Perasaan saya hangat ketika membahas tentang pertemanan. Kata mama, selain keluarga, pertemanan adalah salah satu bukti nyata kasih Tuhan terhadap manusia. Sisanya, cara saya melihat pertemanan sangat dipengaruhi cara beliau memaknai persahabatan itu sendiri. Sejak duduk di bangku menengah atas, mama selalu meminta saya memperkenalkan teman-teman ke rumah, katanya ingin mengenal saya melalui pergaulan saya. Tapi, seiring bertambahnya usia, ketika masing-masing dari kita tidak lagi duduk di ruang kelas yang sama, yang irisannya hanya karena terlanjur nyaman, apakah teman masih menjadi satu hal yang bermakna? Bagi sebagian mungkin tidak, tapi saya tumbuh karena dan bersama sahabat karib saya. Ketika mendengar POST Press ingin menerbitkan buku soal pertemanan, saya menanti dengan perasaan sukacita dan berakhir dengan menimbang-nimbang naik surutnya pertemanan saya sendiri. #MuseumTemanBaik adalah antologi yang bercerita tentang dinamika pertemanan di usia dewasa. Buku ini...
barangkali yang kau suka bukan teman untuk berdialog melainkan apa saja yang membuat heningmu hilang barangkali apa-apa dariku akan selalu kurang meski telah banyak waktu yang kubuang untuk memastikanmu tenang barangkali gunung dan laut tertawa karena aku melamunkan ketidakmungkinan rasa berubah wujud nyata barangkali aku yang mudah cemburu dengan apa-apa yang kau lakukan dengan apa-apa yang kau genggam aku tidak punya sabar barangkali aku yang tidak tahu diri meminta banyak perhatian atas kita yang bukan siapa-siapa barangkali seperti burung gereja yang pergi melalu terbang esok hari dan seterusnya aku takkan melihatmu pulang mari sudahi saja barangkali kita sama-sama lega mari sudahi saja barangkali memang bukan kamu memang bukan kita ditulis di Saturasi Kopi, Tebet, Jakarta Selatan
Beberapa hari ini saya digelisahkan oleh hal yang sebenarnya sudah lama bertengger dikepala, tapi enggan untuk saya cari dan temukan jawabannya. Perihal makna hidup. Saat ini saya sedang dalam masa liburan semester kuliah. Untuk mengisi waktu, saya memilih berdiam di rumah, bersitirahat, dan mempersiapkan diri sebelum memasuki kuliah yang saya yakin semakin berat tantangannya. Di sela-selanya, saya juga bertemu dengan teman-teman kuliah, karena kebanyakan teman-teman SMP dan SMA saya masih dalam masa ujian akhir dan bahkan sebagian sudah sibuk dengan tugas akhir sebagai syarat kelulusan universitas. Setiap bertemu dengan mereka kami terlibat dalam pembicaraan seputar apa yang sedang kami kerjakan di tengah-tengah liburan semester yang tergolong sebentar ini. Satu teman saya sedang dalam masa magang, satu teman lainnya sedang mengurusi kepanitiaan besar di fakultas, teman saya yang lain sedang pkl, dan sebagai-sebagainya. Saya menyadari, selama pertemuan saya lebih ban...
Comments
Post a Comment