Seperempat Abad

Twitter, akhir-akhir ini sedang ramai membicarakan tweet soal flexing.

Keributan dimulai oleh cuitan seseorang yang meminta warganet menceritakan pencapaian mereka. Begini kira-kira bunyinya: "Please pamerin ke aku semua kepunyaan duniawi dari hasil jerih payah dan keringat kalian. I am happy to see hard working people get things they want."

Sejak tulisan ini terbit, tweet tersebut sudah mendapatkan 6.227 retweets, 9.595 quote tweets, 25.400 likes, dan 236 komentar yang isinya tentu saja tidak melulu menjawab pertanyaan si pembuat tweet, alih-alih mengomentari pencapaian orang lain yang sebagian besar berupa barang yang baru bisa dibeli entah barang masa kecil yang tidak tergapai karena ekonomi keluarga atau barang yang dibeli karena bagus saja bukan pencapaian karir, wawasan, atau sejauh apa kita menjalani dan mendalami hobi kita. 

Meskipun sudah secara sadar menolak narasi standar pencapaian yang harus dimiliki orang usia 25 tahun, saya sedikit tersentil membaca jawaban warganet, yang syukurnya masih didominasi perasaan senang dan sedikit berharap bahwa saya juga akan memiliki nasib yang sama baiknya dengan mereka. Tidak mau ketinggalan, saya membawa topik tersebut untuk dibahas bersama teman-teman saya. Sebagai orang yang aktif bermain media sosial, saya tetap lebih nyaman membahas topik-topik yang sedang hangat secara langsung bersama teman-teman saya untuk mendapatkan jawaban yang lebih komprehensif dan tentunya membuat saya lebih leluasa berpendapat jika saya mengeluarkan celetukan-celetukan bodoh yang mungkin bisa jadi bahan rujakkan warganet.

"Ngomong-ngomong soal pencapaian beli barang a dan barang b, berapa sih pengeluaran kalian dałam sebulan?" ujar saya waktu itu. 

Di antara kami bertiga, saya menduduki peringkat pertama dengan pengeluaran terbesar di antara dua teman laki-laki saya. Saya mengelak dan menuding mereka tidak jujur. Saya mengabsen satu-satu gaya hidup mereka dan branded brand yang sedang dipakai yang bagi saya tidak murah.

"Pengeluaran terbesar gue itu di makanan. Malam ini aja kita bisa makan dua ratus ribu per orang. Coba kalau disuruh beli baju harga seratus lima puluh ribu, ogah gua" ujar seorang kawan.

"Kalau gue apasih, paling juga nge-gym. Itu juga gue pilih gym yang promo. Kalau jajan mah jarang, paling sama kalian doang. Kalau belanja apalagi, baju gue ini-ini aja" ujar kawan saya yang lain. "Lo sih li, ngejar apa sih di dunia. Stress dikit belanja, pusing dikit nyalon. "Hidup tuh dijalanin aja apa yang di depan mata. Ngapain liat orang lain. Liat kita, tujuan kita simple-simple aja, olahraga buat kurus dan bentuk badan, bukan omong kosong pengen sehat. Sehat mah bonus. Kerja sewajarnya aja kalau belum selesai meskipun udah jam pulang, ya gak perlu diperlu dilanjutin. Masih ada besok" kelakarnya.

Saya tertawa mendengar respon tersebut. 

"Lu liat barang baru di Instagram, dibeli. Orang lain nyoba sesuatu, ikutan. Belum kebiasaan lu coffee hopping ke sana, ke sini. Ada event lokal, dimampirin terus belanja pula. Belum ngutek di salon. Wah banyak dah" mereka mengabsen satu-satu kebiasaan saya. 

"Loh, kalau uangnya ada emang kenapa?" bantah saya.

"Bukan soal uangnya. Ini tuh soal kebiasaan. Stress sedikit pelariannya belanja. Jangan apa-apa ikut suara terbanyak. Lihat kebutuhan diri lo sendiri."

Saya tidak membantah celetukan teman-teman saya. Karena kalau dipikir-pikir, ucapan mereka juga tidak salah. Tapi jika saya boleh membela diri, saya mengakui ada kesenangan tersendiri saat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi UMKM: beli kopi di gerai-gerai kopi lokal, treatment di rumah perawatan kecantikan yang lokasinya di gang-gang, jajan ciki di warung, belanja di toko online yang pengikutnya masih 300 orang, dan masih banyak lagi. Rasa-rasanya semua orang sedang berusaha berjuang bertahan hidup, termasuk saya, dan karena kita sedang berjuang dengan cara masing-masing, saya mau berkontribusi dengan membeli produk mereka karena dengan unboxing belanjaan sedikit banyak membuat saya memiliki tujuan. Jika dirasa jawaban saya terlalu filosofis, saya juga tidak mengingkari ada kemenangan kecil ketika saya mampu mengatasi tekanan dengan membeli barang-barang yang kalau kata teman saya hanya ikut-ikutan aja.

Saat menulis ini saya jadi tahu jawaban dari kepunyaan duniawi yang sepatutnya saya rayakan, yakni kualitas pertemanan yang baik, di mana saya masih bisa curhat-curhatan dengan teman-teman di seluruh jenjang pendidikan saya, di mana saya diizinkan jadi diri saya sendiri, didengar, dan dinasehati. Bahkan saya dapat melihat pertumbuhan dan pencapaian teman-teman saya, kebiasaan baik yang baru mereka mulai, mendukung mereka untuk konsisten menjalaninya, dan tidak lupa mongolok dan mengejek jika mereka melakukan hal-hal konyol di luar nalar.

Pencapaian versi saya yang disebutkan di atas tentu bukan untuk mengkerdilkan pencapaian orang lain, apalagi ingin dilihat sebagai orang yang anti mainstream. Terimalah cerita saya sekadar sebagai upaya memperhitungkan hal-hal yang saya miliki yang mungkin tidak bisa dinilai dengan uang dan tidak bisa diukur besar kecilnya. 

Tulisan ini saya tutup dengan kalimat seorang teman ketika kami sedang bertukar kabar melalui pesan singkat. 

"Jangan terlalu ngejar kehidupan, karena gak ada habisnya. Jalanin santai dan seadanya aja. Karena hidup mana yang lebih layak dijalani dari merasakan hidup itu sendiri."



Comments

Popular posts from this blog

[Ulasan Buku] - Museum Teman Baik

Barangkali

Memaknai Hidup