Journey of Healing (Day 3)
+ Kamu
pernah patah hati?
- Aku kira
semua orang yang punya hati, lambat laun akan mengalaminya.
+ Bagaimana
kamu menanganinya?
- Maksudmu?
Menangani patah hati?
+ Iya.
- Aku akan
mengambil jarak sejauh mungkin.
+ Sejauh
apa?
- Bukan.
Ini bukan tentang aku pergi ke tempat lain yang sangat jauh. Aku hanya perlu
meninggalkan semua tentang dirinya. Memutus apa pun yang berkaitan tentang dirinya.
+
Maksudnya? Kamu tidak mau bersentuhan lagi dengan apa pun yang bisa
menghubungkanmu dengan dirinya? Bahkan berbicara dengannya sebagai teman yang mengenal
dirimu lebih dari orang lain?
- Ya,
seperti itu.
+ Termasuk
denganku?
- Kenapa
kamu nanya tentang patah hati kepadaku? Kamu berencana mengakhiri hubungan
kita?
+ Bukan,
aku kan hanya bertanya. Jawab saja pertanyaanku.
- Tidak
selalu. Semua tergantung.
+ Ternyata
kamu bisa sangat kejam saat patah hati, ya.
- Oh ya?
Memang apa yang kamu lakukan untuk menangani patah hati?
+ Aku bisa
menjadi sangat ekspresif. Aku akan menulis tentang kesedihanku, bisa jadi
mengenang dirinya lewat tulisanku. Aku akan menyibukkan diri, bertemu dengan banyak
orang, atau jalan-jalan saja mengitari kota, naik transportasi umum, kemudian duduk-duduk di kedai kopi sambil mendengarkan lagu. Berbaur dengan suasana.
- Kamu
bermaksud lari dari kenyataan?
+ Hey, aku
tidak bermaksud demikian. Kalau begitu apa bedanya dengan dirimu? Kamu saja menolak
apa pun yang berkaitan dengan dirinya. Justru, kamu yang lari, aku meresapi kesedihanku.
- Bagaimana
ya menjelaskannya. Aku juga meresapi kesedihanku, hanya saja menggunakan cara kaumku, teknik laki-laki.
Menurutmu mengapa ketika orang patah hati mereka akan meresapinya? Bukan
membuangnya jauh-jauh?
+ Tidak ada
perbedaan. Patah hati tidak memandang jenis kelamin. Hmmm, barangkali itu cara
meyakinkan diri mereka, bahwa cinta yang mereka punya itu nyata, dan tidak
berpura-pura. Kamu tahu kan, mereka tidak akan benar-benar bersedih kalau
mereka tidak benar-benar jatuh cinta.
- Apa ya
cara terbaik untuk menangani patah hati?
+ Katamu
dengan jatuh cinta lagi. Ingat tidak apa yang kamu katakan, saat terakhir kamu
putus dengan mantanmu.
- Aku tanya
pendapatmu, bukan tentang pendapatku.
+ Aku bukan
orang yang mudah jatuh cinta. Justru seringkali setiap patah hati aku seperti
ingin menyerah dan tidak ingin melibatkan perasaan apa pun setelahnya. Caraku
menangani patah hati dengan mengakui kesedihanku. Dengan begitu aku akan mampu
mengikhlaskannya dan tidak mengingatnya sebagai sebuah kesalahan. Tetapi sebagai
hal yang indah, yang manis untuk diingat sebagai pendewasaan.
- Jadi,
cara terbaik menangani patah hati adalah berkabung dengan kesedihan itu
sendiri?
+ Menutup
luka secara paksa juga tidak akan membuatnya jadi sembuh, kan? Justru kamu
harus membiarkannya terbuka, jangan disangkal. Kalau mau menangis, menangis
saja. Kalau kau rindu, jangan kau tolak perasaannya. Dengar saja beribu-ribu
lagu kesedihan. Bagiku, bersedih berhari-hari seperti itu caraku mengakui bahwa
aku pernah mencintai orang sebaik-baiknya, setulus-tulusnya.
- Ah, patah
hati saja butuh pengakuan ya?
+ Hey,
banyak orang jatuh cinta, tapi tidak berani mengaku patah hati. Mereka begitu
gengsi mengaku lemah karena cinta. Padahal, mengaku patah hati adalah hal yang
membuatmu menjadi manusia. Memiliki, bahagia, berpisah, kehilangan, dan rindu
adalah perasaan-perasaan yang membuatmu terlihat manusiawi.
- Lalu, apa
yang harus dilakukan setelah bersedih?
+
Tersenyum, barangkali ada cinta yang baru.
- Persis
seperti pepatah ya? Bersakit-sakit kehulu berenang-renang ketepian?
+ Tentu
saja berbeda. Ah, cinta seharusnya sesederhana dan semenyenangkan ini.
- Jadi, kamu
akan mengingatku nanti sebagai yang menyenangkan ya?
+ Hey,
kenapa kamu nanya tentang ini? Kamu mau mengakhiri hubungan kita ya?
- Bukan,
aku kan hanya bertanya. Jawab saja pertanyaanku.
+ Itu
kalimatku.
- Kamu ini,
ayo jawab. Aku menunggu.
+ Aku tidak
tahu, mungkin mengingatmu dengan penuh rasa syukur. Untuk setiap kesempatan, pernah dicintai
sebaik-baiknya, pernah dikasihi setulus-tulusnya.
Menangani Patah Hati.
Jakarta, 07 Januari 2020.
Comments
Post a Comment