Satu Hari yang Baik di Naked.Inc

Seorang perempuan sedang duduk dibalik meja kasir saat saya membuka kusen pintu toko. Suasana Naked.Inc sore itu lumayan ramaiada tiga hingga lima orang selain saya yang juga sama-sama memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berbelanja kebutuhan sehari-hari, atau sekadar ingin jalan-jalan demi menjaga kewarasan diri di tengah pandemi.

Kamis itu merupakan kunjungan pertama saya ke sebuah toko grosir yang konsepnya jauh berbeda dari toko grosir yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Lantainya dibiarkan disemen, berderet rak-rak kayu menutupi seluruh dinding yang dicat putih, membuat toko ini lebih mirip dapur milik seorang yang minimalissederhana, hangat, dan membuat betah siapa saja yang berkunjung ke sana.

Kaki saya berpindah dari satu rak ke rak lainnya. Bibir saya tidak berhenti mengeja nama-nama produk yang ditempel di setiap toples ataupun botol-botol kaca yang lumayan besar, yang bentuknya menyerupai galon yang ada di rumah-rumah. Memastikan tidak ada barang yang terlewat, mengingat kunjungan kali ini tidak direncanakan, dan tentu saja saya tak mau menyia-nyiakan dengan pulang tanpa membawa satu barang pun.

Meski tidak terlalu besar, Naked.Iinc mampu menyediakan banyak jenis kebutuhan, diantaranya bumbu dapur, cemilan, alat makan yang semuanya terbuat dari bambu, kebutuhan rumah tangga seperti deterjen, cairan pembersih toilet, bahkan kebutuhan personal care seperti sampo, sabun mandi, body lotion, juga kapas wajah dan menstrual cup yang bisa digunakan berkali-kali. Selain itu, di tengah ruangan terdapat sebuah lemari pendingin yang di dalamnya diisi berbagai jenis minuman seperti air kelapa, jamu kunyit asam, beras kencur, bahkan bir pletok, dan asam jawa. Di Naked.Inc hampir seluruh produk diambil langsung dari pengrajin dan petani lokal. Hanya beberapa yang merupakan produk impor karena petani kita tidak bisa memproduksinya, seperti kacang almond, cranberry, dan blueberry. Selain itu, Naked.Inc juga tidak menyediakan kantong bagi pembeli. Setiap pengunjung yang datang, diharapkan membawa wadah pribadi, baik tas ataupun toples. Kalaupun tidak, pramuniaga akan menawarkan telobagkantong plastik yang terbuat dari singkongyang ramah lingkungan serta bisa hancur dalam kurun waktu lima bulan, hanya saja pembeli dikenakan biaya tambahan.


Naked.Inc

Seorang pramuniaga lain mengizinkan saya melihat proses pengukuran berat toples yang dibawa oleh pengunjungyang sedang dilayaninya itu , dan menunjukkan proses pengukuran tiap-tiap produk, tergantung dari jenis produknya, cair atau padat.

"Baru pertama kali ke sini ya, Mba?" ujar seorang Ibu di sebelah saya. "Sedikit repot memang Mba, tapi sejak ada Naked.Inc, saya bisa menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan saya. Gak harus beli-beli satu kantong, dan gak nimbun bungkusan mulu di rumah."

Saya tersenyum mendengar ceritanya.

Kalau diingat-ingat, yang menyediakan segala bahan makanan di rumah adalah Ibu, bahkan sampai ke peralatan mandi sekalipun. Saya membayangkan tumpukan kantong gula berukuran 1 kg yang disimpan Ibu di lemari dapur, botol-botol minyak yang berjejer, bahkan rencengan kopi sebagai persediaan di rumah.

Berbeda dengan Ibu yang selalu menyeduh kopi sachet, saya sering kali menggunakan cup yang disediakan oleh kedai kopi tiap kali saya berkunjung. Belum lagi sedotan plastik, yang ketika minumannya habis akan berakhir di tong sampah. Saya juga masih sering membeli air mineral kemasan, minuman kaleng, sheet mask yang dibungkus plastik, dan masih banyak lagi, konsumsi yang justru menghasilkan sampah.

