Berhenti

aku mencintaimu,
kau tidak perlu ragu
maka selain memperhatikanmu,
tinggal di dalammu, aku tidak memiliki keberanian
pergi ke mana pun selain melekat didinding jiwamu.

ini soal perasaan,
yang jika tidak ditata
justru membuat uring pemiliknya.
ini soal rasa,
aku mengandungnya,
merawatnya, dan
membesarkannya sendiri.
ini soal rasa,
aku meraciknya,
memasaknya,
lalu kunikmati sendiri.

namun,
seperti cerita memiliki akhir,
layaknya perjalanan memiliki ujung,
dan mimpi memiliki batas,
maka rasa tidak melulu dikecap
sebagai sesuatu yang manis,
yang elok untuk dinikmati.

bukankah segala sesuatu ada masanya?
agar yang datang bisa pamit undur diri,
yang pergi bisa tertidur seraya larut dalam kenang dan renung.

ah kekasih,
merelakan memang bukan persoalan mudah,
kau terlampau berharga untuk diakhiri dengan amarah
aku tak mau menyakiti siapa pun yang kau pilih.

seperti puisi-puisi yang tidak pernah membenci,
demikian juga aku,
melepasmu dengan berbesar hati.




nb:
untuk kekasih,
selamat terbang tinggi ke rumah yang kau pilih.
yang membuat pedih menjadi gula merah dipipi,
yang menyulap jari-jari menjadi pelukan hangat dihati,
yang menjadikan bahunya sebagai bantal untuk kau sandari.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup