Di sesapan terakhir
rindu lebih menyiksa ketika kau ada di depanku.
rasanya sama persis seperti tenggorokanmu yang kering karena dipakai berlari.
rasa-rasanya menandingi berenang tanpa sempat mengambil napas, padahal jarak masih panjang terbentang.
sesak—aku tak mampu berteriak.
ternyata, rindu lebih menggigil dari udara dingin.
tiap tetes hujan yang turun, menusuk tajam, menyaingi belintan yang runcing.
luka yang mengaga di dada diiris tanpa ampun, tak dibiarkannya mengering.
sakit—aku dibuat melarat dan sekarat.
ternyata, rindu lebih sadis dari panas matahari.
teriknya tidak mampu membakar sisa-sisa kewarasan meski tak lagi dianggap ada.
aku masih mencintainya.
oh, tunggu. aku tidak menuntut apa-apa.
ternyata, rindu lebih sendu dari langit orange ibu kota.
aku menatap nanar bangku di sebelah kiriku, kosong. bahkan bayangmu enggan menyertai.
pada rabu malam ini, rindu tidak memiliki arti.
aku tidak lagi ditemani americano dingin dengan shot extra.
cangkir kopiku kali ini hangat, seperti pelukan terakhirmu di suatu masa.
sebuah pelukan selamat tinggal,
dengan sisipan doa agar kau tetap dipenuhi cinta dan selalu penuh suka,
dengan sisipan doa agar aku lapang dada.
di sesapan terakhir kopi ini,
kau sudah tidak ada lagi.
Journey of Healing, Day 19
Rabu, 18 Maret 2020.
Comments
Post a Comment