Ucapan Ibu itu membawa saya untuk mencari tahu lebih dalam tentang toko grosir yang berada di daerah Kemang tersebut. Berdasarkan hasil wawancara Tirto.id, Naked.Inc lahir dari buah keresahan sang pemilikKiana Leeterhadap isu lingkungan. Puncaknya setelah Kiana pulang dari Borneo, yang merupakan tempat konservasi orang utan. Pada kunjungannya, ia menemukan banyak habitat hewan liar yang tergusur akibat industri sawit sehingga ekosistem mereka terganggu lantaran tumpukan sampah plastik.  

Kiana Lee mengingatkan saya kepada sebuah film dokumenter berjudul Semes7a. Film tersebut memaparkan bagaimana tujuh tokoh di tujuh provinsi di Indonesia berusaha hidup selaras dengan alam. Dari keseluruhan cerita, ada satu tokoh yang begitu menyita perhatian saya, sampai-sampai saya perlu mengambil waktu sejenak untuk menghabiskan keseluruhan film. Namanya Almina, ia seorang kepala Kelompok Wanita Gereja Lokal di Papua Barat. Dikisahkan dalam film, selain menyuarakan pemberdayaan perempuan, Almina juga memperjuangkan isu lingkungan. Di Papua sendiri, terdapat sebuah tradisi yang dikenal dengan nama “Sasi” yaitu masyarakat setempat dilarang untuk menjamah hasil laut selama enam bulan. Almina mengatakan bahwa tradisi ini penting dilakukan agar hasil laut tidak habis hanya karena keserakahan manusia. Tak hanya itu, tradisi Sasi memberikan kesempatan kepada biota laut untuk beregenerasi.

Lagi-lagi, ingatan saya berlompat-lompatan dari satu kisah ke kisah lainnya. Semuanya saling menggenapi, dan mamaksa saya menyetujui apa yang ingin mereka sampaikan.

Sewaktu kecil, guru sekolah minggu saya sering menceritakan kisah bangsa Israel di Padang Gurun. Yang mana Yesus melalui nabi Musa memerintahkan bangsa Israel agar mengambil roti manna secukupnya, sesuai dengan kebutuhan mereka setiap harinya. Namun, ada saja beberapa orang yang tidak mematuhi perintah tersebut. Mereka mengambil terlalu banyak dan menyimpan sebagian untuk keesokan harinya. Terbukti, setelah disimpan satu malam, roti manna itu penuh ulat, baunya busuk, dan mereka tidak dapat memakannya.

Mungkin ini terdengar seperti bualan, tapi film Semes7a seolah-olah memantapkan saya untuk mengambil peran dalam memelankan dampak perubahan iklim melalui langkah kecil yang bisa saya lakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Almina, dan enam tokoh lainnya, saya juga mau memulai aksi kecil dari diri saya sendiri. 

Semoga ini tidak terdengar layaknya orang yang baru mendapatkan hidayah, namun bagi saya Naked.Inc bukan hanya sebuah toko yang semata-mata bertujuan untuk meraup keuntungan—nilainya jauh dari pada itu. Barangkali sebagai pengingat, bahwa kebahagiaan tidak hanya berbicara apa yang kita miliki bertambah, tapi bisa juga, apa yang kita miliki berkurang.

Oh ya, saat saya menulis catatan ini, saya baru saja menghabiskan makan malam menggunakan sendok dan garpu kayu dari Naked.Inc, dilanjutkan minum kopi buatan sendiri menggunakan sedotan bambu yang pernah saya beli di suatu kedai kopi di daerah Tebet.

Bahagia saya sederhana. Sampah yang saya hasilkan berkurang.

Bagaimana dengan bahagia kamu?

 

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup