Museum Layang-layang: tentang masa lalu
Beberapa waktu silam, saya pergi ke Museum Layang-layang bersama teman lama. Saya lupa sejak kapan memiliki keinginan mengunjungi tempat-tempat wisata di Jakarta. Sepertinya ini adalah hasil kejenuhan karena saya selalu berwisata ke kedai kopi saja.
Saya dan teman saya memilih menggunakan transjakarta, karena dari halte terdekat hanya perlu berjalan sekitar lima ratus meter untuk sampai ke museum di jalan Haji Kamang, Jakarta Selatan. Museum ini dibuka setiap hari, kecuali hari libur nasional. Tiket dibuka dengan harga lima belas ribu per orang, dengan fasilitas menonton film dokumenter, melihat koleksi layang-layang yang dipandu oleh tour guide, serta mewarnai layang-layang. Sebenarnya masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan, seperti membuat keramik, membatik, melukis wayang, topeng, lampion, payung, kaos dan sebagainya. Hanya saja pengunjung akan dikenakan biaya tambahan, sesuai dengan kegiatan yang dipilih.
Selesai membayar tiket, saya dan teman saya diajak oleh pemandu ke sebuah bangunan seperti pendopo dengan cat berwarna putih. Kami akan menyaksikan film dokumenter mengenai layang-layang. Sepuluh menit pemutaran film memberikan gambaran asal muasal layang-layang di dunia hingga masuk ke Indonesia. Berdasarkan film, saya tahu bahwa Pulau Mena di Sulawesi Tenggara, layang-layang pertama kali ada di Indonesia. Katanya, masyarakat ingin menggapai Tuhan, dekat dengan penciptanya dengan cara menerbangkan layang-layang yang menjulang tinggi dilangit.
Setelah menyaksikan film dokumenter, kami diajak untuk mengitari seluruh ruangan museum sembari sang pemandu menjelaskan cerita dibalik setiap layang-layang. Berbagai macam layang-layang khas seluruh provinsi di Indonesia ada di tempat ini. Pembagian layang-layang tidak hanya berdasarkan daerah, melainkan fungsinya masing-masing. Seperti layang-layang pengantin, yang diterbangkan ketika upacara adat pernikahan, sehingga penduduk sekitar bisa mengetahui bahwa ada acara pernikahan di desa tetangga ketika melihat pasangan layang-layang itu terbang di udara. Di sini bukan hanya ada layang-layang tradisional, terdapat layang-layang dari mancanegara seperti Malaysia, Cina Jepang, Korea, Italia, hingga Belanda, yang berdasarkan informasi dari sang pemandu, Bu Endang⸺ pemilik museum sendiri yang membawa dan menyimpan semua koleksi layang-layangnya.
Selesai melihat-lihat layang-layang, kami dibawa ke sebuah pendopo yang digunakan pengunjung untuk membuat karya-karya seni. Di sana tidak hanya kami berdua, ada beberapa keluarga bersama anak-anak mereka sedang mewarnai layang-layang juga. Saya tersenyum melihat mereka dan bersyukur para orangtua tidak melupakan wisata-wisata edukatif yang kelihatan bagi beberapa orang kuno dan tidak seru.
"Jadi bagaimana?" saya bertanya kepada lawan bicara saya.
"Menarik. Seumur-umur baru kali ini liat layang-layang sebesar dan sebagus ini. Jujur, aku belum pernah main layang-layang."
Saya tertawa kecil. "Serius? waktu kecil main apa sih?"
"Ya main-main juga, kebetulan aja gak pernah mainan layang-layang." jawabnya. "Jadi kenapa ngajak ke sini?"
"Mau main aja. Bosen kalau ke kedai kopi terus."
"Have you visited this place?"
"Belum, belum pernah." saya menggeleng.
"This place reminds you of your past, right?"
"How did you know?"
"I'm just guessing. Setidaknya itu yang aku dapat setelah kita pergi ke beberapa tempat."
Saya hanya mengangkat bahu, enggan menjawab pertanyaannya.
Lawan bicara saya hanya tertawa, "Tell me." dia meminta.
"Dulu bokap sering ngajak keluarga ke Monas, dan nyokap bakal gelar tikar yang dia bawa. Setelanya kita makan apa pun yang dijual di sana. Terus kalau udah selesai makan, bokap bakal beliin layang-layang dan kita bakal nerbangin sama-sama."
"Makanan apa yang sering kalian makan?"
