Sebuah titik balik.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.


Hari ini, waktu menulis tulisan ini saya genap berusia dua puluh dua tahun. Di tanggal ulang tahun saya, bukan lagi menjadi pengingat bahwa pada satu masa ada seorang anak yang lahir ke dunia, tapi juga sebagai titik balik kehidupan saya.


Saya termasuk salah satu yang percaya bahwa setiap kejadian yang saya alami karena memang demikian waktunya untuk terjadi. Dalam banyak hal, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, baik yang tidak penting maupun yang sangat penting, yang menyenangkan bahkan yang paling mendukakan hati sekalipun.


Demikian juga dalam hubungan. 


Saya percaya bahwa ada waktunya untuk mengenal, 

ada waktunya untuk mengasihi. 

ada waktunya untuk bertemu,

ada waktunya untuk berpisah.

ada waktunya untuk menangisi yang dikasihi,

ada waktunya untuk merelakan apa yang sudah terlanjur selesai.


Sejak patah hati delapan bulan yang lalu, hidup saya diisi dengan kejadian-kejadian yang tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiran. Menangisi kekasih satu hari penuh, bolos kuliah selama satu minggu, puasa hingga tiga hari karena tidak napsu makan, menangis di KRL sepanjang jalur Tebet-Depok, berpergian tidak tahu arah, dan tidak punya tenaga untuk memulai hari. Belum lagi saya harus berselisih paham dengan teman karena ia memojokkan saya yang katanya terlalu larut dalam kesedihan. Saya sudah pernah merasa lapang namun kemudian menangis tidak karuan. Saya pernah membenci kekasih karena memilih bungkam dari pada berbicara apa adanya. Saya pernah lupa caranya tersenyum, dan melakukan kegiatan saya dengan baik. 


Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk membuat jurnal di blog saya pribadi dengan tagar #JourneyofHealing sebagai bagian dari proses untuk berdamai dengan keadaan. Saya berusaha jujur atas perasaan saya sendiri. Tidak jarang saya menemukan diri saya menangis saat menulis. Mengingat masa lalu, sambil menghadapi diri saya sendiri.


Di samping menulis, saya juga melakukan aktivitas baru sebagai bentuk pengalihan. Saya akan menghabiskan banyak waktu di kampus, magang di tengah padatnya deadline skripsi, mulai rutin berolahraga, membuat playlist untuk mewakili keadaan saya, menghubungi teman dekat yang sudah tidak pernah bertukar kabar, menghabiskan waktu di luar dan pulang ketika hari sudah gelap.


Awalnya memang seperti pelarian. Tapi kadang-kadang proses penyembuhan hanya sekadar membiasakan bukan? 


Bisakah kita mengasihi, tanpa memperhitungkan masa yang lalu?


Hindia dan Rara Sekar membuat saya kembali bertanya-tanya.

Saya memang ditinggalkan, tapi bukankah setiap orang berhak menentukan apa yang ingin mereka lakukan? Termasuk pergi tanpa perlu memberikan alasan.

Kalau memang kekasih memutuskan untuk mengakhiri dengan tidak lagi berteman, apakah saya harus ikut membenci keputusanya yang mungkin kekanak-kanakan? 

Saya rasa tidak. 

Akhirnya, saya memilih untuk membasuh luka saya sendiri. Secara sadar untuk bilang cukup, secara waras harus berhenti larut dalam kesedihan. Lapang dada merelakan kepergian kekasih yang masih begitu saya kasihi dengan dewasa.

Lambat laun hingga pagi dini hari ini, saya masih terus belajar untuk cukup besar mengampuni, mengasihi tanpa memperhitungkan masa yang lalu. Memberi ruang kepada kekasih untuk mengambil waktu sebanyak-banyaknya dalam berproses, meskipun jika pada akhirnya memang tidak lagi bisa dekat layaknya seorang kawan lama. 

Mungkin benar kalimat yang ditulis oleh Weslly Johannes pada cuitannya di suatu siang, bahwa keleluasan hati memang bukan milik semua orang. Hanya untuk mereka yang lebih besar dari pada penolakan, mereka yang terbang dengan tawa di atas kecewa.

Selamat ulang tahun, untuk diri saya sendiri.

Kau kuat karena kau dicintai, 
setidaknya oleh dirimu sendiri.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup