Kumulo, Tentang Mimpi-Mimpi Kecil yang Besar
Beberapa hari yang lalu saya diajak untuk mengunjungi sebuah kompleks kreatif di mana tempat tersebut di kelilingi oleh ruko-ruko kecil yang menjual produk-produk buatan lokal Indonesia. Letaknya di BSD, sebagai bagian dari The Freeze, dan penggagasnya memberi nama tempat tersebut sebagai Kumulo.
Meski masih dalam keadaan pandemi, kabar sukacita yang dibagikan melalui media sosial ini disambut meriah oleh masyarakat ibu kota dan sekitarnya. Waktu saya datang ke sana, kira-kira dua minggu setelah peresmian pembukaan masa percobaan Kumulo, saya melihat banyak wajah yang mungkin datang tidak hanya dari warga sekitar saja, tapi dari berbagai sudut Jakarta yang memiliki semangat yang sama untuk membuka pintu dari satu ruko ke ruko yang lain. Mengambil foto sebanyak mungkin dari berbagai sudut, dengan berbagai macam pose sebagai bentuk rasa kagum, barangkali apresiasi kepada orang-orang yang bekerja dibalik lahirnya Kumulo.
Hanya saja pada saat yang sama, saya berpikir sampai seluas apa kabar gembira ini akan dirayakan?
Membuat sebuah gerakan gotong royong dan konsisten menjaga ekosistemnya, tentu sesuatu yang dilakukan atas dasar cinta yang besar pada keberlangsungan kehidupan merek lokal serta penyebarluasan pemikiran. Ia jelas bukan pilihan yang dibuat semata-mata hanya untuk keuntungan ekonomi saja, melainkan diambil secara sadar berdasarkan kepedulian pendirinya terhadap ibu pertiwi.
Dengan persaingan merek global, menjamurnya toko retail tersebut di seluruh penjuru kota, belum lagi beban produksi yang besar, ditambah biaya sewa toko yang harus ditanggung pemilik bisnis, tentu menyulitkan merek-merek lokal untuk bersaing di pasar. Jangankan retail-retail dari bisnis kecil, pemain besar di pasar yang sudah lebih dulu hadir dan melekat di kehidupan sehari-hari masyarakat pun kadang tak bisa bertahan lama. Berapa banyak merek fashion ternama, convenience store, dan tempat makan yang dulu ramai dikunjungi, berangsur-angsur pamit dan menyisakan sejarah?
Meskipun demikian, selalu ada kabar sukacita dibalik hal-hal duka.
Munculnya ruang kreatif seperti Mbloc di Blok M dan Kumulo di BSD bisa dibilang sebagai simbol harapan bahwa masih ada kesempatan bagi bisnis lokal untuk memajang karyanya, terlebih lagi memberikan ruang untuk mereka-pengrajin-pengrajin dengan buah tangan yang tak selalu terpikirkan oleh pasar.
Kumulo seperti kumpulan mimpi-mimpi kecil yang besar dari pelaku bisnis lokal yang datang dari berbagai daerah. Mereka yang tidak hanya berdagang, tapi juga mengenal dan mencintai apa yang mereka hasilkan.
"Mungkin orang melihat Sumba sebagai tempat hiburan, padahal tempat kami bukan hanya pegunungan dan pantai, tapi juga pengetahuan, seni budaya, dan cinta." kata Kak Tabita dari Treat Iniative. Ia juga bercerita bahwa kain tenun sebagai dasar dari produk yang mereka jual, dihasilkan dari buah ketekunan, kerjasama dan bentuk menghargai alam. Pengrajin dalam satu desa di Sumba akan beramai-ramai menenun, yang mana hasilnya bukan selesai dalam satu malam ataupun satu bulan, melainkan satu tahun, hingga tiga tahun. Pengrajin menenun menggunakan apa yang Sumba sediakan, mulai dari lumpur, akar tanaman, dan daun nila.
![]() |
| Treat Iniative |
Sebenarnya ada hal lain yang begitu membuat saya semangat mengunjungi Kumulo siang itu. Jika teman-teman berkunjung, hanya ada satu kedai kopi di sana, namanya Kopi Selamat Pagi. Kedai kopi ini merupakan satu keluarga dengan Goten Morgen yang ada di Tomang, Jakarta Barat. Jika boleh menebak-nebak, nama Kopi Selamat Pagi sepertinya diambil dari salah satu menu andalan Goten Morgen, yang kemudian dikembangkan terpisah meski biji kopinya tetap berasal dari kedai kopi induknya. Nama Guten Morgen mengingatkan saya kepada Bang Igor selaku pemilik Guten Morgen yang hanya mempekerjakan karyawan mantan pengguna narkoba di kedainya.
Di depan kasir, saya bercerita bahwa tahun 2016 saya pernah bertemu pemilik Guten Morgen. Orang yang saya ajak bicara hanya diam, tapi sesaat kemudian ada yang menghampiri saya dan tersenyum, ia menyambut percakapan saya dengan ramah. "Waktu itu, salah satu karyawan kami tertangkap masih menggunakan, dan sampai saat ini masih dalam proses rehabilitasi." ujar Kak Kenny yang saat ini memegang kendali Guten Morgen dan Kopi Selamat Pagi.
Ka Tabita, Bang Igor, dan Ka Kenny mengingatkan saya kepada dua orang yang sudah saya anggap seperti kaka saya sendiri. Mereka yang bekerja dibalik nama Folkaland, yang selalu antusias bercerita tentang produk lokal yang mereka gunakan sehari-hari. Mereka yang mengingatkan pentingnya mencintai produk lokal, sebab banyak rantai yang terlibat, sebab banyak pihak yang akan terbantu, sebab produk lokal memang pantas mendapatkan ruang tersendiri di hati masyarakatnya.
Kumulo merupakan kabar baik, oleh karenanya mereka harus disebar, mereka perlu digaungkan, mereka perlu diceritakan seluas-luasnya, sesering-seringnya. Mungkin mulai dari diri kita sendiri, kemudian mengajak orang lain untuk mengenal, dan turut berbangga. Sebab benar adanya, ketika kamu, dan saya membeli produk dari bisnis lokal, kamu tidak hanya membantu ekonomi penjual, tapi kamu juga mendukung sebuah keluarga, sebuah desa, bahkan seorang manusia untuk berkembang.


Love this! Bener banget, uh jadi makin mencintai lokal 💕🤗
ReplyDelete