Tentang Harapan

pada akhir tahun 2019, aku patah hati.

sudah aku rekap dari buku catatanku, setiap kali dipenghujung tahun, aku seperti menjemput kesedihan baru, seakan-akan hari-hari sebelumnya tidak cukup pelik untuk kulalui. Ibuku bilang, karya keselamatan lahir karena Tuhan lebih dulu kehilangan gambar dan rupaNya. Karena diawal ada hubungan yang lebih dulu putus, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan.

patah hati itu lebih besar dari pada kesedihan, kata ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak pelajaran, di antaranya cinta. 'Di antara banyak rasa, kau harus berkawan dengan kehilangan.'

'kenapa, Ibu?'

'karena kehilangan adalah sahabat karib menemukan. kau tidak bisa memisahkan keduanya. dan ketika kau ditinggalkan, tidak ada yang bisa menolongmu selain harapan yang kau gantungkan. Coba kau bayangkan kehidupan tanpa memiliki angan.'

'terasa hambar.'

'seperti tidak ada kehidupan, Nak'

'seberapa kuat peran harapan dalam hidup, Bu?'

'sekuat tali yang paling tipis sekali pun'

aku termenung 'tali?'

Ibu menatapku dengan tersenyum. Senyum yang selalu meneduhkan, seolah-olah menjanjikan bahwa masih ada kehidupan bahkan setelah isak tangis kehilangan. masih ada yang bisa dikerjakan meski semua orang berlari ke arah yang berlawanan. Dan, malam ini, aku mengalami keduanya. 'Iya. tali itu akan mengikatmu, setipis apa pun kau meremehkannya. Seperti itulah cara harapan bekerja. Ia tidak kelihatan, tapi mampu membuat manusia menantang kejamnya kehidupan'

Kali ini, di antara patah hati lainnya, ketika Ibu sudah bisa merelakan kepergian bapak, aku baru paham bahwa Ibu bertahan karena ia memegang harapan.

Seiring tahun berganti, selepas kau pergi, aku semakin setuju, tidak ada yang perlu disesali dari menjadi yang “kau lepaskan”. Aku mau seperti Ibu, yang tidak membenci angin meski membuat daun-daun di pohon jatuh berserakan. Aku mau seperti Ibu, yang tidak membenci tanah meski mengubur bapak dalam-dalam.

Aku mau seperti Ibu, memeluk harapan, meski disaat yang bersamaan ada satu tangan yang memutuskan melepaskan genggaman.

Aku tidak membenci kekasih, meski menyisakan banyak pertanyaan. Aku mau melepaskan kekasih, dengan cinta yang seluas-luasnya, dengan doa yang setulus-tulusnya.




nb: terima kasih untuk Ibu, untuk setiap pengertian,  untuk setiap dukungan. terima kasih sudah berkali-kali mengingatkan, bahwa yang meninggalkan tidak patut dikenang sebagai kepahitan.




Journey of Healing, Day 14


Comments

  1. Tulisan ini sungguh menguatkan, diriku kehilangan sosok ayak, bukan fisiknya. Semoga diriku juga bisa menantang kejamnya hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi! tetap semangat ya! jangan kehilangan harapan! *peluk*

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup