Tentang Natal Yang Tidak Pernah Berubah


Hari ini saya bangun pukul sebelas siang, itu juga karena diteriaki Mama untuk segera bangun. Tentu saja ini di luar dari kebiasaan sehari-hari saya yang sudah beraktivitas bahkan sebelum ayam jago tetangga berkokok. Saya mencuci muka, merapikan tempat tidur, berolahraga, dan setelahnya membereskan rumah. Di rumah kami, pekerjaan rumah tangga dibagi berdasarkan lantai. Lantai bawah dikerjakan oleh adik perempuan saya, dan lantai atas dikerjakan oleh saya sendiri. Sedangkan Kakak dan Mama bergantian mencuci pakaian atau memasak saja. Adik laki-laki saya yang paling kecil kedapatan menyikat halaman depan pada setiap akhir pekan agar tidak licin karena dipenuhi lumut.

Pukul satu siang setelah selesai mandi, saya masih melihat Mama sibuk memasak di dapur.

"Masak ayam satu ekor yang tadi dikasih Amangboro," ujar Mama saat saya bertanya mengapa ia masih memasak sesiang ini. Sebagai informasi, Mama hanya memasak pada dua waktu saja, seperti pukul enam pagi-sebelum ia membuka toko-dan pada sore hari, setelah ia selesai menjaga toko kami.

Saya masih keheranan sampai akhirnya menemukan berbagai cuitan tentang selamat Natal di media sosial. Segala kebiasaan baru akibat pandemi ini membuat saya lupa rasanya sibuk mempersiapkan perayaan ibadah Natal untuk gereja dan kampus.

Natal tahun ini seperti hari-hari biasa. 

Di rumah pun demikian. 

Keluarga kami baru saja kehilangan Opung Boru (Ibu dari Mama) satu bulan silam yang memaksa Mama untuk pergi ke Medan dalam waktu yang lama. Saya teringat di malam kami mendapat kabar tersebut. Mama tidak menangis, ia diam dan langsung berdoa. Saya tahu betul betapa hancur hatinya mengingat sudah beberapa tahun Mama tidak berjumpa dengan Opung, dan akhirnya bertemu untuk berpisah selama-lamanya. Kaka juga sudah satu bulan tidak bersama kami karena menemani keluarga kekasihnya yang baru saja berduka karena kehilangan. Kejadian tersebut sangat membuat kami terpukul. Rasanya hancur tidak bisa menemani orang yang kami kasihi disaat-saat yang mungkin merupakan paling berat dalam hidupnya. Ketidakhadiran Kaka juga membuat sebagian kebiasaan di rumah kami hilang, seperti memasang pohon Natal bersama, memanggang kue, dan bertukar kado; mengingat hanya dia yang paling semangat dan berinisiatif melakukan hal-hal tersebut di rumah. Lagi pula saya juga masih tidak bersemangat untuk merayakan apa pun di samping saya juga tidak menyukai sebuah pesta. Beberapa hari lalu, saya menerima kabar berpulangnya salah satu kaka kelas SMA saya. Kaka kelas yang saya kenal baik, dan punya andil dalam kehidupan anak gadis yang dulu masih memakai rok abu-abu tujuh tahun silam.

Hanya saja Mama masih semangat memasak ayam untuk hidangan makan malam Natal kami. Ia masih saja bersemangat membereskan rumah, membuang buku-buku yang tidak terpakai, mengecat ulang tembok-tembok yang sudah rusak, bahkan pergi ke toko kue untuk dibagikan ke beberapa tetangga di kanan-kiri rumah. Mama seperti tidak kehabisan alasan untuk tetap bersukacita di tengah banyak kabar duka yang ia terima di penghujung tahun ini.

“Tidak ada yang berubah, kasihNya tetap sama, dulu, sekarang, sampai selama-lamanya” ujarnya saat saya hanya diam melihat tangannya yang masih kuat bergerak memegang kuas cat.

Aku mengimani perkataan Mama. Tidak ada yang berubah tentang Natal meskipun tidak bisa beribadah di Gereja.Tidak ada yang asing meski tidak bisa bersalam-salaman, tidak bisa berkujung ke rumah saudara, tidak bisa berkumpul dengan Kaka di rumah. Saya teringat kepada khotbah Pendeta di malam Natal beberapa tahun silam. Katanya Natal bukanlah sebuah perayaan. Bukan tentang memakai baju baru, bukan soal makan malam di restoran sambil bertukar kado, bukan juga soal hiasan Natal di seluruh pusat perbelanjaan. Natal bukan tentang kemewahan, justru sama seperti Anak yang lahir di kandang domba, Natal adalah sukacita dalam kesederhanaan.

Pandemi tidak mengubah apapun tentang Natal, sebaliknya ia menyadarkan kembali makna Natal dalam bentuk aslinya.

Natal tidak pernah berubah. 
Sukacitanya nyata karena masih ada kesempatan untuk berbagi kue natal dengan tetangga,
Riangnya masih ada karena tetap bisa bertukar kabar dengan teman dan saudara,
Berkatnya terus mengalir karena bisa membeli kue kering dari teman kuliah yang baru merintis usaha kue keluarganya,
Damainya terasa karena masih bisa bertemu kembali dengan kawan-kawan yang sudah tidak pernah tahu kabarnya, dan masih banyak hal-hal kecil lainnya yang mendatangkan kebahagiaan.




Natal masih sama; dan gemerlap pohon natal digantikan terang bintang di langit malam.

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup