Catatan untuk diri sendiri
kemarin malam seorang sahabat mengirim pesan melalui Whatsapp. Di tengah-tengah perbincangan kami mengenai rutinitas masing-masing, ia mengganti topik yang mungkin bagi kebanyakan orang akan terdengar naif.
begini kira-kira perbincangan kami.
"gue download aplikasi dating. ini bukan gue banget sih, tapi senang aja pas dapet yang match." ujarnya sebagai kalimat pembuka perbincangan kami.
"prinsip itu bisa dinamis. ia akan mengikuti dan menyesuaikan kebutuhan kita." ujarku.
"gue gak mau sebenarnya, tapi gue terpaksa. Setelah gue pikir-pikir, gue belum butuh cowo banget."
"terpaksa kenapa? intinya lakukan apa yang membuat lo senang. Soal prinsip, dulu lo gak gunain aplikasi dating, karena lo belum butuh. sekarang mungkin lo gak sadar kalau lo butuh. Lagian kenapa dengan aplikasi itu? prinsip itu juga relatif, yang dipakai orang lain belum tentu sesuai sama yang dibutuhkan kita."
"gue males aja mulai semuanya dari awal lagi."
"kalau dia bukan yang terbaik untuk kita, masa mau kita tahan. Anggap aja Tuhan mau mendewasakan. Ini basi, tapi semenjak dia pergi, gue belajar banyak hal."
"itu yang mau gue bilang. seharusnya gue yang nenangin elu, tapi ternyata lo jauh lebih kuat dari apa yang gue bayangkan."
kalau diingat-ingat persoalan kehilangan kali ini tidak pernah mudah, ia merelakan perjuangan. Ya, perjuangan mempertahankan hubungan. Karena disaat kau menjalin sebuah hubungan tentu saja kau harus rela hatimu kacau karena perbuatan pasanganmu. Kau harus menyesuaikan agar nilai-nilaimu sesuai dengan pasanganmu. Kemudian ketika hubunganmu berakhir, kau harus memulai lagi dari awal.
tentu saja melelahkan.
tapi bukan itu poinnya.
perjalanan patah hati ini membawa saya kepada pemahaman baru soal hati, ia lebih luas dari pada lautan, lebih kuat dari pada akar.
mencintai itu seperti sedang duduk di dalam angkutan umum. sering kali kita menolak untuk berbagi, padahal jika kita mau rapat sedikit dan menyesuaikan akan menyisakan tempat bagi orang lain, meskipun kau merasa tersiksa.
mencintai berarti siap menyisakan ruang bagi orang yang disayang, meskipun sering kali kita terluka oleh sikap dan perbuatan mereka, termasuk jika kita ditinggalkan. biarkan saja ruang itu tetap ada, jangan tutup paksa lukanya.
belajar mencintai dengan dewasa perlu proses yang panjang, bukan?
maka melalui kehilangan kali ini aku mau memulainya. mengasihi seluas-luasnya, mencintai dengan melunturkan segala kesalahan, dan menutupi segala pelanggaran.
Journey of Healing, Day 18
begini kira-kira perbincangan kami.
"gue download aplikasi dating. ini bukan gue banget sih, tapi senang aja pas dapet yang match." ujarnya sebagai kalimat pembuka perbincangan kami.
"prinsip itu bisa dinamis. ia akan mengikuti dan menyesuaikan kebutuhan kita." ujarku.
"gue gak mau sebenarnya, tapi gue terpaksa. Setelah gue pikir-pikir, gue belum butuh cowo banget."
"terpaksa kenapa? intinya lakukan apa yang membuat lo senang. Soal prinsip, dulu lo gak gunain aplikasi dating, karena lo belum butuh. sekarang mungkin lo gak sadar kalau lo butuh. Lagian kenapa dengan aplikasi itu? prinsip itu juga relatif, yang dipakai orang lain belum tentu sesuai sama yang dibutuhkan kita."
"gue males aja mulai semuanya dari awal lagi."
"kalau dia bukan yang terbaik untuk kita, masa mau kita tahan. Anggap aja Tuhan mau mendewasakan. Ini basi, tapi semenjak dia pergi, gue belajar banyak hal."
"itu yang mau gue bilang. seharusnya gue yang nenangin elu, tapi ternyata lo jauh lebih kuat dari apa yang gue bayangkan."
kalau diingat-ingat persoalan kehilangan kali ini tidak pernah mudah, ia merelakan perjuangan. Ya, perjuangan mempertahankan hubungan. Karena disaat kau menjalin sebuah hubungan tentu saja kau harus rela hatimu kacau karena perbuatan pasanganmu. Kau harus menyesuaikan agar nilai-nilaimu sesuai dengan pasanganmu. Kemudian ketika hubunganmu berakhir, kau harus memulai lagi dari awal.
tentu saja melelahkan.
tapi bukan itu poinnya.
perjalanan patah hati ini membawa saya kepada pemahaman baru soal hati, ia lebih luas dari pada lautan, lebih kuat dari pada akar.
mencintai itu seperti sedang duduk di dalam angkutan umum. sering kali kita menolak untuk berbagi, padahal jika kita mau rapat sedikit dan menyesuaikan akan menyisakan tempat bagi orang lain, meskipun kau merasa tersiksa.
mencintai berarti siap menyisakan ruang bagi orang yang disayang, meskipun sering kali kita terluka oleh sikap dan perbuatan mereka, termasuk jika kita ditinggalkan. biarkan saja ruang itu tetap ada, jangan tutup paksa lukanya.
belajar mencintai dengan dewasa perlu proses yang panjang, bukan?
maka melalui kehilangan kali ini aku mau memulainya. mengasihi seluas-luasnya, mencintai dengan melunturkan segala kesalahan, dan menutupi segala pelanggaran.
Journey of Healing, Day 18
Comments
Post a Comment