Catatan Soal Me Time
![]() |
| Sama Dengan Coffee, Kalibata |
Saya memiliki minggu-minggu yang berat dalam satu bulan terakhir. Energi saya seolah-olah hanya cukup untuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan rumah mengingat keputusan ibu untuk tidak lagi memakai IRT sejak ayah meninggal demi mengurangi pengeluaran bulanan. Dalam rentang waktu tersebut saya juga sedang jarang berkomunikasi dengan teman yang biasanya rutin bertemu satu sampai dua kali dalam sepekan untuk sekadar ngopi setelah kerja atau makan malam. Saya merasa sendirian, namun juga enggan beromong-omong dengan teman. Suatu waktu saya bertanya kepada rekan kerja aktivitas yang mereka lakukan pada akhir pekan saat tidak sedang berkumpul dengan teman atau keluarga, bahasa kerennya me time. Dari banyaknya jawaban, saya belum pernah me time ke salon selain potong rambut bulanan— keharusan alih-alih rutinitas menyenangkan— karena rambut saya kering dan bercabang. Tanpa banyak pertimbangan saya memutuskan pergi ke salon untuk me time sebagai destinasi awal.
*
Ojol yang saya tumpangi berhenti di depan parkiran motor apartemen Kalibata, dan saya masih harus berjalan kaki menuju tower Damar— lokasi salon yang sudah di booking satu hari sebelumnya. Meskipun plang toko tidak terlihat, poster serta handuk warna-warni yang dijemur memudahkan saya menemukan Helwah Salon meski belum pernah berkunjung sebelumnya. Saat menggeser pintu, seorang perempuan langsung muncul di balik tirai dan mempersilahkan saya masuk.
'Kak Lia ya yang mau keratin rambut?' sambutnya dan saya mengangguk tersenyum. Di tengah-tengah perawatan, perempuan tadi yang juga melayani saya bertanya ‘Biasa perawatan di mana Kak?’
Saya menatapnya melalui cermin di hadapan saya. ‘Di tempat langganan ibu untuk potong rambut bulanan aja Kak, karena rambut saya bercabang. Ini pertama kalinya treatments’
Ia mengangguk, ‘Kamu masih sekolah atau udah kerja?’ tanyanya lagi sambil mengoleskan krim yang memberikan sensasi dingin di kulit kepala.
‘Sudah kerja, Kak’
‘Kalau masih ada budjetnya sisain untuk perawatan rambut aja Kak. Punya rambut gak kering dan mudah diatur bisa jadi terapi sendiri loh,’ ujarnya sambil memijat-mijat kepala saya. Saya tersenyum menyetujui kalimatnya.
Setelahnya, saya makan di rumah masakan padang sambil menenteng krim masker rambut yang katanya bisa bikin rambut halus dan lembut. Mungkin bagi saya itu hanya akal-akalan supaya produk mereka laku, tapi saya sedang tidak peduli, kali ini saya mau totalitas melakukan misi pribadi yang saya buat serba dadakan itu. Saya makan dengan lahap, bahkan saya menambah satu telor dadar lagi dan kaka penjaga menyambut senang. Daftar aktivitas me time selanjutnya adalah membaca buku, kebetulan ada kafe yang lama tidak saya kunjungi, di tower yang sama dengan tempat saya makan tadi.
Interior Sama Dengan Coffee belum banyak berubah, bar kopi masih berdiri di sebelah kanan pintu masuk, di sebelah kirinya berjejer meja dan bangku kayu. Di sebelah saya duduk, ada seorang bapak tua yang sedang membaca koran, sedangkan di hadapan kami ada seorang laki-laki muda sedang bermain game di ponselnya dan seorang gadis yang sedang telponan.
Dari lima meja, ada empat yang terisi dan semuanya sedang sendirian. Mungkin, semua orang di tempat tersebut juga sedang me time seperti saya. Wajah mereka serius, kadang tertawa terbahak-bahak, dan beberapa kali mengerutkan kening. Jelas sekali mereka benar-benar menikmati momen me time mereka: membaca buku, bermain mobile games, bahkan memanfaatkan handphone sebagai alat komunikasi dua arah yang memungkinkan kita terhubung dengan orang lain di manapun sambil menyesap kopi di hadapan mereka. Hal yang tidak lagi saya nikmati beberapa tahun silam. Sejak putus dengan kekasih, saya masih takut pergi sendirian. Terkadang saya masih panik melihat orang-orang bergerombol di kafe, linglung karena tidak ada teman mengobrol, dan merasa jadi makhluk paling kesepian ketika berada di transportasi umum. Me time atau jalan-jalan sendirian bukan hal yang dekat dengan saya sebab dulu apapun kegiatannya akan ada kekasih di samping saya.
Momen tersebut membawa saya kepada cerita seorang sahabat yang baru saja putus di usia empat tahun pacaran mereka. Ia dengan penuh kesadaran memutuskan untuk berpisah. ‘Apa kau menyesal?’ ia menggeleng. Sahabat saya tidak perlu merasa repot-repot mempertahankan seseorang yang tidak memiliki visi dan misi yang sama dengannya. Tak merasa perlu bertahan karena menyayangkan usia pacaran yang lama serta takut merasa kesepian. Saya tidak melihat keangkuhan dari sikap dan suaranya, justru karena penilaian akan dirinya yang kuat memampukan ia melanjutkan hidup: bekerja dan berteman dengan dirinya sendiri— joging di GBK, perawatan rambut, many pady, waxing di salon dan sesekali nongkrong dengan keluarga dan teman-temannya.
Ternyata sendirian gak buruk-buruk amat. Dengan menghabiskan waktu bersama diri saya sendiri, menyadarkan apa-apa yang sebetulnya penting namun tidak terpikir oleh saya sebelumnya; merawat rambut ke salon karena terlalu sering di styling, memanjakan perut dengan makan makanan kesukaan, atau bahkan menyegarkan pikiran saya dengan bertemu cerita-cerita baru dari buku atau film. Kegagalan hubungan seharusnya tidak membuat saya berjarak dengan diri saya sendiri, melainkan semakin memahami bahwa sebelum membangun hubungan yang kuat dengan pasangan, saya harus mandiri dan memahami diri saya. Yang mana sikap mandiri dan pemahaman diri tersebut dibangun dari mentalitas bahwa saya layak bahagia, saya pantas untuk dicintai, dan itu termasuk melakukan hal-hal yang membuat saya merasa lebih baik— merawat tubuh, melakukan hobi, mengembangkan karir, dan menjalin pertemanan sehat.
Mungkin saya masih harus lebih banyak mengobrol dengan diri saya, mencari tahu apa yang saya inginkan dan butuhkan di waktu-waktu sekarang dan mendatang. Namun hanya dengan sekali mencoba me time saja perasaan saya sudah hangat, saya mau terus melakukannya, sampai-sampai saya sudah merasa cukup dengan diri saya sendiri supaya bisa memahami dan mencintai orang lain dengan lebih baik karena saya tidak mendambakan kehadiran dan pengakuan orang lain di luar diri saya.
Saya mau melakukan lebih banyak lagi bersama diri saya: jalan-jalan ke museum, nonton stand up comedy, ikut komunitas Baca Bareng, dan rentetan daftar keinginan lainnya yang bisa jadi baru akan terealisasi tahun depan, dua tahun setelahnya, atau lima tahun setelahnya sambil menunggu keberanian dan kesiapan diri saya. Saya akan terus belajar memahami dan mencintai diri saya meskipun itu akan seperti perjalanan panjang yang berlangsung terus menerus, tanpa akhir untuk memilih diri saya berulang-ulang. Saya akan belajar mencintai diri saya dengan memilih untuk memilih diri sendiri daripada orang lain, daripada masa lalu dan pengalaman buruk saya.

Comments
Post a Comment