Potongan-Potongan Percakapan dan Usaha Menjadi Baik-Baik Saja

See You On Top Coffee


Tahun 2020 adalah tahun dengan perjumpaan terbanyak antara saya dengan Michael-sahabat karib saya sejak taman kanak-kanak. Rabu sore lalu saya minta tolong ditemani ke tempat fotocopy yang terkenal paling murah untuk keperluan yang mendesak. Sebelum matahari tenggelam kami sudah bertemu dan berangkat, berjaga-jaga langit Jakarta turun hujan mengingat akhir tahun ada di depan mata. Nasib mujur ada dipihak kami hari itu, tempat fotocopy kian lengang dan langit malam tidak mendung. Setelah selesai, kami memutuskan untuk mampir sebentar di rumah makan bapak tua tidak jauh dari tempat tinggal saya.

Saya memesan seblak (makanan khas Bandung) dan secangkir teh panas, sedangkan Michael memesan mie ayam beserta segelas es kopi. Kami makan dan omong-omong ringan saja, tentang pekerjaan saya, tugas kuliahnya yang tidak kunjung habis, soal kedai kopi baru yang mulai bermunculan di timur Jakarta, tapi lebih banyak mengomentari hidangan yang ada di depan kami. Di antara percakapan tiba-tiba tercetus sebuah kalimat yang mengajak kami berjalan mundur satu tahun ke belakang. 

"Tahun lalu, lo lagi nangis nelpon gue gara-gara putus." begitu kata Michael sesaat setelah meneguk habis kopinya. 

Saya tertawa dan menanggapinya dengan permintaan maaf. Jelas saja, barang kali saya cocok dipanggil orang yang datang karena ada maunya, sebab November 2019, tiba-tiba saja saya menghubungi Michael sejak percakapan terakhir kami pada tahun 2017 silam. Herannya, ia mau mengangkat telepon saya dan saya mendengar kekhawatiran pada nada suaranya. 

Bisa dibilang, persahabatan kami tidak melulu baik. Dalam beberapa momen-momen terbaik saya, tak ada kehadirannya. Begitu juga sebaliknya. Yang saya ingat, ia selalu ada pada momen kesedihan dan kejatuhan saya. Puncaknya adalah November tahun lalu, saat saya ditinggalkan oleh kekasih. Saya patah hati, dan kehilangan diri saya sendiri. Bahkan, saya sampai merekamnya dalam tulisan-tulisan di sini, dengan tujuan sebagai terapi untuk melampiaskan kesedihan.

Saya memang di kelilingi orang-orang ajaib. Salah satunya adalah Michael yang selalu bisa membuat saya tercenung-cenung tiap kali mendengar kalimatnya. "Sekecil apa pun perasaan, itu adalah perasaan. Diakui dan jangan ditolak."  ujarnya sewaktu kami di kedai kopi Kina. Ucapannya mengingatkan saya kepada kata pengantar salah satu buku Dazai Osamu. Dikatakan bahwa orang Timur senang sekali berpura-pura semua sedang baik-baik saja. Seakan tidak aja jawaban selain "baik", seakan menyebutkan jawaban selain baik adalah kekeliruan. Padahal kehidupan manusia terdiri dari beragam situasi, dan jawaban atas "apa kabar?" tidak hanya dengan "baik-baik saja." Saya atau mungkin kamu yang sedang membaca tulisan ini bisa jadi sering mengabaikan perasaan-perasaan kecil yang menurut kita tidak signifikan. Membiarkannya kemudian melupakannya, tanpa pernah tahu bahwa ia selalu di sana, dan bisa muncul sewaktu-waktu dalam wujud luka.

Darinya saya berkaca bagaimana mengenal diri sendiri dan menerimanya-termasuk seluruh perasaan positif dan negatifnya. Juga pengalaman pahit dan manisnya. Saya tidak menolak waktu ia menemukan saya dalam keadaan cemburu melihat kebersamaan kawan SMA saya tanpa saya lagi di dalamnya. Saya tidak mengelak waktu ia mengatakan saya masih sakit hati terhadap ucapan salah satu sahabat SMP saya. Saya tertawa waktu ia mendukung aksi kabur saya dengan tidak membalas pesan teman kuliah yang mengajak saya berjumpa. Pada akhirnya saya berani mengatakan saya ditinggalkan, dan itu bukan sebuah aibyang harus dikubur dalam-dalam.

Dalam banyak hal ia mengingatkan saya untuk berani menghadapi kenyataan. Berkawan dengan lantang berucap tanpa embel-embel menyayangkan.

Sepanjang sejarah pertemanan kami, baru kali ini tidak ada kemarahan dalam nada suaranya saat mengulang kisah masa kecilnya. Tentang perlakuan kakek dan neneknya yang sungguh menyebalkan, ditinggalkan oleh ayah yang pada saat itu adalah benteng teguh baginya, tentang menunda kuliah karena keadaan ekonomi, perihal merelakan impian karena tak seindah yang dibayangkan, dan usaha untuk menerima semua takdir kehidupan dengan lapang dada.

Saya menemukan banyak kesamaan antara orang-orang di sekeliling saya dengan apa yang ia katakan. Sama seperti suatu siang di kantor, saat saya bertanya kepada Kak Arin-user saya di Folkaland-"Apakah ia punya pengalaman dikejar-kejar untuk bercerita oleh kawan terdekat meskipun sebenarnya kita tidak ingin membagikannya?" Meski ditutup masker, masih terdengar jelas buah kalimatnya "orang lain tidak harus mengerti keputusan kamu, dan kamu juga harus siap menerima konsekuensinya, termasuk dijauhi karena dianggap suka menyimpan sendirian."

"Inget gak? dulu lo nangis waktu gue mau ke Medan? Dulu lo juga pake mogok makan sebulan, bolos kuliah berminggu-minggu, mendadak sedih tiap liat mobil Yaris, apalagi warna silver. Terus chat doi eh malah di block. Pake acara setiap hari jadwal lo harus penuh, biar gak sempet mikir aneh-aneh. Malah magang disaat lagi nyusun skripsi." ujarnya mengabsen tingkah-tingkah masa lalu saya yang kalau kami ingat sekarang begitu konyol dan memalukan.

Saya tertawa dan tak mau kalah. Bukannya semua orang punya masa lalu yang memalukan untuk diceritakan? Tapi karena mereka lah saya bisa sampai pada titik ini.

Saya jadi teringat ucapan Saka waktu kami membahas soal patah hati ini. Waktu ia menantang saya mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering saya kunjungi bersama kekasih, dan mendengar lagu-lagu kesayangan kekasih tanpa lagi menangis.

Cepat atau lambat, kita akan berterima kasih dengan apa yang sudah kita lalui, Li.

Mungkin apa yang dikatakan Saka tempo hari benar adanya. Jika saya tidak patah hati, mungkin pertemanan saya dan Michael sudah berhenti pada tahun 2017. Jika tidak ditinggalkan oleh kekasih, saya tidak memiliki podcast seperti yang pernah saya cita-citakan. Jika saya tidak kehilangan diri saya sendiri sebelumnya, saya tidak pernah tahu rasanya menemukan dan mencintai diri saya sendiri secara utuh.  Dengan pernah bersama kekasih, saya belajar bersyukur atas momen-momen kebahagiaan walaupun itu semua hanya tinggal kenangan.

Mungkin saya belum bisa bilang bahwa saya sudah baik-baik saja. Saya belum berani berkata saya tidak lagi merindukan kekasih. Saya tidak akan cemburu melihat kebersamaan teman-teman SMA saya tanpa saya lagi di dalamnya, atau tidak lagi menuliskan puisi-puisi rindu tentang masa lalu. Namun setidaknya saya sudah tahu tempatnya. Apa yang sudah terjadi, letaknya di sana, di masa lalu. Tidak lebih. Ia bukan sesuatu yang sengaja dirancang begitu saja, bukan cuma penambah-penambah pengalaman, dan malam itu, bersama-sama saya mengingatnya barang sejenak dan bergembira akannya. Saya terbayang sebuah kardus lama di kolong tempat tidur. Kardus yang menyimpan benda-benda masa lalu yang tidak lagi digunakan. Saat membukanya, kau akan menemukan kembali buku-buku lama, celengan berdebu, mainan yang tidak lagi utuh,  uang yang terselip, foto-foto, surat cinta, corat-coret dari masa kecil, lalu tersenyum haru akannya. Kini ia menghadirkan lagi potongan-potongan dari masa lalu yang saya kenang dengan indah. Namun setelah semua benda sudah saya usap dengan hati tidak tertahankan, saya akan mengembalikannya lagi ke dalam kardus, menutupnya dengan perlahan, dan menaruhnya lagi di kolong tempat tidur, dan hidup kembali berjalan.




PS: Saat menulis cerita ini, saya ditemani segelas kopi dari kedai yang baru pertama kali saya kunjungi sambil ditemani lagu yang menurut saya cocok sekali sebagai soundtrack tulisan ini. Coba didengar ya, barang kali kalian juga suka. 

Terima kasih untuk Asa Sabu atas lagu Sebentar Saja. Indah sekali maknanya.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup