Jakarta dalam Ruang yang Sederhana

Saya akan bercerita tentang sebuah tempat yang kalau bisa sudah saya kunjungi sesegera mungkin. Pandemi membuat saya berandai-andai berada di sebuah ruangan lain meski hanya tembok rumah yang menjadi pemandangan sehari-hari. Alih-alih menggerutu karena kelaziman baru, saya memilih menuliskannya sebagai cara untuk melepas rindu. Meninggalkan jejak sebagai pengingat alasan saya jatuh cinta kepada tempat ini melalui kesederhanaanya dan ketulusan orang-orang di dalamnya.

Pasar Santa-bisa menjadi satu-satunya pasar di Jakarta yang rutin saya kunjungi satu tahun ke belakang. Tukang sayur yang lewat di depan rumah sudah cukup membuat dapur Ibu lengkap dengan bahan-bahan masakan tanpa perlu pergi ke pasar. Praktis. Meski hal tersebut justru mengaburkan keberadaan pasar sebagai sebuah tempat yang lumrah di tengah pusat kota. Saya sudah mendengar keberadaan Pasar Santa sejak duduk di bangku kelas 2 SMA, diperkenalkan oleh seorang teman yang lebih akrab dengan tempat tongkrongan anak-anak muda pada zamannya. Pada tahun 2015-waktu pertama kali menjejakan kaki di Pasar Santa-pemikiran saya mengenai konsep pasar yang becek dan bau sudah terpatahkan. Meski tidak ingat semua ruko yang berjualan pada saat itu, tapi masih kencang dalam ingatan warna-warni ruko, bising para penjual yang asyik mengobrol, serta suara hentakan sepatu yang tak habis-habisnya mondar-mandir dari satu ruko ke ruko lainnya.

Setelahnya, sama seperti yang lain, saya juga melupakan dan meninggalkan Pasar Santa. Seakan-akan satu kali kunjungan sudah cukup membuat saya mengenal Pasar Santa dengan baik, atau memang tidak ada kesan menarik yang membuat saya ingin kembali untuk ke dua kalinya. Saya tidak ingat persis alasannya. Baru pada bulan Mei 2019, karena sebuah tugas akhir salah satu mata kuliah yang mengharuskan saya dan teman-teman pergi melakukan penelitian ke pasar, akhirnya saya kembali melihat wajah Pasar Santa setelah empat tahun lamanya. Lantai satunya belum banyak berubah, masih ada tukang sayur, pedagang kelontong, dan warung-warung kopi yang baunya tercium dari anak tangga pintu masuk. Demikian juga dengan lantai dua, tidak tampak perubahan kecuali lengangnya pasar. Saya tidak lagi mendengar suara riuh pengunjung, yang ramai hanyalah suara lagu yang diputar keras-keras dari speaker milik salah satu ruko.

Banyaknya ruko-ruko yang tutup membuat suasana pasar semakin muram. Bahkan lampu yang melintang di atap tak mampu membuat pasar lebih hidup. Tapi jauh dari itu, saya bersyukur masih ada orang-orang yang percaya bahwa Pasar Santa masih layak untuk dipertahankan. Mereka yang setia membuka gerai di siang hari, berjualan dengan riang sambil diam-diam merapalkan doa, mengucapkan harapan agar rumah mereka terus hidup berdampingan dengan zaman.


Kopi Merpati by Pigeonhole

Seperti Kopi Merpati yang muncul di laman explore Instagram milik saya pribadi. Dan akhirnya membuat saya dan teman-teman memutuskan untuk mencoba kedai mungil ini. "Kopi Merpati baru saja buka di Pasar Santa pada awal tahun 2019, Mba"  ungkap barista itu dengan ramah. Hati saya menghangat ketika mendengarnya. Saya percaya bahwa ruko-ruko ini akan menemukan pemiliknya dengan cara yang tidak pernah saya duga.

Saya mengimani bahwa ruko-ruko ini juga akan menemukan pengunjungnya dengan cara yang tidak biasa.

Sama seperti waktu saya menemani Saka membeli vinyl di Laid Back Blues Record Store, Pasar Santa. Sebagai orang awam, saya juga ikut sibuk melihat vinyl yang berbaris rapi di rak, menebak wajah-wajah penyanyi yang memenuhi tembok, lagaknya sudah seperti yang paling paham padahal bergerak karena rasa penasaran. Setelahnya mengamati pemilik toko bermain dengan koleksi piringan hitam miliknya, dan dalam sekejap ruangan sudah berada pada era yang berbeda.

