Perasaan saya hangat ketika membahas tentang pertemanan. Kata mama, selain keluarga, pertemanan adalah salah satu bukti nyata kasih Tuhan terhadap manusia. Sisanya, cara saya melihat pertemanan sangat dipengaruhi cara beliau memaknai persahabatan itu sendiri. Sejak duduk di bangku menengah atas, mama selalu meminta saya memperkenalkan teman-teman ke rumah, katanya ingin mengenal saya melalui pergaulan saya. Tapi, seiring bertambahnya usia, ketika masing-masing dari kita tidak lagi duduk di ruang kelas yang sama, yang irisannya hanya karena terlanjur nyaman, apakah teman masih menjadi satu hal yang bermakna? Bagi sebagian mungkin tidak, tapi saya tumbuh karena dan bersama sahabat karib saya. Ketika mendengar POST Press ingin menerbitkan buku soal pertemanan, saya menanti dengan perasaan sukacita dan berakhir dengan menimbang-nimbang naik surutnya pertemanan saya sendiri. #MuseumTemanBaik adalah antologi yang bercerita tentang dinamika pertemanan di usia dewasa. Buku ini...
Hari ini adalah genap tiga minggu sejak badan saya ambruk yang membuat saya perlu banyak beristirahat di rumah. Sebelumnya keadaan memang masih mengharuskan saya untuk pergi, dan saat ini menghabiskan hari demi hari hingga berminggu-minggu dengan berada di rumah saja membuat saya seperti terkukung dalam sebuah bangunan dari semen, dengan penghuni yang itu-itu saja. Masih berkabung karena patah hati, deadline skripsi, serta pandemi yang mengubah gaya hidup adalah duet maut paling sempurna yang bisa membunuh saya pelan-pelan dalam kesendirian, kesuntukan, dan kebosanan. Satu minggu pertama saya habiskan hanya dengan minum vitamin, makan dengan nutrisi yang cukup, serta tidur dengan jam yang lebih panjang dari pada biasanya. Tidak ada aktivitas yang menarik selain mengecek lini masa twitter dengan harapan ada cuitan-cuitan lucu yang bisa menghibur. Disaat aturan tidak lagi mengizinkan setiap orang untuk berkumpul, internet memang menjadi satu-satunya alat untu...
barangkali yang kau suka bukan teman untuk berdialog melainkan apa saja yang membuat heningmu hilang barangkali apa-apa dariku akan selalu kurang meski telah banyak waktu yang kubuang untuk memastikanmu tenang barangkali gunung dan laut tertawa karena aku melamunkan ketidakmungkinan rasa berubah wujud nyata barangkali aku yang mudah cemburu dengan apa-apa yang kau lakukan dengan apa-apa yang kau genggam aku tidak punya sabar barangkali aku yang tidak tahu diri meminta banyak perhatian atas kita yang bukan siapa-siapa barangkali seperti burung gereja yang pergi melalu terbang esok hari dan seterusnya aku takkan melihatmu pulang mari sudahi saja barangkali kita sama-sama lega mari sudahi saja barangkali memang bukan kamu memang bukan kita ditulis di Saturasi Kopi, Tebet, Jakarta Selatan
Comments
Post a Comment