Tentang kebiasaan-kebiasaan kekasih
mari kita mulai cerita ini dengan menembus tembok masa lalu.
seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, ini mungkin terlalu sentimentil, dan mungkin penuh dengan ego, tapi sejak bersama kekasih, setidak-tidaknya saya bisa menolong diri saya sendiri, dan memahami bahwa lengan saya memang terlalu kecil untuk memeluk semua keinginan-keinginan besar saya.
di sela-sela percakapan, saya pernah mengaku kepada kekasih, "alasan saya bertahan hanya untuk membungkam bibir-bibir yang tidak pernah duduk di bangku sekolah, tapi sekarang saya tahu, saya bertahan karena saya begitu dicintai luar biasa." Betapa rendah kalimat ini, tetapi pada saat yang bersamaan ada sesuatu yang hangat yang membungkus tubuh saya.
kekasih adalah orang yang paling stabil yang pernah saya kenal. Kekasih dapat dengan mudah merelakan apa yang ia tidak capai, tetapi di waktu yang sama punya rencana yang lain. Kekasih tidak akan mudah diganggu dengan keadaan, tidak gampang terusik siapa pun, tapi terus menyesuaikan.
sementara saya adalah kebalikan dari semua itu.
Saya cenderung berisik menjalani kehidupan, dan tentu saja tidak mau kalah dengan keadaan. Saya yang tidak mau dikenal dengan orang yang penuh ambisi, akan penuh perencanaan, di pikirkan matang-matang, dan tidak segan-segan mengorbankan karena sudah lebih dulu yakin dengan hasil yang akan didapat di masa depan.
kalau dihitung-dihitung sedikit sekali saya mengalami penolakan, dalam kasus ini adalah atas hal-hal yang saya kerjakan. Saya tidak pernah kesusahan untuk mendapatkan sekolah atau universitas, saya tidak kesulitan memasuki sebuah organisasi atau komunitas, dan sebagainya. Tapi saat ini, semesta menolak apa pun yang saya kerjakan.
Saya jadi ingat, pada tempo dulu, jika saya tidak puas terhadap satu hal, saya akan mengadu kepada kekasih, dan kekasih akan senang hati membiarkan saya berbicara sepuasnya, tentang ketakutan saya, apa yang saya pikirkan, dan ragukan. Betapa ini membuat saya nyaman dan mensyukuri hal-hal sederhana, perihal didengarkan.
Tapi lebih dari itu, ini berbicara seburuk apa pun hari saya ada orang lain yang saya tahu tidak akan beranjak dari sisi saya. Ya, kekasih memastikan dirinya selalu ada.
Tetapi di satu momen, saya tidak akan dibiarkan untuk mencaci kehidupan. Kekasih dengan caranya sendiri akan membuat saya diam, dan kemudian tenang. Yang saya yakin, terkadang saya terlalu berlebihan dan ia sungguh kewalahan. Namun, kekasih dengan gayanya akan membuat saya menyetujui pendapatnya.
Di akhir percakapan kami mengenai kekhawatiran saya, dia akan tertawa dan berkata "hidup menjadi biasa saja, jika segalanya harus sepakat dengan keinginan kamu.”
biasanya saya akan langsung membantah kalimatnya. Bukan, bukan karena tidak setuju, tapi karena saya cemburu terhadap sikap santainya.
"segala sesuatu ada waktunya, mungkin tidak sekarang, tapi nanti. seperti kita, dulu belum ada cerita, tapi lihat sekarang, Jakarta menjadi sangat kecil karena setiap jejak kaki kita sudah menyusuri bahkan sudut-sudut gelapnya." ujar kekasih.
Kini saat kekasih tidak lagi di sisi, saya mengerti.
mungkin memang segala sesuatu ada waktunya. dulu ada kita, sekarang sudah selesai.
lengan saya memang tidak mampu memeluk semua keinginan saya, salah satunya adalah keinginan membuat kekasih bertahan.
seperti kekasih, saya mau tenang menghadapi pelbagai badai kehidupan, termasuk belajar menjadi baik-baik saja meskipun kekasih perlahan-lahan berjalan ke arah yang berlawanan.
Journey of Healing, Day 16
Jakarta, 22 Februari 2020.
seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, ini mungkin terlalu sentimentil, dan mungkin penuh dengan ego, tapi sejak bersama kekasih, setidak-tidaknya saya bisa menolong diri saya sendiri, dan memahami bahwa lengan saya memang terlalu kecil untuk memeluk semua keinginan-keinginan besar saya.
di sela-sela percakapan, saya pernah mengaku kepada kekasih, "alasan saya bertahan hanya untuk membungkam bibir-bibir yang tidak pernah duduk di bangku sekolah, tapi sekarang saya tahu, saya bertahan karena saya begitu dicintai luar biasa." Betapa rendah kalimat ini, tetapi pada saat yang bersamaan ada sesuatu yang hangat yang membungkus tubuh saya.
kekasih adalah orang yang paling stabil yang pernah saya kenal. Kekasih dapat dengan mudah merelakan apa yang ia tidak capai, tetapi di waktu yang sama punya rencana yang lain. Kekasih tidak akan mudah diganggu dengan keadaan, tidak gampang terusik siapa pun, tapi terus menyesuaikan.
sementara saya adalah kebalikan dari semua itu.
Saya cenderung berisik menjalani kehidupan, dan tentu saja tidak mau kalah dengan keadaan. Saya yang tidak mau dikenal dengan orang yang penuh ambisi, akan penuh perencanaan, di pikirkan matang-matang, dan tidak segan-segan mengorbankan karena sudah lebih dulu yakin dengan hasil yang akan didapat di masa depan.
kalau dihitung-dihitung sedikit sekali saya mengalami penolakan, dalam kasus ini adalah atas hal-hal yang saya kerjakan. Saya tidak pernah kesusahan untuk mendapatkan sekolah atau universitas, saya tidak kesulitan memasuki sebuah organisasi atau komunitas, dan sebagainya. Tapi saat ini, semesta menolak apa pun yang saya kerjakan.
Saya jadi ingat, pada tempo dulu, jika saya tidak puas terhadap satu hal, saya akan mengadu kepada kekasih, dan kekasih akan senang hati membiarkan saya berbicara sepuasnya, tentang ketakutan saya, apa yang saya pikirkan, dan ragukan. Betapa ini membuat saya nyaman dan mensyukuri hal-hal sederhana, perihal didengarkan.
Tapi lebih dari itu, ini berbicara seburuk apa pun hari saya ada orang lain yang saya tahu tidak akan beranjak dari sisi saya. Ya, kekasih memastikan dirinya selalu ada.
Tetapi di satu momen, saya tidak akan dibiarkan untuk mencaci kehidupan. Kekasih dengan caranya sendiri akan membuat saya diam, dan kemudian tenang. Yang saya yakin, terkadang saya terlalu berlebihan dan ia sungguh kewalahan. Namun, kekasih dengan gayanya akan membuat saya menyetujui pendapatnya.
Di akhir percakapan kami mengenai kekhawatiran saya, dia akan tertawa dan berkata "hidup menjadi biasa saja, jika segalanya harus sepakat dengan keinginan kamu.”
biasanya saya akan langsung membantah kalimatnya. Bukan, bukan karena tidak setuju, tapi karena saya cemburu terhadap sikap santainya.
"segala sesuatu ada waktunya, mungkin tidak sekarang, tapi nanti. seperti kita, dulu belum ada cerita, tapi lihat sekarang, Jakarta menjadi sangat kecil karena setiap jejak kaki kita sudah menyusuri bahkan sudut-sudut gelapnya." ujar kekasih.
Kini saat kekasih tidak lagi di sisi, saya mengerti.
mungkin memang segala sesuatu ada waktunya. dulu ada kita, sekarang sudah selesai.
lengan saya memang tidak mampu memeluk semua keinginan saya, salah satunya adalah keinginan membuat kekasih bertahan.
seperti kekasih, saya mau tenang menghadapi pelbagai badai kehidupan, termasuk belajar menjadi baik-baik saja meskipun kekasih perlahan-lahan berjalan ke arah yang berlawanan.
Journey of Healing, Day 16
Jakarta, 22 Februari 2020.
Comments
Post a Comment