Cinta yang Membebaskan

Beberapa orang merasa bosan jika melulu disuguhkan cerita cinta, tapi malam ini kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkanmu pada perasaan egois, yang di belakangnya mengekor rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih, takut kehilangan, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan. Cinta yang dibarengi dengan rasa sakit yang mendalam.

Kenapa?

Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukan kah sudah berkali-kali kubilang, tak ada yang perlu terlalu kau cemaskan. Bukan kah hidup memang seperti roda yang berputar, ia selalu berubah. Tidak ada yang konstan. Itu menariknya hidup, tidak ada yang pasti selain ketidak pastian itu sendiri. Bahkan, ketika semua sudah berada dalam perencanaan matang-matang, dan berada dalam genggaman, tak ada yang menjamin apa pun. Mereka bisa pergi meninggalkan mu, persoalannya hanya kapan.

Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Seperti yang kau lakukan untuk orang-orang pilihanmu, mendengarkan, membantu apa pun yang bisa kau lakukan. Kau tahu benar cara menanam bibit di tanah yang subur agar kelak tuaianmu mengantarmu kepada hal yang baik, yang lebih besar lagi. Bila kali ini kau bertemu dia, maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Caranya memandang hidup, memperlakukanmu, dan hal-hal ajaib lainnya yang tidak akan kau dapat di bangku tempat kau kuliah.

Sudah berapa umurmu sekarang?

Bolehkah aku jujur? Kau terlalu berhati-hati, tak mau mengambil risiko yang belum tentu akan terjadi. Ketakutanmu. Keraguanmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?

Apa yang kau pikirkan? Apa yang kau takutkan?

Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau kehilangan yang sudah terlanjur kau jaga.

Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Kau perasa dan selalu mengutamakan perasaan orang-orang di sekitarmu. Segala yang kau putuskan, ada saja faktor orang lain di dalamnya. Tidak, kau tidak menikmatinya, hanya saja kau tak mau kehilangan mereka bila hidupmu dirasa tidak sesuai dengan standar yang mereka buat. Kau benci sendirian, kau tak menyukai perasaan tidak dilibatkan. Padahal sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk menjadi lemah. Bahkan, kakimu yang kurus dilahirkan untuk membuatmu berdiri tegap. Kau lebih dari yang kautahu. Perkara yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah peluru yang membuatmu lebih mawas. Kehilangan yang kau rasakan adalah obat agar kau tak bergantung dengan siapa pun. Bahkan tangis yang tak pernah kau tunjukan kecuali teman-teman putih-birumu, hanyalah sebuah cara melepas beban, agar tidak ada apa pun yang mampu menahanmu melangkah ke depan.

Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepas semuanya. Mengizinkan dirimu menangis sepuasnya. Tanpa takut dibilang cengeng, tanpa takut dibilang seperti anak kecil. Aku memang belum pernah melihatmu meringkuk menangis, aku tahu posisiku belum sebaik itu untuk melihat sisi terlemahmu. Tak apa, aku senang, setidaknya kau memiliki orang-orang yang bisa kau percayai membuka segala keluh kesahmu, melihatmu dari sisi yang terburuk tanpa pernah ingin pergi sekali pun.

Tapi malam ini, aku memintamu untuk diam dan menghabiskan gelap bersamaku. Izinkan aku berbicara sedikit, mengecap perasaanmu yang sebenar-benarnya, mengenalimu lewat sorot mata, menemukanku hadir di ruang paling pribadimu, yang kaujaga ketat, siapa saja yang kau izinkan duduk diam di sana.

Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?

Perjalanan ini memang dibuat khusus untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?

Kau tak bermasud demikian, aku tahu itu. Kau memang kesukaan semua orang, kau yang paling dinanti, karena tawamu, karena candamu. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Wajar saja kau tak merasa, perhatian dan kasih sayang mereka adalah makananmu setiap hari.

Tapi aku takpernah menyerah. Aku menunggumu menyadari bahwa pergerakan kecil yang kulakukan berbeda dari mereka. Dan kini semua sudah jelas, kau tahu, dan aku tak perlu berpura-pura lebih lama.

Seberapa menyakitkannya kenyataan ini, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar, mungkin kau perlu menghindar, tapi pada akhirnya kau akan sadar. Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta. Perasaanmu tidak akan pergi, hanya menunggu bom waktu agar kau siap mengakuinya.

Cinta memang sering kali di luar logika, sayang. Cinta membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekali pun, bahkan yang belum kau ketahui.

Aku tahu apa yang menjadi pertimbanganmu. Apakah aku egois karena menunjukan semuanya? Cinta memang bisa membuat bodoh yang mengalaminya. Kau benar, tidak ada manusia yang bisa mengendalikan perasaan, tindakan atas perasaan tersebut yang harus diperhatikan. Sebut aku bodoh yang gagal menjaga mataku agar tidak terpesona dengan senyummu, gagal mengendalikan tanganku yang lancang berbuat sesuatu tanpa perlu kau minta, gagal memenjarakan kakiku agar tidak terus melangkah menujumu.

Cinta memang bisa sedemikian egois, sayang. Ia tidak mau berbagi. Tidak hanya itu, cinta sering kali berbuat jahat, menyuruhmu berdusta demi perasaan yang sudah terlanjur tumpah. Berkhianat atas prinsip dan nilai-nilai yang selama ini kau anut. Melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang kau pasang atas nama cinta. 

Aku tidak tahu sebesar apa taruhan yang kupasang atas nama cinta. Pertemanan kau dan aku. Pertemanan kita. Hubungan baik yang kujaga bila kau memilih menolak semuanya.

Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi.  Tenang lah, ini tidak akan menakutkan.

Cinta sanggup meredam semua amarah.

Awalnya kau menduga perasaan ini akan merusak segalanya. Tidak ada lagi ejekan tentang kau dan barisan nama yang kau coba sembunyikan identitasnya. Tidak ada lagi keluh kesah tentang mereka. Tidak ada lagi ejekan tentang masa laluku. Tidak ada lagi kata-kata mesra yang bisa ditujukan sebagai candaan. Tidak ada lagi gurauan seandainya kita tidak berbeda. Semua berubah. Ada yang perlu dijaga. Ada hati yang diam-diam harus dijaga perasaannya.

Lalu, kau akan berpikir, perasaan ini salah.

Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Kelas berikutnya, baik untuk dirimu, untuk pertemanan ini. Kau akan melihat lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga merusak semuanya. Hanya saja, perasaan itu bertransformasi. Menjadi bentuk lain, menjelma sesuatu yang berbeda.

Berhenti merasa terkekang, sayang. Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak, jika kau tidak menginginkannya. Ia mengajarimu berlaku tak manis, jika kau terusik karenanya. Ia memberimu kebebasan untuk terbang ke mana pohon yang kau suka, yang memberimu madu paling manis di antara lainnya, menyediakan ranting paling kuat untuk kau singgah, mengeluarkan daun paling lebat untuk kau tinggal. Ia memberimu banyak jalan untuk kau pilih.

Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.

Jadi, jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitnya, kau akan dewasa bersamanya. Cinta yang membuatmu sanggup melewati lebih. Cinta yang membebaskanmu.

Dan aku tahu kau tahu, cintaku masih panjang untuk memikirkan perbedaan kita.

Sekarang, tidur lah. Bangun, saat sinar matahari dan nyanyian burung mengusik tidurmu. Besok, kau akan kembali seperti semula, tertawa lepas seperti tidak ada apa-apa. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.


Aku mencintaimu, selalu.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup