Perasaan saya hangat ketika membahas tentang pertemanan. Kata mama, selain keluarga, pertemanan adalah salah satu bukti nyata kasih Tuhan terhadap manusia. Sisanya, cara saya melihat pertemanan sangat dipengaruhi cara beliau memaknai persahabatan itu sendiri. Sejak duduk di bangku menengah atas, mama selalu meminta saya memperkenalkan teman-teman ke rumah, katanya ingin mengenal saya melalui pergaulan saya. Tapi, seiring bertambahnya usia, ketika masing-masing dari kita tidak lagi duduk di ruang kelas yang sama, yang irisannya hanya karena terlanjur nyaman, apakah teman masih menjadi satu hal yang bermakna? Bagi sebagian mungkin tidak, tapi saya tumbuh karena dan bersama sahabat karib saya. Ketika mendengar POST Press ingin menerbitkan buku soal pertemanan, saya menanti dengan perasaan sukacita dan berakhir dengan menimbang-nimbang naik surutnya pertemanan saya sendiri. #MuseumTemanBaik adalah antologi yang bercerita tentang dinamika pertemanan di usia dewasa. Buku ini...
barangkali yang kau suka bukan teman untuk berdialog melainkan apa saja yang membuat heningmu hilang barangkali apa-apa dariku akan selalu kurang meski telah banyak waktu yang kubuang untuk memastikanmu tenang barangkali gunung dan laut tertawa karena aku melamunkan ketidakmungkinan rasa berubah wujud nyata barangkali aku yang mudah cemburu dengan apa-apa yang kau lakukan dengan apa-apa yang kau genggam aku tidak punya sabar barangkali aku yang tidak tahu diri meminta banyak perhatian atas kita yang bukan siapa-siapa barangkali seperti burung gereja yang pergi melalu terbang esok hari dan seterusnya aku takkan melihatmu pulang mari sudahi saja barangkali kita sama-sama lega mari sudahi saja barangkali memang bukan kamu memang bukan kita ditulis di Saturasi Kopi, Tebet, Jakarta Selatan
Saya hendak tidur, ketika menulis catatan ini. Tidak ada patah hati seperti curhatan-curhatan sebelumnya, hanya kerinduan untuk menulis atau barangkali karena kebosanan akibat rutinitas kerja. Dua bulan terakhir saya memiliki pengalaman baru— melakukan business trip hampir setiap minggunya di kota yang berbeda bersama orang-orang baru. Sebagai orang yang tidak suka berpergian, kerja di luar kota dengan orang yang tidak saya kenal (tentunya juga tidak mengenal saya) merupakan mimpi buruk. Benar saja, saya harus mengatasi mabuk perjalanan saya seorang diri, mengurus badan yang sakit sambil tetap mengatur pekerjaan. Di tengah caurnya jam kerja, ada satu buku yang menarik perhatian saya, berjudul Indonesia Dari Pinggir, karya jurnalis Fatris MF yang tak asing namanya. Buku ini saya temukan di Post Santa, toko buku mungil di tengah pasar yang memiliki sejarah manis pada masanya. Buku ini menemani saya bekerja di Malang, tentang perjalanan Fatris bermain ke Indonesia bagian timur. Penga...
Comments
Post a Comment