Journey of Healing (Day 6)

Aku merasa telah menyingkirkanmu,
dari bunga tidur untuk duduk di beranda rumah
menyesap teh hangat,
mendengar tetes-tetes hujan
yang jatuh dibalik genting rumah,
berdialog menunggu pelangi
yang warnanya muncul disela-sela
atap rumah warga.

Ternyata hati ini masih dangkal
dan telah ribuan hari jadi pembual
penggal-penggal cerita kebahagiaan 
dari buku yang kubaca
hanya omong kosong belaka.

Sudahlah, 
tak ada guna semua pelarian.

Kau harus memaafkan
lembaran film itu
kalau berani,
meremas-remas hingga mereka
semua hancur.

Aku harus berhenti menuliskanmu ke dalam puisi,
karena cerita yang hadir melulu tentang hati yang mendidih.

Aku mesti rehat
beradu dengan bayang masa lalu
tidak enak kepada pembaca
selalu disuguhkan sisi gelap tentang cinta.

Ruko-ruko di selatan Jakarta
aku kunjungi kembali, 
semata-mata hanya untuk menemukan
jejak kaki kita yang melangkah berirama, dan
tangan yang saling bertautan
di bawah matahari yang siap tenggelam.

Aku merasa telah menyingkirkanmu dari lamunan,
juga kenyataan.

Tapi kau tak angkat kaki,



Malah bersembunyi didadaku
sebagai luka masa lalu.






Desakan Masa Lalu.
Jakarta, 12 Januari 2019.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup