Tentang Bulan yang Padat dan Garis Hitam di Bawah Mata

Saya akan mengenang bulan Maret sebagai bulan dengan banyak air mata, sedikit rona merah di wajah, sekaligus garis hitam di bawah mata. Jika diingat-ingat, ini adalah bulan terpadat semenjak saya tidak lagi menyandang status mahasiswa. Maret berlalu tanpa jeda. Soal pekerjaan, juga hal-hal lain. Ia dimulai dengan persiapan wisuda universitas secara daring. Jangan salah sangka, pandemi tak membuat segala persiapan menjadi lebih mudah. Saya masih harus mencetak skripsi, mengumpulkan fisiknya ke perpustakaan kampus, dan memberikan banyak foto sebagai keperluan kelulusan. Hari-hari yang dihabiskan dengan mondar-mandir saja.

Namun, bukan itu yang benar-benar hendak saya bahas. Di bulan itu juga, saya dan teman-teman kantor sedang mempersiapkan kelahiran anak ke dua kami. Yang pertama, rumah baru di Pejaten Barat, tempat yang hari-harinya kami gunakan untuk bekerja, dan yang ke dua adalah sebuah acara dengan nama: Penyegaran Akhir Pekan, yakni bazar untuk berbagai brand local. Jika diceritakan prosesnya, anak-anak kami bisa dibilang lahir secara prematur; muncul di tanggal yang tidak seharusnya, dikerjakan kilat layaknya pencuri yang mencuri di malam hari, belum lagi berlomba-lomba dengan target. Meski demikian, sama seperti orangtua, kami tetap berupaya memberikan yang terbaik dan menyambut sisa-sisa hari penuh sukacita. 

Di sela-sela kesibukan membongkar barang dan  menyesuaikan product list, muncul sebuah ide menulis jurnal dari Kak Arin. Setelah semua menyelesaikan pekerjaan, kami duduk bersila membentuk lingkaran kecil di atas karpet lusuh ditemani matahari sore. Mula-mula, Kak Arin menginstruksikan kami untuk memejamkan mata, menarik napas, dan menghembuskannya pelan-pelan yang baru saya ketahui kelak untuk mengunci pikiran agar kami tenang dan kembali fokus setelah seharian bekerja. Setelahnya Kak Arin meminta kami menuliskan beberapa hal, seperti fakta tentang diri kami, hal apa yang paling kami suka juga kami rindukan, tentang kelebihan, sumber inspirasi, bahkan kehidupan seperti apa yang kami idam-idamkan. Pertanyaannya memang detail sekali, mengingat manfaat dari menulis jurnal sendiri adalah mengatasi stress, meningkatkan suasana hati, bahkan membantu memetakan kembali tujuan-tujuan.

Sore menjelang malam itu, kami menangis, memeluk, namun perasaan kami lega. Seusai menulis, kami saling bercerita tentang perasaan kami masing-masing. Kak Sara, si multitaksing dan periang meneteskan air mata. Sesi kali ini mengingatkannya kepada hobi yang telah lama ia tinggalkan. Satu-satunya kegiatan dan pelarian untuk memulihkan dirinya dari segala perasaan tidak menyenangkan, masalah remeh-temeh masa remaja, serta harapan yang tidak pernah ia suarakan kepada orang lain. Sofia, si gadis cantik nan ambisius, malu-malu menyeka air matanya. Ia bercerita tentang beban yang ia panggul. Layaknya anak muda yang beranjak dewasa ̶ ia dikejar oleh ekspektasi keluarga, keinginan diri sendiri, hingga kisah cinta yang terlalu rumit. Soonja, si pemalu yang banyak menyimpan ide-ide brilian juga bercerita tentang masa remajanya yang lebih banyak ia habiskan dengan berdiam diri di rumah, soal pekerjaan idaman yang melenceng dari jurusan kuliah, dan kesehatan jasmani yang sedang ia usahakan. 

Soal ini, perihal pentingnya berbicara dan bertemu dengan diri sendiri mengingatkan saya kepada percakapan ketika kami sedang rehat dengan membuat kerajinan dari polimer tanah liat beberapa waktu silam. Sebagai orang awam, kami semua fokus menatap layar Youtube, berusaha mencontek orang-orang yang dengan baik hatinya memberikan pelajaran seni di luar sekolah.

"Pandemi membuat manusia beradaptasi dari apa pun yang membuat mereka terancam" ujar Kak Sara.

"Setidak-tidaknya, pandemi menyisakan banyak pembelajaran Kak. Rehat dengan cara berkreasi seperti ini ternyata melegakan" ujar saya yang tangannya masih dilumuti polimer. Kami semua tertawa menatap buah karya kami. Ada yang alasnya terlalu tipis, ada yang gambarnya seperti gigi bungsu, ada yang menyerah, tapi selalu ada yang berhasil. Siapa sangka, bahkan setelah event Penyegaran Akhir Pekan usai, kami menemukan produk-produk dari bahan yang sama, tentu saja yang jauh lebih bagus dari karya kami, yang mungkin lahir karena bentuk pelarian, yang sengaja dibuat demi mempertahankan kewarasan.




Sekali lagi, saya hendak mengucapkan terima kasih untuk orang-orang yang sudah saya anggap seperti keluarga. Saya percaya, intim dalam dunia profesional tidak melulu buruk. Beruntung sekali bertemu dengan orang-orang yang mau terbuka akan dirinya, sebab saya mengimani bahwa keterbukaan adalah awal dari pemulihan dan pertumbuhan. Terima kasih kepada Kak Arin yang pada Selasa waktu itu menginisiasikan untuk menulis jurnal, juga kepada Kak Sara yang tak henti-hentinya mengajak kami melakukan hal-hal ajaib. Entah sejauh apa dampaknya, namun di bulan lalu akan saya kenang sampai waktu yang panjang. Ia tentang rutinitas yang itu-itu saja, tentang pekerjaan segudang namun tentang hari-hari yang berusaha dijalankan dengan lambat. Kawan yang menciptakan senyum senang, perkembangan, dan pengenalan akan diri sendiri. 

Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup