Tidak punya judul
Kehilangan itu seperti sayatan pertama. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk menutupinya. Itu saja ukuran setiap orang berbeda-beda, aku tidak mau menyebutkan angka pastinya, biarlah—biarlah mereka yang kehilangan yang berhak menghakimi seberapa cepat atau lambat mereka berhasil membasuh lukanya.
Yang pasti, kehilangan bagiku selalu membutuhkan banyak kata. Aku membutuhkan ratusan aksara untuk mewakilkan lara—untuk mewakilkan seluruh kepahitan rasa yang disimpan erat-erat di dada.
Setiap orang punya cerita yang berbeda-beda, dan melupakan tidak pernah sesederhana menghapus seluruh pesan serta foto-foto yang sengaja kita simpan. Menyeka air mata dan menahannya agak tidak jatuh lagi setiap kali aku mengingatnya, tidak pernah semudah mencari hal jenaka untuk kemudian tertawa. Bahkan menahan emosi setiap kali melihat tempat-tempat istimewa bersamanya, tidak pernah semudah mencari tempat baru agar sengaja menemukan kenangan-kenangan baru tanpa ada dia di dalamnya.
Tapi dari setiap luka akhirnya aku belajar menerima, bahwa ada cerita cinta yang berjalan dan terhenti tanpa perlu persetujuanku. Ada kebahagiaan-kebahagiaan yang punya batas waktu. Berarti, kebahagiaan atas nama kita telah habis masanya. Ada kehadiran yang tidak bisa lagi aku cari saat aku ditinggalkan sendiri. Meskipun—meskipun dulu ada masa di mana tak kaubiarkan aku luput dari pandanganmu, kalau bisa kau terus hadir di sampingku.
Mau tak mau, karena luka yang sudah terlanjur menganga ini, aku harus menemukan arti kehilanganku seorang diri. Bahkan temanku tidak mampu membantuku menemukan artinya, karena perasaanku cuma aku saja yang mengalami.
Kebanyakan orang lupa, bahwa untuk melepaskan, mereka harus mengingat. Mereka harus memutar kembali kenangan kemarin, lalu kemudian menemukan cara untuk melupakan. Perlahan-lahan, sedikit-sedikit, pasti akan mengering.
Aku percaya— sama seperti kebahagiaan, luka pun akan membaik pada waktunya. Jadi, jika kau masih melihatku layaknya orang mati, jangan mengasihani. Aku memang membutuhkan waktu lebih lama, dan aku tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan mengapa.
Yang aku tahu, aku menikmati setiap prosesnya. Bukan karena senang berkubang dalam kesedihan, hanya menerima bahwa pernah mecintai setulus-tulusnya, dan itu tidak menjamin aku diperlakukan sama seperti aku melihat dirinya.
Yang aku mau, melepasmu tanpa amarah, sesederhana karena kau pernah begitu beharga, dan tidak ada yang berubah.
Journey of Healing, Day 12
Jakarta, 02 Februari 2020
Journey of Healing, Day 12
Jakarta, 02 Februari 2020
Comments
Post a Comment