"Orang yang jauh-jauh datang ke tempat ini bukan sekadar kolektor, Li. Tapi ada memori-memori yang baru bisa digali ketika mendengarkan sebuah lagu menggunakan alat yang tepat. Gue bisa menangis ketika mendengar suara Linkin Park melalui kaset. Itu terjadi karena ada memori yang mereka coba sentuh. Menarik gue pada satu momen di masa silam. Meskipun secara teknis, kaset gak sejernih audio digital yang sudah di mastering ulang. Tapi justru dengan  ketidaksempurnaannya, mereka menghasilkan nilai yang lain, yang sering kali luput oleh kebanyakan orang, seperti kejujuran dalam menghasilkan karya. Tidak terlalu banyak dipoles, tidak berlebihan. Sama halnya dengan vinyl yang dijual di tempat ini. Orang-orang ke sini bukan hanya membeli benda atau mengapresiasi musisi favorit mereka, barangkali mereka juga mau bernostalgia dengan kehidupan lamanya. Jujur terhadap diri mereka sendiri tentang masa lalu yang mungkin kelam, atau justru bahagia. Menyapa mereka sebentar untuk kemudian kembali tinggal dikehidupan nyata." terang Saka ketika saya bertanya alasannya masih membeli vinyl. 

Saka and his favorite things.

Sama seperti ketika saya menemukan POST Santa di sebuah utas Twitter milik orang lain yang tidak saya kenal, yang mungkin tanpa pernah mereka tahu utas tersebut memberanikan saya untuk mengunjungi toko buku independen ini dan rutin mampir hampir setiap bulannya. Mengajak teman-teman saya yang lain untuk turut mengalami perasaan menyenangkan dengan berada di sebuah toko buku kecil. Bersama-sama mendapati penulis yang namanya asing ditelinga namun mampu bercerita dengan baik, sampai bertemu dengan pemilik toko-Ka Teddy-yang menyapa dengan sangat ramah. 
"Toko buku ini ajaib, Li. Kita bisa melihat koleksi buku, minum kopi, berdiskusi tentang salah satu tulisan di tengah ruangan seperti toko buku kita berdua. Ini rumah bagi mereka yang mencintai kata-kata. Ini tempat beristirahat bagi mereka yang penat." ucap Lidya di suatu sore di bulan Desember.


Post Santa

Saya jadi teringat tentang sebuah percakapan, lagi-lagi dengan Saka di Pasar Santa waktu menunggu hujan reda pada suatu malam. Kami membayangkan kehidupan baru di pasar yang sudah mulai terlupakan. Membayangkan lampu warna-warni menyala di seluruh lantai, menghidupi pasar. 

"Seharusnya ada Monita Tahalea atau Float di tengah-tengah lantai yang penuh dengan kios makanan." ucap saya kepada Saka.

"Siapa saja Lia. Pasar ini memang harus dipenuhi kidung suka cita. Semoga, di pojok yang lain, semakin sering orang-orang berdiskusi buku dari penulis-penulis baru, barangkali dari mereka yang kehidupannya kita idam-idamkan. Yang lahir di ujung Timur, yang setiap harinya dibangunkan oleh suara gemericik air pantai, kicauan burung, dan samar-samar angin tanpa perlu berdesak-desakan ke pusat perbelanjaan hanya untuk mencari kebahagiaan." 

Saya tertawa mendengar gurauan Saka. "Akan lebih nikmat berdiskusi ditemani segelas kopi, Sak. Tentu saja, tenpa perlu debat kusir jenis kopi apa yang paling pantas diteguk agar bisa disebut penikmat kopi. Apa saja-kopi hitam, kopi susu, kopi luwak. Atau ada yang secara sukarela membacakan puisi sedihnya akibat patah hati. Sudah saya pastikan, saya akan menjadi orang pertama yang dengan senang hati melakukan hal tersebut." 

Kami membayangkan di sudut pasar yang lain akan ada anak-anak muda yang saling bertukar karya dari hasil memotret, dari hasil melukis, dari hasil menganyam, dari hasil menyulam. Mengisi kembali ruko-ruko yang sempat tutup, mengembalikan lagi suasana gaduh pasar seperti yang seharusnya. Kami berharap pasar ini bisa kembali hidup bukan hanya sebagai penyambung ekonomi, tapi sebagai wadah kreatif  bagi anak-anak muda-yang di dalamnya terdapat passion, cinta, dan sukacita. Diantara megahnya kota, Pasar Santa menjadi wajah lain dari Jakarta yang dikenal bising, mewah, dan kompetitif. Pasar Santa bisa menjadi rumah bagi mereka yang ingin menepi dari carut marut realita kehidupan. 

Mengingatkan saya pada suatu kebenaran, bahwa manusia hidup tidak hanya dari uang saja, tapi juga dari apa yang mereka kerjakan dan lakukan sampai akhirnya berbuahkan kebaikan.

Comments

  1. Setiap tempat punya cerita, and this one is my favorite❤

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup