bahan tertawaan
dipotongan ketiga kau mulai memakannya
potongan ini kau dedikasikan untuk mengenang
masa-masa kau siap berdiri di atas kakimu sendiri
menerima semua yang sudah terjadi
dan melakukan apa pun
agar kau tak gagal lagi
yang terakhir adalah untuk usia barumu
sebelum kau menggigit potongan ke empat
kau memisahkan daging yang menjadi toping
kenapa? tanyaku bingung
kau tersenyum malu-malu
tentu saja karena hari-hariku ke depan
masih kosong tak terbayang
aku terpesona pada sorot matamu yang tajam
tulang pipimu yang besar
membuat raut wajahmu semakin berbinar-binar
kau kembali menjelaskan, bahwa masa depanmu
tidak pernah benar-benar kosong
ia penuh oleh doa, usaha dan kejutan
aku ingat setelahnya
kau bilang
bahwa sebenarnya
kau tidak benar-benar suka perayaan
sebab ia hanya sementara
untuk kemudian lenyap dan
menyisakan kau sendirian
disisa potongan terakhir itu
aku bertanya
untuk apa kau panjatkan doa jika
kau tetap berjalan dengan keraguan
tanpa berpikir, kau menjawab,
beberapa orang tetap bertahan karena harapan
bahwa masih ada kemungkinan-kemungkinan
kini, giliranku menangis sambil tersenyum
menyadari potongan terakhir itu kau berikan untukku
untuk kekasih,
selamat ulang tahun
sambil bertepuk tangan, akan kutiupkan harapan
pada lilin yang tidak pernah merayakan.
entah sejak kapan
aku mulai ambil andil untuk merayakannya
menjadi salah satu momen penting dalam hidupku
katamu kau tidak suka kue tart
yang biasa terpajang dietalase-etalase kaca
rasanya terlalu manis, membuatmu mual
lalu apa yang harus aku berikan?
piza dengan empat potongan sama besar
begitu usulmu dulu
lalu kau bercerita mengapa
pada potongan pertama kau akan menyisihkan
untuk orang yang paling kau kasihi
yang mengingatkanmu
betapa menyenangkannya masa kecilmu dulu
potongan kedua masih tetap kau sisihkan
untuk rentang waktu yang tidak bisa kau jelaskan
masa-masa gamang, terangmu
sunyi yang kau jadikan teman
cita-cita yang gagal kau gapai
dan cinta yang susah payah kau kejar
justru hanya menjadikanmu bahan tertawaan
dipotongan ketiga kau mulai memakannya
potongan ini kau dedikasikan untuk mengenang
masa-masa kau siap berdiri di atas kakimu sendiri
menerima semua yang sudah terjadi
dan melakukan apa pun
agar kau tak gagal lagi
yang terakhir adalah untuk usia barumu
sebelum kau menggigit potongan ke empat
kau memisahkan daging yang menjadi toping
kenapa? tanyaku bingung
kau tersenyum malu-malu
tentu saja karena hari-hariku ke depan
masih kosong tak terbayang
aku terpesona pada sorot matamu yang tajam
tulang pipimu yang besar
membuat raut wajahmu semakin berbinar-binar
kau kembali menjelaskan, bahwa masa depanmu
tidak pernah benar-benar kosong
ia penuh oleh doa, usaha dan kejutan
aku ingat setelahnya
kau bilang
bahwa sebenarnya
kau tidak benar-benar suka perayaan
sebab ia hanya sementara
untuk kemudian lenyap dan
menyisakan kau sendirian
disisa potongan terakhir itu
aku bertanya
untuk apa kau panjatkan doa jika
kau tetap berjalan dengan keraguan
tanpa berpikir, kau menjawab,
beberapa orang tetap bertahan karena harapan
bahwa masih ada kemungkinan-kemungkinan
kini, giliranku menangis sambil tersenyum
menyadari potongan terakhir itu kau berikan untukku
untuk kekasih,
selamat ulang tahun
sambil bertepuk tangan, akan kutiupkan harapan
pada lilin yang tidak pernah merayakan.
Comments
Post a Comment