Perasaan saya hangat ketika membahas tentang pertemanan. Kata mama, selain keluarga, pertemanan adalah salah satu bukti nyata kasih Tuhan terhadap manusia. Sisanya, cara saya melihat pertemanan sangat dipengaruhi cara beliau memaknai persahabatan itu sendiri. Sejak duduk di bangku menengah atas, mama selalu meminta saya memperkenalkan teman-teman ke rumah, katanya ingin mengenal saya melalui pergaulan saya. Tapi, seiring bertambahnya usia, ketika masing-masing dari kita tidak lagi duduk di ruang kelas yang sama, yang irisannya hanya karena terlanjur nyaman, apakah teman masih menjadi satu hal yang bermakna? Bagi sebagian mungkin tidak, tapi saya tumbuh karena dan bersama sahabat karib saya. Ketika mendengar POST Press ingin menerbitkan buku soal pertemanan, saya menanti dengan perasaan sukacita dan berakhir dengan menimbang-nimbang naik surutnya pertemanan saya sendiri. #MuseumTemanBaik adalah antologi yang bercerita tentang dinamika pertemanan di usia dewasa. Buku ini...
sebentar lagi ulang tahunmu entah sejak kapan aku mulai ambil andil untuk merayakannya menjadi salah satu momen penting dalam hidupku katamu kau tidak suka kue tart yang biasa terpajang dietalase-etalase kaca rasanya terlalu manis, membuatmu mual lalu apa yang harus aku berikan? piza dengan empat potongan sama besar begitu usulmu dulu lalu kau bercerita mengapa pada potongan pertama kau akan menyisihkan untuk orang yang paling kau kasihi yang mengingatkanmu betapa menyenangkannya masa kecilmu dulu potongan kedua masih tetap kau sisihkan untuk rentang waktu yang tidak bisa kau jelaskan masa-masa gamang, terangmu sunyi yang kau jadikan teman cita-cita yang gagal kau gapai dan cinta yang susah payah kau kejar justru hanya menjadikanmu bahan tertawaan dipotongan ketiga kau mulai memakannya potongan ini kau dedikasikan untuk mengenang masa-masa kau siap berdiri di atas kakimu sendiri menerima semua yang sudah terjadi dan melakukan apa pun agar kau tak gagal l...
barangkali yang kau suka bukan teman untuk berdialog melainkan apa saja yang membuat heningmu hilang barangkali apa-apa dariku akan selalu kurang meski telah banyak waktu yang kubuang untuk memastikanmu tenang barangkali gunung dan laut tertawa karena aku melamunkan ketidakmungkinan rasa berubah wujud nyata barangkali aku yang mudah cemburu dengan apa-apa yang kau lakukan dengan apa-apa yang kau genggam aku tidak punya sabar barangkali aku yang tidak tahu diri meminta banyak perhatian atas kita yang bukan siapa-siapa barangkali seperti burung gereja yang pergi melalu terbang esok hari dan seterusnya aku takkan melihatmu pulang mari sudahi saja barangkali kita sama-sama lega mari sudahi saja barangkali memang bukan kamu memang bukan kita ditulis di Saturasi Kopi, Tebet, Jakarta Selatan
Comments
Post a Comment