Posts

Showing posts from February, 2020

Tentang kebiasaan-kebiasaan kekasih

mari kita mulai cerita ini dengan menembus tembok masa lalu. seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, ini mungkin terlalu sentimentil, dan mungkin penuh dengan ego, tapi sejak bersama kekasih, setidak-tidaknya saya bisa menolong diri saya sendiri, dan memahami bahwa lengan saya memang terlalu kecil untuk memeluk semua keinginan-keinginan besar saya. di sela-sela percakapan, saya pernah mengaku kepada kekasih, "alasan saya bertahan hanya untuk membungkam bibir-bibir yang tidak pernah duduk di bangku sekolah, tapi sekarang saya tahu, saya bertahan karena saya begitu dicintai luar biasa." Betapa rendah kalimat ini, tetapi pada saat yang bersamaan ada sesuatu yang hangat yang membungkus tubuh saya. kekasih adalah orang yang paling stabil yang pernah saya kenal. Kekasih dapat dengan mudah merelakan apa yang ia tidak capai, tetapi di waktu yang sama punya rencana yang lain. Kekasih tidak akan mudah diganggu dengan keadaan, tidak gampang terusik siapa pun, tapi terus menye...

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.

tidak ada cerutu yang dibakar siang ini, yang ada hanya matamu yang memerah seperti sulut api, dan bibirku yang bergumul dengan banyak tetapi. waktu yang seharusnya dinanti-nanti orang berdasi, dihabiskan oleh kita yang saling berdebat, bicara soal bibirmu yang sudah lama hilang. lalu, aku menangis untuk pertama kalinya, dan masih meratap bahkan ketika puisi ini kau baca. kau dan aku kebingungan siapa yang seharusnya lebih lama tinggal, kasih sayang atau rasa penasaran? kau bilang 'untuk apa bersusah hati, padahal tidak ada yang berubah meski kita tidak lagi dalam satu kisah yang sama' tapi lihat, siapa yang justru beralih, aku atau kau yang lari seperti pencuri? Journey of Healing, Day 15 Jakarta, 18 Februari 2020.

Tentang Harapan

pada akhir tahun 2019, aku patah hati. sudah aku rekap dari buku catatanku, setiap kali dipenghujung tahun, aku seperti menjemput kesedihan baru, seakan-akan hari-hari sebelumnya tidak cukup pelik untuk kulalui. Ibuku bilang, karya keselamatan lahir karena Tuhan lebih dulu kehilangan gambar dan rupaNya. Karena diawal ada hubungan yang lebih dulu putus, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan. patah hati itu lebih besar dari pada kesedihan, kata ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak pelajaran, di antaranya cinta. 'Di antara banyak rasa, kau harus berkawan dengan kehilangan.' 'kenapa, Ibu?' 'karena kehilangan adalah sahabat karib menemukan. kau tidak bisa memisahkan keduanya. dan ketika kau ditinggalkan, tidak ada yang bisa menolongmu selain harapan yang kau gantungkan. Coba kau bayangkan kehidupan tanpa memiliki angan.' 'terasa hambar.' 'seperti tidak ada kehidupan, Nak' 'seberapa kuat peran harapan dalam hidup, Bu?'...

Malam Minggu

Image
Djournal, Kuningan. hari ini malam minggu, malam untuk melepas rindu. aku membuka media sosial semua orang mempertontonkan kebahagiaan. aku pergi ke pusat perbelanjaan, ah, semua orang berlomba-lomba menjadi yang paling kegirangan di tengah sesaknya ibu kota. tangan-tangan saling bertautan, wajah-wajah yang menatap penuh harap, obrolan roman picisan. kekasih, aku duduk dikursi kayu tempat kau biasa menunggu. di depanku ada kopi hitam tanpa gula, dan buku puisi supaya aku tidak bosan. kekasih ada di mana? aku menunggu kau datang, menawarkan makan malam, " Blok M selalu sempurna untuk kita yang lapar kasih sayang, mari berdansa di bawah langit selatan Jakarta. " Journey of Healing, Day 13 Djournal, Kuningan. Sabtu, 08 Februari 2020.

Tidak punya judul

Kehilangan itu seperti sayatan pertama. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk menutupinya. Itu saja ukuran setiap orang berbeda-beda, aku tidak mau menyebutkan angka pastinya, biarlah—biarlah mereka yang kehilangan yang berhak menghakimi seberapa cepat atau lambat mereka berhasil membasuh lukanya. Yang pasti, kehilangan bagiku selalu membutuhkan banyak kata. Aku membutuhkan ratusan aksara untuk mewakilkan lara—untuk mewakilkan seluruh kepahitan rasa yang disimpan erat-erat di dada. Setiap orang punya cerita yang berbeda-beda, dan melupakan tidak pernah sesederhana menghapus seluruh pesan serta foto-foto yang sengaja kita simpan. Menyeka air mata dan menahannya agak tidak jatuh lagi setiap kali aku mengingatnya, tidak pernah semudah mencari hal jenaka untuk kemudian tertawa. Bahkan menahan emosi setiap kali melihat tempat-tempat istimewa bersamanya, tidak pernah semudah mencari tempat baru agar sengaja menemukan kenangan-kenangan baru tanpa ada dia di dalamnya. Tapi dari se...