Hello Blogger~
Saya hendak tidur, ketika menulis catatan ini. Tidak ada patah hati seperti curhatan-curhatan sebelumnya, hanya kerinduan untuk menulis atau barangkali karena kebosanan akibat rutinitas kerja. Dua bulan terakhir saya memiliki pengalaman baru— melakukan business trip hampir setiap minggunya di kota yang berbeda bersama orang-orang baru.
Sebagai orang yang tidak suka berpergian, kerja di luar kota dengan orang yang tidak saya kenal (tentunya juga tidak mengenal saya) merupakan mimpi buruk. Benar saja, saya harus mengatasi mabuk perjalanan saya seorang diri, mengurus badan yang sakit sambil tetap mengatur pekerjaan.
Di tengah caurnya jam kerja, ada satu buku yang menarik perhatian saya, berjudul Indonesia Dari Pinggir, karya jurnalis Fatris MF yang tak asing namanya. Buku ini saya temukan di Post Santa, toko buku mungil di tengah pasar yang memiliki sejarah manis pada masanya. Buku ini menemani saya bekerja di Malang, tentang perjalanan Fatris bermain ke Indonesia bagian timur.
Pengalamannya mengingatkan saya tentang betapa hidup isinya merupakan satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, dan diantaranya adalah berpijak dari satu kota ke kota berikutnya. Meninggalkan rumah untuk merasakan pengalaman baru, mengabaikan kehidupan yang nyaman untuk belajar apa yang tidak ditemukan sebelumnya. Dan buku ini bercerita, tentang masa lalu, trauma, kebiasaan yang tidak lagi relevan, dan sesudahnya hidup harus tetap berjalan.
Buku ini juga mengingatkan saya pada hidup saya sendiri, tentang perjalanan saya yang tidak melulu sesuai rencana. Saya pikir, setelah memutuskan resign dari kantor lama, saya akan menemukan pengalaman dan lingkungan yang menyenangkan—hal yang sulit saya dapatkan di tempat sebelumnya. Nyatanya, sama saja, buruknya saya harus beradaptasi lagi dengan lingkup kerja dan lingkungan yang sama sekali berbeda dari tempat lama.
Saya masih goler-goler di tempat tidur, dan menyadari bahwa saya masih belum cukup dewasa, namun tetap mengupayakan yang terbaik, berjalan meskipun banyak pertimbangan. Seperti masyarakat Lamalera di buku Fatris MF yang tidak butuh listrik di siang hari karena ada matahari— seimbang kata mereka, begitu juga saya, melihat ketidaksesuaian rencana sebagai perjalanan, melihat pengalaman buruk sebagai penyeimbang untuk pengalaman baik di masa mendatang.
Comments
Post a Comment