"Hmmm...kerak telor, es kelapa, rambut nenek. Bokap dulu selalu mengingatkan, kalau saya besar, menjalani hidup seperti bermain layang-layang. Kalau layang-layang saya mau terbang tinggi, saya harus mencari tempat yang anginnya kencang. Kalau layang-layangnya mulai menurun, tentunya kita harus menarik benang, sampai layang-layang membumbung tinggi di angkasa. Saat sudah terbang, kita harus bisa mengendalikan mereka supaya gak putus. Sama dengan hidup, saya harus mempersiapkan semuanya dengan baik. Apa pun dan sekecil apa pun perannya harus dikerjakan dengan sepenuh hati."
Lawan bicara saya mendengar dengan saksama, menunggu saya menyelesaikan semua kalimat.
"Meski begitu, layang-layang yang terbang tinggi pasti akan putus, sepintar apa pun pemiliknya memainkan mereka. Demikian dengan hidup, sekeras dan sebaik apa pun kita menjalankan, ada kalanya semua terjadi di luar kendali kita. Ada satu kekuatan yang lebih besar yang mengendalikan kehidupan⸺sang pemilik semesta. Yang perlu kita lakukan hanya lah percaya."
"Why do you bring me to these place?" teman saya bertanya.
"What do you mean?"
"Why do you bring me to all the places that reminds you of your father?" teman saya memang memiliki penalaran yang bagus. Sebelum kami berkunjung ke musuem ini, saya memang mengajaknya ke tempat-tempat yang menurutnya bukan saya banget.
"Saya tidak yakin apakah ini benar atau tidak, tapi pergi ke suatu tempat yang mengingatkan saya pada masa lalu membantu saya menjawab pertanyaan apakah saya telah pulih atau masih terjebak dalam luka masa lalu."
"Then, what do you get?"
"Tidak ada yang benar-benar sembuh, tidak ada yang benar-benar terjebak. Saya tidak benar-benar terjebak karena berhasil melewati hari demi hari. Saya juga tidak benar-benar sembuh, karena setiap kali ada hal yang mengingatkan saya dengan ayah, saya kembali sedih. Mereka semua hadir untuk menguatkan."
"Kembali ke masa lalu justru menguatkan." saya mengulang kalimat terakhir dengan yakin.
Lawan bicara saya tidak menyanggah apa pun yang saya katakan. Ia hanya tersenyum, mengusap-usap kepala saya dan mendekap saya erat.
Saya dan teman saya memilih menggunakan transjakarta, karena dari halte terdekat hanya perlu berjalan sekitar lima ratus meter untuk sampai ke museum di jalan Haji Kamang, Jakarta Selatan. Museum ini dibuka setiap hari, kecuali hari libur nasional. Tiket dibuka dengan harga lima belas ribu per orang, dengan fasilitas menonton film dokumenter, melihat koleksi layang-layang yang dipandu oleh tour guide, serta mewarnai layang-layang. Sebenarnya masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan, seperti membuat keramik, membatik, melukis wayang, topeng, lampion, payung, kaos dan sebagainya. Hanya saja pengunjung akan dikenakan biaya tambahan, sesuai dengan kegiatan yang dipilih.
Selesai membayar tiket, saya dan teman saya diajak oleh pemandu ke sebuah bangunan seperti pendopo dengan cat berwarna putih. Kami akan menyaksikan film dokumenter mengenai layang-layang. Sepuluh menit pemutaran film memberikan gambaran asal muasal layang-layang di dunia hingga masuk ke Indonesia. Berdasarkan film, saya tahu bahwa Pulau Mena di Sulawesi Tenggara, layang-layang pertama kali ada di Indonesia. Katanya, masyarakat ingin menggapai Tuhan, dekat dengan penciptanya dengan cara menerbangkan layang-layang yang menjulang tinggi dilangit.
Setelah menyaksikan film dokumenter, kami diajak untuk mengitari seluruh ruangan museum sembari sang pemandu menjelaskan cerita dibalik setiap layang-layang. Berbagai macam layang-layang khas seluruh provinsi di Indonesia ada di tempat ini. Pembagian layang-layang tidak hanya berdasarkan daerah, melainkan fungsinya masing-masing. Seperti layang-layang pengantin, yang diterbangkan ketika upacara adat pernikahan, sehingga penduduk sekitar bisa mengetahui bahwa ada acara pernikahan di desa tetangga ketika melihat pasangan layang-layang itu terbang di udara. Di sini bukan hanya ada layang-layang tradisional, terdapat layang-layang dari mancanegara seperti Malaysia, Cina Jepang, Korea, Italia, hingga Belanda, yang berdasarkan informasi dari sang pemandu, Bu Endang⸺ pemilik museum sendiri yang membawa dan menyimpan semua koleksi layang-layangnya.
Selesai melihat-lihat layang-layang, kami dibawa ke sebuah pendopo yang digunakan pengunjung untuk membuat karya-karya seni. Di sana tidak hanya kami berdua, ada beberapa keluarga bersama anak-anak mereka sedang mewarnai layang-layang juga. Saya tersenyum melihat mereka dan bersyukur para orangtua tidak melupakan wisata-wisata edukatif yang kelihatan bagi beberapa orang kuno dan tidak seru.
"Jadi bagaimana?" saya bertanya kepada lawan bicara saya.
"Menarik. Seumur-umur baru kali ini liat layang-layang sebesar dan sebagus ini. Jujur, aku belum pernah main layang-layang."
Saya tertawa kecil. "Serius? waktu kecil main apa sih?"
"Ya main-main juga, kebetulan aja gak pernah mainan layang-layang." jawabnya. "Jadi kenapa ngajak ke sini?"
"Mau main aja. Bosen kalau ke kedai kopi terus."
"Have you visited this place?"
"Belum, belum pernah." saya menggeleng.
"This place reminds you of your past, right?"
"How did you know?"
"I'm just guessing. Setidaknya itu yang aku dapat setelah kita pergi ke beberapa tempat."
Saya hanya mengangkat bahu, enggan menjawab pertanyaannya.
Lawan bicara saya hanya tertawa, "Tell me." dia meminta.
"Dulu bokap sering ngajak keluarga ke Monas, dan nyokap bakal gelar tikar yang dia bawa. Setelanya kita makan apa pun yang dijual di sana. Terus kalau udah selesai makan, bokap bakal beliin layang-layang dan kita bakal nerbangin sama-sama."
"Makanan apa yang sering kalian makan?"
"Hmmm...kerak telor, es kelapa, rambut nenek. Bokap dulu selalu mengingatkan, kalau saya besar, menjalani hidup seperti bermain layang-layang. Kalau layang-layang saya mau terbang tinggi, saya harus mencari tempat yang anginnya kencang. Kalau layang-layangnya mulai menurun, tentunya kita harus menarik benang, sampai layang-layang membumbung tinggi di angkasa. Saat sudah terbang, kita harus bisa mengendalikan mereka supaya gak putus. Sama dengan hidup, saya harus mempersiapkan semuanya dengan baik. Apa pun dan sekecil apa pun perannya harus dikerjakan dengan sepenuh hati."
Lawan bicara saya mendengar dengan saksama, menunggu saya menyelesaikan semua kalimat.
"Meski begitu, layang-layang yang terbang tinggi pasti akan putus, sepintar apa pun pemiliknya memainkan mereka. Demikian dengan hidup, sekeras dan sebaik apa pun kita menjalankan, ada kalanya semua terjadi di luar kendali kita. Ada satu kekuatan yang lebih besar yang mengendalikan kehidupan⸺sang pemilik semesta. Yang perlu kita lakukan hanya lah percaya."
"Why do you bring me to these place?" teman saya bertanya.
"What do you mean?"
"Why do you bring me to all the places that reminds you of your father?" teman saya memang memiliki penalaran yang bagus. Sebelum kami berkunjung ke musuem ini, saya memang mengajaknya ke tempat-tempat yang menurutnya bukan saya banget.
"Saya tidak yakin apakah ini benar atau tidak, tapi pergi ke suatu tempat yang mengingatkan saya pada masa lalu membantu saya menjawab pertanyaan apakah saya telah pulih atau masih terjebak dalam luka masa lalu."
"Then, what do you get?"
"Tidak ada yang benar-benar sembuh, tidak ada yang benar-benar terjebak. Saya tidak benar-benar terjebak karena berhasil melewati hari demi hari. Saya juga tidak benar-benar sembuh, karena setiap kali ada hal yang mengingatkan saya dengan ayah, saya kembali sedih. Mereka semua hadir untuk menguatkan."
"Kembali ke masa lalu justru menguatkan." saya mengulang kalimat terakhir dengan yakin.
Lawan bicara saya tidak menyanggah apa pun yang saya katakan. Ia hanya tersenyum, mengusap-usap kepala saya dan mendekap saya erat.
Comments
Post a Comment