Hari-hari di kedai kopi.
Pada tahun kedua di bangku SMA, saya sedang keranjingan bermain Instagram. Pada saat itu Instagram sudah berusia lima tahun sejak pertama kali muncul di Indonesia. Tertinggal jauh memang, maklum, karena pada tahun tersebut saya baru bisa memiliki handphone yang mumpuni untuk mengakses media sosial.
Pada tahun yang sama pula, saya mulai berani nongkrong di luar dari "rumah teman" dengan tujuan mendapatkan foto yang bagus untuk diunggah di Instagram pribadi. Pengaruh besarnya tentu saja dari foto-foto yang saya lihat di Instagram. Kalau kalian familiar dengan nama-nama Evita Nuh, Vetty Anggraini, Bubu Maika, dan Sonny Hosea, mereka adalah role model saya dalam menentukan tema konten yang akan saya unggah di Instagram. Kalau tidak salah ingat, mereka juga merupakan blogger angkatan pertama sebelum akhirnya Instagram benar-benar meledak dipakai oleh orang banyak.
Keinginan saya disambut baik karena kebetulan saya berteman dengan orang-orang borju yang mau-mau saja diajak nongkrong ke kedai kopi, apalagi anak sekolah dulu lebih familiar dengan mall dibandingkan dengan tempat nongkrong lain. Kedai kopi pertama yang saya kunjungi adalah Kedai Locale di daerah Rawamangun yang bangunannya masih kokoh berdiri sampai sekarang. Saya ingat betul kopi gayo pertama yang saya teguk itu.
"Pahit banget ya?" tanya Michael yang disambut dengan gelak tawa setelah jidat saya berkerut begitu rapatnya.
Sejak saat itu saya mulai bersahabat dengan manual brew, espressso, dan jenis-jenis kopi yang sampai sekarang belum saya pahami betul namun terlanjur menikmati sensasi kafein yang mengalir di tenggorokan. Sisanya berlangsung begitu cepat. Saya sudah mengunjungi ratusan kedai kopi sampai tulisan ini terunggah di laman blogger saya.
"Jangan main ke sana, si A udah pernah kan," begitu kalimat yang sering dilontarkan oleh teman SMA saya tiap kali kami menentukan sebuah tempat untuk nongkrong yang ujung-ujungnya tentu saja untuk pamer di media sosial. Tidak ada ukuran tertentu dalam penilaian kami, tapi minimal tempat tersebut belum pernah dikunjungi oleh teman-teman sekolah supaya kami jadi orang pertama yang datang ke sana dan keesokan harinya di sekolah mereka akan mewawancarai kami seolah-olah kami menemukan lokasi harta karun yang selama ini dicari.
| Mikkro Espresso |
Lambat laun kebiasaan untuk nongkrong di kedai kopi hanya supaya terlihat keren tidak pernah terlintas lagi dibenak saya. Saya lupa persis alasannya, mungkin saya jenuh layaknya rutinitas yang setiap hari dilakukan dan membuat kita bosan. Hanya saja urusan main ke kedai kopi tidak pernah berhenti.
Saya jadi ingat lagu "falling in love at coffee shop" yang bercerita tentang seseorang yang jatuh cinta pada kedai kopi bukan pada orang yang ia temui di kedai kopi. Bahkan diceritakan bahwa tidak ada yang mengerti si tokoh lebih dari kedai kopi yang ia kunjungi. Saya pikir, bagaimana orang bisa jatuh cinta pada kedai kopi? Kedai kopi itu sebuah ruang publik, ruang usaha milik orang lain, yang asing, dan tidak setiap hari kita tinggali. Saya sering mendengar bahwa orang kerap rindu mengunjungi tempat tertentu, misal ketika mereka memiliki kenangan manis saat berlibur dengan teman atau kekasih, tapi ini kedai kopi, di mana orang silih berganti berkunjung ke tempat ini, mengonsumsi kopi sebagai gaya hidup, dan ya... kembali melanjutkan kehidupan mereka sampai saya yang mengalami itu sendiri.
Melalui kedai kopi saya bertemu Kak Rendy yang selalu tersenyum di balik bar tiap kali pintu kayu Fillmore dibuka. "Hai, gimana kabarnya?" sapanya dan kami akan bertukar cerita singkat untuk kemudian tenggelam dalam musik yang diputar olehnya. Kak Rendy juga orang yang sama yang membantu menyebarkan kuesioner tugas akhir skripsi saya kepada komunitas barista yang diikutinya. Dalam satu malam jumlah responden saya bertambah seratus dan tak ada satupun yang tidak memenuhi kualifaksi.
Saya juga mengalami banyak tahapan hidup yang penting di kedai kopi: dapat notifikasi diterima di tempat magang pertama kali, submit sidang skripsi S1, menulis cerita, ngumpet karena menghindari orang, ketawa tidak terkontrol, curhat kehidupan dengan sahabat, menangis seharian karena patah hati, apply ke berbagai kerjaan, hingga sekarang, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Pada hubungan terakhir dengan kekasih, kami rutin mengunjungi Kopi Kalyan yang waktu itu masih memiliki satu gerai di daerah Cipete. Kedai kopi dengan sepasang anjing yang besar dan lucu punya sang pemilik kedai. Biasanya kami baru sampai pukul empat sore setelah jam kuliahku usai. Kami akan memesan dua kaleng kopi susu dan kentang goreng yang ditaburi keju leleh, lalu mengerjakan tugas kuliah kami masing-masing atau mengobrol tentang apa saja sampai malam.
Di Seroja saya diramal tentang kehidupan percintaan saya dengan seorang sahabat yang membawa kepada pertemanan baru dengan Kak Ifal dan Kak Rio dan rutin mengunjungi mereka setiap minggunya.
Pada awal tahun 2022, saya secara tidak sengaja bertemu dengan Kak Yere dan Kak Chris di Dua Tebet sesaat setelah saya beranjak dari kursi untuk pulang. Mereka adalah senior saya di kampus dan itu adalah pertemuan pertama kami setelah dua tahun. Kami mengobrol banyak hal, tentang keseharian, tentang kekalahan Timnas Indonesia melawan Thailand, dan tentu saja masalah-masalah yang bisa dibagikan. Saya ingat benar, saat itu saya sedang sedih-sedihnya karena pekerjaan, dan tak ada yang lebih melegakan selain didengar dan diberi nasihat oleh orang yang kamu percaya.
Dan masih banyak lagi soal pertemuan dan percakapan hangat dengan orang-orang yang sengaja maupun tidak sengaja bertemu dengan saya di berbagai kedai kopi. Barangkali memang benar adanya bahwa Tuhan menciptakan kopi supaya kita semua bisa berteman.
Meski pandemi masih membuat siapa saja gelisah, namun Jakarta mampu bertahan dengan ragam penyesuaian. Di antara lesunya kota, saya menemukan harapan, keindahan kecil dalam sebuah ruang publik yang dihadirkan oleh orang yang mungkin membangun kedai kopi demi mendapatkan uang dan pengakuan. Terserah mereka juga, yang penting saya masih bisa minum kopi enak atau makan cireng goreng dari kedai kopi sambil menikmati waktu yang bergerak lamban, dari kedai kopi di seluruh jalan yang bisa saya temui di penjuru kota.
Salam hangat untuk Sonny Hosea
ReplyDeleteHai! sayangnya saya juga hanya follower Sonny Hosea hehehe. Sama-sama sering ngikutin dia ya di Instagram?
Delete